26 C
Sidoarjo
Tuesday, March 3, 2026
spot_img

Forum Internasional UMSura Serukan Perdamaian Dunia


Surabaya, Bhirawa
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) menyerukan perdamaian dunia melalui forum kuliah umum internasional yang menghadirkan akademisi asal Iran, Dr. Amir Rezaei Panah. Kegiatan ini menjadi sikap moral kampus dalam merespons eskalasi konflik internasional yang kian memanas.

Dalam forum bertajuk “The Document of Civilizational Cooperation of the Islamic World as a Roadmap for the Future”, Dr. Amir mengajak dunia Islam menyusun Piagam Kerja Sama Peradaban sebagai peta jalan menuju masa depan yang damai dan berkeadilan. Ia menegaskan pentingnya arah dan strategi yang jelas untuk membangun kembali kekuatan dunia Islam di tengah berbagai tantangan global. Forum ini juga diikuti mahasiswa internasional yang berasal dari Uzbekistan, Pakistan, Yaman, Mali, Sudan, dan Afghanistan.

“Segala sesuatu memerlukan peta jalan, kompas, dan cahaya penuntun. Berjalan dalam kegelapan itu berbahaya dan mahal,” ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa Fakultas Hukum UMSura.

Menurutnya, kemunduran dunia Islam dalam beberapa dekade terakhir dipengaruhi lemahnya rasa percaya diri umat, kurangnya solidaritas internal, serta intervensi kekuatan eksternal. Karena itu, ia mendorong pendekatan berbasis identitas dan peradaban sebagai fondasi kebangkitan.

“Masa depan harus dilihat dari perspektif peradaban, budaya, dan identitas. Perbedaan internal tidak boleh menjadi sumber perpecahan, tetapi dikelola secara bijak dalam kerangka kerja sama peradaban,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya persatuan umat di atas perbedaan mazhab. Baik konsep khilafah dalam tradisi Sunni maupun wilayah (guardianship) dalam tradisi Syiah, menurutnya, harus ditempatkan dalam semangat kolaborasi.

Berita Terkait :  Usai Diperbaiki, Ketua Kwarda Jatim Serahkan Kunci ke Pemilik Rumah

“Umat Islam ibarat penumpang dalam satu kapal besar, jika satu tenggelam, semuanya akan terdampak,” katanya.

Sementara itu, Rektor UMSura Mundakir menegaskan bahwa kuliah umum tersebut merupakan tindak lanjut dari kerja sama internasional yang telah terjalin dengan Iran. Ia menyebut tema hukum internasional dan perdamaian sangat relevan dengan situasi global saat ini. “Tema ini membahas bagaimana hukum internasional berperan dalam menciptakan perdamaian. Saya kira ini sangat relevan dengan kondisi global saat ini,” ujarnya.

Mundakir juga menyoroti konflik internasional yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Ia menyampaikan keprihatinan dan seruan perdamaian sebagai bagian dari tanggung jawab moral insan akademik.

“Tentu sebagai masyarakat kampus dan masyarakat yang cinta damai, kami menyerukan perdamaian global. Kami sangat menyayangkan dan mengecam tindakan agresi tersebut,” tegasnya.

Ia menambahkan, sikap tersebut merupakan bentuk dukungan moral kepada masyarakat Iran serta penegasan bahwa banyak negara, termasuk Indonesia, tetap menjunjung tinggi nilai perdamaian.

“Kami ingin memberikan dukungan kepada teman-teman di Iran bahwa banyak negara, termasuk Indonesia, yang cinta damai dan memberikan dukungan secara moral. Harapan kami, situasi ini bisa segera mereda, tidak berkepanjangan, dan tidak menambah korban,” pungkas Mundakir.

Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum UMSura, Satria Unggul Wicaksana, menilai eskalasi konflik yang terjadi telah melampaui manuver politik dan mengarah pada realitas perang terbuka. Ia menyoroti dampak kemanusiaan yang ditimbulkan, termasuk jatuhnya korban sipil.

Berita Terkait :  Mahasiswa Kritisi Implementasi Program 1.000 Sarjana Kota Batu

“Ketika diplomasi diabaikan dan digantikan oleh kekuatan militer, dunia tidak hanya kehilangan kedamaian, tetapi juga kehilangan akal sehat,” tegasnya.

Satria menambahkan, di tengah situasi tersebut, Indonesia memiliki peran strategis melalui politik luar negeri Bebas-Aktif. Berlandaskan amanat konstitusi untuk turut serta dalam menciptakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, Indonesia dinilai dapat menjadi kekuatan lunak (soft power) yang mendorong penyelesaian konflik secara damai.

Kuliah tamu ini juga diwarnai aksi simbolik penancapan bendera berbagai negara di atas peta dunia oleh pimpinan universitas, akademisi Iran, serta mahasiswa internasional. Ratusan mahasiswa mengangkat bendera negara-negara dunia dan bergandengan tangan sebagai simbol solidaritas global dan komitmen generasi muda dalam menjaga perdamaian dunia.

Penancapan bendera tersebut juga diikuti ratusan mahasiswa Fakultas Hukum UMSURA dengan mengangkat bendera negara-negara di dunia sambil bergandengan tangan sebagai simbol solidaritas global dan komitmen generasi muda dalam menjaga perdamaian. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!