Jakarta, Bhirawa
Pakar hubungan internasional Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam memandang serangan Amerika Serikat bersama Israel ke Iran menjadi ujian kredibilitas Board of Peace atau Dewan Perdamaian.
“Serangan terhadap Iran ini mempertajam kontradiksi antara retorika stabilitas dan praktik militer di lapangan, sekaligus menguji kredibilitas narasi perdamaian melalui Board of Peace (BoP),” ujar Ahmad dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Selain itu, dia memandang serangan kepada Iran tersebut membuat negara-negara Islam yang relatif independen, seperti Turki maupun Indonesia, agar dapat merefleksikan kembali kerja sama dengan BoP.
Sementara itu, dia memandang semua elemen kekuatan dunia perlu mendorong deeskalasi dalam konflik AS-Israel dan Iran tersebut.
Terlebih, kata dia, upaya AS-Israel yang seolah menetralisasi Iran bukan hanya soal menaklukkan satu negara, melainkan langkah proyek rekayasa ulang keseimbangan kekuatan Timur Tengah.
Oleh sebab itu, dia mengingatkan bila yang terjadi di kawasan Timur Tengah dianggap sebagai hal normal dan dunia berdiam diri, maka langkah AS secara mandiri ataupun bersama Israel berpotensi besar menyasar ke belahan dunia lain.
“Termasuk Greenland, Kanada, atau kawasan Eropa dan Amerika Latin lainnya akan menjadi sasaran selanjutnya,” katanya.
Sebelumnya, Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Pada kesempatan berbeda, Presiden AS Donald Trump menyatakan militer AS telah memulai operasi tempur besar-besaran di Iran.
Salah satu serangan AS dengan Israel berupa tujuh roket yang menghantam Teheran, dan dekat dengan kediaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Kemudian Iran meluncurkan serangan roket terhadap Israel, dan sejumlah target lain di Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Bahrain.
Adapun Kementerian Luar Negeri mengatakan Presiden RI Prabowo Subianto siap bertolak ke Iran untuk memfasilitasi dialog demi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif. [ant.kt]


