27 C
Sidoarjo
Monday, February 23, 2026
spot_img

Ramadan, Media Sosial dan Godaan Halus

Oleh:
Aisyah Anggraeni
Mahasiswa S3/Doktor Pendidikan Dasar FIP Universitas Negeri Padang (UNP) Sumbar

Mari kita jujur sejenak. Ramadan hari ini terasa berbeda. Bukan hanya karena menu sahur yang viral atau jadwal buka puasa yang makin mudah diakses, tapi karena satu hal lain yang makin mendominasi: linimasa.

Setiap Ramadan, layar ponsel kita dipenuhi ajakan kebaikan. ‘Tahajud yuk.’ ‘Hari ini sudah juz ke berapa?’ ‘Target Ramadan: tarawih full, Qur’an khatam.’ Semua terdengar baik. Bahkan sangat baik. Tapi justru di situlah kita perlu berhenti sebentar dan bertanya pelan-pelan: kebaikan ini sedang diarahkan ke mana, apakah ke Tuhan, atau ke penonton?

Indonesia hari ini adalah salah satu negara paling digital di dunia. Kini, sekitar 229 juta orang Indonesia sudah terhubung ke internet, lebih dari 80 persen populasi. Dari jumlah itu, sekitar 180 juta aktif di media sosial. Rata-rata orang Indonesia menghabiskan hampir tiga jam per hari berselancar di platform digital. Artinya, apa pun yang kita lakukan, termasuk ibadah, nyaris pasti bersinggungan dengan dunia daring.

Ramadan pun ikut berpindah ke ruang digital. Ibadah bukan hanya dijalani, tapi juga ditampilkan. Bukan hanya dirasakan, tapi juga dibagikan. Masalahnya, media sosial bukan ruang netral. Ia dibangun dengan satu logika utama: terlihat itu penting. Semakin terlihat, semakin dianggap bernilai. Di sinilah persoalan mulai mengeras.

Dalam ajaran Islam, ada satu prinsip sederhana tapi menentukan: niat. Amal apa pun, sekecil atau sebesar apa pun, ditentukan nilainya oleh niat. Dan di sinilah muncul dua penyakit hati yang sejak dulu diperingatkan, tapi kini menemukan habitat barunya: ujub dan riya.

Berita Terkait :  Grade X Vol 6, FIK Ubaya Pamerkan Karya Inovasi Kerberlanjutan

Ujub adalah rasa bangga terhadap diri sendiri karena merasa sudah beribadah lebih baik, lebih rajin, lebih konsisten. Riya adalah melakukan kebaikan agar dilihat dan dipuji orang lain. Keduanya tidak selalu muncul dalam bentuk kasar. Justru sering hadir sangat halus. Bahkan kadang menyamar sebagai niat baik.

Contohnya sederhana. Mengajak orang tahajud itu baik. Tapi ketika ajakan itu selalu disertai dokumentasi (jam bangun, suasana kamar, sajadah, caption reflektif) maka muncul pertanyaan yang tidak bisa dihindari: apakah ini masih ajakan, atau sudah pernyataan tentang diri sendiri?

Media sosial membuat kita terbiasa mengukur diri dengan respons orang lain. Like, komentar, dan share bukan lagi sekadar fitur, tapi menjadi sumber dopamin. Secara psikologis, kita terdorong mengulang hal-hal yang mendapat apresiasi. Dan faktanya, konten religius sering mendapat respons positif. Banyak orang dipuji karena terlihat saleh, konsisten, dan inspiratif.

Di titik ini, ibadah berisiko bergeser fungsi. Dari sarana mendekat kepada Tuhan, menjadi sarana memperkuat citra diri.

Ini bukan tuduhan. Ini mekanisme. Algoritma bekerja tanpa mengenal niat. Ia hanya membaca interaksi. Semakin tinggi engagement, semakin luas jangkauan. Maka tak heran jika tanpa sadar, kita mulai ‘menyesuaikan’ ibadah dengan apa yang layak tayang. Yang sunyi terasa kurang menarik. Yang diam terasa kurang bernilai. Padahal, justru di situlah inti ibadah.

Berita Terkait :  Digitalisasi Sistem Pajak Bapenda Kota Malang Jadi Panutan 98 Anggota Apeksi

Ramadan sejatinya adalah latihan menahan diri. Kita menahan lapar, menahan haus, menahan amarah. Tapi di era digital, ada satu hal lain yang juga perlu ditahan: ego untuk selalu terlihat.

Tidak semua amal harus diumumkan. Tidak semua kebaikan harus dibagikan. Bahkan, dalam banyak ajaran, amal yang tersembunyi justru lebih aman, karena lebih sulit tercemar oleh riya.

Coba renungkan ini dengan jujur: Jika tidak ada story, tidak ada kamera, tidak ada siapa-siapa yang tahu, apakah kita tetap akan bangun tahajud? Jika tidak ada yang memuji, apakah kita tetap membaca Qur’an dengan sungguh-sungguh? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak nyaman. Tapi justru karena tidak nyaman, ia penting.

Dengan 180 juta pengguna media sosial di Indonesia, Ramadan sangat mudah berubah menjadi arena perbandingan diam-diam. Siapa paling rajin. Siapa paling konsisten. Siapa paling ‘religius’ di mata publik. Kompetisi ini jarang diakui, tapi sangat terasa. Dan kompetisi semacam ini pelan-pelan menggeser fokus dari Tuhan ke manusia.

Ironisnya, kita hidup di zaman ketika kesalehan bisa viral. Tapi kesalehan yang viral belum tentu ikhlas.

Ini bukan ajakan untuk meninggalkan media sosial. Dunia digital adalah realitas. Banyak kebaikan disebarkan di sana. Banyak orang tercerahkan, tergerak, dan terbantu. Masalahnya bukan pada platform, melainkan pada kesadaran batin penggunanya.

Yang dibutuhkan adalah kedewasaan spiritual. Kemampuan untuk membedakan kapan berbagi itu perlu, dan kapan diam justru lebih baik. Kemampuan untuk jujur pada diri sendiri sebelum menekan tombol ‘unggah’.

Berita Terkait :  Lima Parpol Bisa usung Bacalon Tanpa Koalisi di Pilkada Bondowoso

Cukup tanyakan satu hal sederhana: apakah aku akan tetap melakukan ini jika tidak ada yang melihat?Jika jawabannya ya, lanjutkan. Jika ragu, mungkin perlu berhenti sejenak.

Ramadan bukan panggung. Ia ruang latihan kejujuran batin. Di tengah dunia yang serba terlihat, justru keberanian untuk beribadah tanpa terlihat menjadi ujian paling berat. Dan mungkin, paling bernilai.

Algoritma menghitung angka. Manusia menghitung pujian. Tapi Tuhan menilai hati. Dan pada akhirnya, yang kita cari bukanlah pengakuan linimasa, melainkan penerimaan dari Yang Maha Mengetahui. Jika Ramadan ini membuat kita sedikit lebih berani untuk diam, sedikit lebih berani untuk tidak memamerkan, dan sedikit lebih jujur pada niat, barangkali di situlah makna puasa benar-benar bekerja.

Karena tahajud yang tidak masuk story, tapi dilakukan dengan hati yang bersih, bisa jadi jauh lebih bermakna daripada seribu unggahan yang dipenuhi tepuk tangan. Sadarlah!

  • Aisyah Anggraeni, S.Pd., M.Pd. adalah mahasiswa Prodi S3/Doktor Pendidikan Dasar FIP Universitas Negeri Padang (UNP) Sumbar; alumni S1 PGSD & S2 Pendas UNP.

————- *** —————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru