26 C
Sidoarjo
Thursday, April 30, 2026
spot_img

Aliran Gas PGN, Hidupkan Api Dapur yang Nyaris Padam


Daya Dukung PGN Perkuat Peta Jalan Swasembada Energi Pertamina

Malam itu, saat hujan mulai mereda aroma gurih lontong balap khas Surabaya tercium kuat dari gerobak Cak Budi di Jalan Dharmawangsa. Kerumunan pembeli tak pernah surut, meski harus membawa payung dan berselimut jas hujan. Namun siapa sangka, di balik senyum ramahnya, Cak Budi menyimpan kisah perjuangan yang nyaris membuatnya menyerah. Bukan karena sepi pembeli, tapi karena harga elpiji yang sempat mencekik usahanya yang membuat api dapurnya nyaris padam.

Oleh:
Wahyu Kuncoro, Wartawan Bhirawa

“Waktu itu, setiap pagi, sebelum buka, pikiran saya sudah mumet duluan mikirin elpiji. Harganya naik terus, belum lagi kadang langka,” kenang Cak Budi sambil mengaduk kuah lontong balap yang mengepul, Sabtu (25/10/25).

Menurut Cak Budi, menghadapi situasi itu, dirinya hampir putus asa karena laba jualan habis buat beli gas dan modal semakin menipis.

Titik baliknya datang saat Cak Budi melihat spanduk sosialisasi PGN tentang gas bumi yang terpasang di salah satu sudut kampungnya. Awalnya, ia ragu. Pikirnya, pasokan gas dari pipa pasti mahal dan ribet. Namun, setelah mendapat penjelasan dari petugas PGN, ia mulai tertarik.

“Mereka menjelaskan bahwa gas bumi jauh lebih hemat, stabil, dan aman. Tidak perlu lagi repot angkut-angkut tabung elpiji,” cerita Cak Budi. Akhirnya Cak Budi pun mencoba mendaftar.

“Prosesnya ternyata mudah dan cepat,” lanjut Cak Budi.

Setelah terpasang, perbedaan itu langsung terasa. Dapur Cak Budi kini tidak lagi dipenuhi tabung gas. Kompornya menyala dengan api biru yang stabil, membuat proses memasak jauh lebih efisien dan hemat. Ia tak perlu lagi khawatir kehabisan gas di tengah kesibukan melayani pembeli.

Kisah tidak jauh berbeda juga dialami Bu Nina, pelaku usaha a katering kue basah di Kawasan Rungkut Lor Surabaya. Di dapur sederhana berukuran 2×3 meter, Bu Nina berjuang mempertahankan usaha katering kue basahnya.

Sudah hampir 15 tahun ia merintis bisnis ini, meneruskan resep turun temurun dari ibunya. Namun, usahanya sempat mengalami situasi yang semakin berat, yakni ketika harga gas elpiji elpiji melonjak tak terkendali.

Berita Terkait :  Beri Waktu Sebulan, BGN Ancam Hentikan Sementara SPPG Belum Mendaftar SLHS

“Untung saya jadi tipis sekali,” keluhnya, sambil mengusap peluh di keningnya.

Hingga suatu hari, seorang tetangganya datang membawa kabar baik. “Bu Nina, coba deh daftar gas PGN. Jaringan gas bumi sudah masuk gang kita,” ujar tetangganya antusias.

Awalnya, Bu Nina ragu. Ia mengira pasokan gas semacam itu hanya untuk pabrik-pabrik besar. Namun, setelah melihat sendiri tetangganya memasak dengan aman dan lancar, Bu Nina pun memberanikan diri. Petugas PGN datang ke rumahnya, menjelaskan proses pemasangan yang sederhana dan biaya yang jauh lebih terjangkau.

Saat gas bumi pertama kali mengalir ke kompornya, Bu Nina merasa lega. Tidak ada lagi rasa was-was kehabisan gas di tengah proses membuat pesanan. Apalagi, tagihan bulanan ternyata jauh lebih hemat dari pengeluaran untuk elpiji selama ini.

“Bisa menghemat hingga 30 persen dari biaya bahan bakar. Keuntungan saya jadi lebih besar,” ungkap Bu Nina dengan senyum sumringah.

Penghematan itu tidak hanya menyelamatkan usahanya, tetapi juga membawa angin segar bagi keluarga Bu Nina.

Dengan modal yang lebih besar, ia mulai berani menambah varian kue. Kue lumpur, nagasari, dan kue lapis andalannya kini ditemani oleh bolu kukus dan berbagai jajanan pasar lainnya. Pesanan pun terus bertambah, tidak hanya dari tetangga, tetapi juga dari kantor-kantor di sekitar Rungkut.

Kisah di atas hanya sebagian kisah yang menggambarkan betapa aliras gas PGN bukan sekadar memenuhi kebutuhan energi warga, namun jauh dari itu mampu menghidupkan sumber-sumber ekonomi keluarga bahkan juga menyelamatkan perekonomian keluarga.

Efisiensi Energi Dukung Daya Saing Regional
Pasokan gas bumi PGN bukan hanya memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga meningkatkan daya saing pelaku usaha baik skala rumahan, UMKM juga daya saing industri di tengah persaingan pasar yang ketat.

Dosen Ekonomi dari Universitas Airlangga Dr Wisnu Wibowo menjelaskan bahwa gas bumi PGN menawarkan beberapa keunggulan utama bagi industri.

“Pertama, gas bumi lebih bersih dan ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar minyak (BBM), sejalan dengan komitmen industri untuk mengurangi jejak karbon,” ujarnya saat dihubungi pada Minggu (26/10/2025).

Berita Terkait :  Resmikan UPT RSBL Pasuruan dan Kediri, Wujudkan Tempat Tinggal Baru Ratusan ODGJ

“Kedua, efisiensi biaya operasional yang signifikan karena harga gas bumi relatif lebih stabil dan terjangkau dibandingkan bahan bakar lain”.

Hal ini, lanjut Wisnu, berdampak langsung pada biaya produksi dan harga jual produk, menjadikan industri Jatim lebih kompetitif di tingkat nasional maupun internasional. Penghematan biaya energi yang dihasilkan dari penggunaan gas PGN, dapat dialokasikan untuk investasi lain, seperti riset dan pengembangan atau perluasan usaha.

Komitmen PGN terhadap industri di Jatim juga terlihat dari ekspansi jaringan pipa gas bumi yang terus digencarkan. Menurut data PGN, panjang pipa di Jatim telah mencapai lebih dari 1.900 Km, menjangkau berbagai pusat industri.

PGN juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah kawasan industri di Jatim, seperti Kawasan Industri Gresik (KIG) dan Kawasan Industri Jawa Timur (JIIPE). Wisnu menilai langkah ini sebagai strategi yang tepat.

Lebih jauh, peran PGN dalam memasok gas bagi industri turut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi regional. Menurut Purnomo, kelancaran operasional industri berkat pasokan gas yang andal akan mendorong peningkatan produksi, penciptaan lapangan kerja, serta pertumbuhan sektor-sektor pendukung lainnya.

“Stabilitas pasokan energi menjadi kunci utama bagi industri. Ketika pasokan terjamin, industri bisa beroperasi optimal tanpa hambatan, yang secara langsung berkontribusi pada pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat,” tegas Wisnu.

PGN Perkuat Peta Jalan Swasembada Energi
PGN mempunyai peran strategis dalam mewujudkan swasembada dan ketahanan energi nasional. Peran ini diimplementasikan melalui pembangunan infrastruktur dan distribusi gas bumi yang masif, dengan Jawa Timur menjadi salah satu wilayah prioritas utama.

Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Mirza Mahendra menjelaskan bahwa PGN memegang kendali atas 95 persen infrastruktur hilir gas bumi di Indonesia.

“Peran kami sebagai Subholding Gas Pertamina adalah memastikan pasokan gas yang andal dan berkelanjutan, baik untuk industri, komersial, maupun rumah tangga,” ujar Mirza saat bertemu media, Jumat (24/10) nya.

Di Jawa Timur, komitmen tersebut diwujudkan dengan menjaga stabilitas pasokan untuk sektor-sektor vital. Data menunjukkan bahwa PGN telah menyalurkan gas bumi untuk kebutuhan pembangkit listrik, pabrik pupuk, industri manufaktur, dan juga melayani sektor komersial seperti restoran dan hotel.

Berita Terkait :  Jalan Lintas Selatan Sampang telah Terang Benderang, Bupati Slamet Cek Langsung Ratusan PJU

Selain itu, program jaringan gas (jargas) rumah tangga terus digenjot di kota-kota besar seperti Surabaya dan Gresik, memungkinkan masyarakat mendapatkan akses energi bersih dan terjangkau.

Jawa Timur, sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia, memiliki kebutuhan energi yang sangat tinggi. Stabilitas pasokan gas menjadi krusial untuk menjaga roda perekonomian. PGN secara konsisten terus memperkuat infrastruktur di wilayah ini.

“Jaringan pipa gas di Jawa Timur terus kami kembangkan untuk memastikan tidak ada hambatan pasokan,” ungkap Mirza Mahendra.

Para pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mengungkapkan harapannya agar pasokan gas dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) selalu stabil.

Hal ini brangkat dari pengalaman adanya gangguan pasokan gas yang sempat terjadi beberapa waktu lalu, yang sangat memukul sektor industri, terutama yang mendapatkan alokasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).

Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, menyampaikan bahwa pasokan gas yang stabil dan andal merupakan hal krusial bagi keberlangsungan industri makanan dan minuman.

“Kami mengapresiasi upaya PGN yang dengan cepat menormalkan pasokan gas. Namun, kami juga berharap agar ke depannya tidak ada lagi pembatasan yang mendadak karena akan sangat mengganggu operasional produksi,” ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah industri, termasuk sektor makanan dan minuman, mengalami pembatasan pasokan gas hingga 48%. Kebijakan ini berdampak signifikan pada operasional pabrik, di mana banyak mesin produksi terpaksa dihentikan.

“Menghentikan mesin produksi membutuhkan biaya besar, dan menyalakannya kembali juga butuh waktu dan energi yang tidak sedikit,” jelas Adhi.

Situasi seperti itu, lanjut Adhi tidak hanya mengancam kelangsungan produksi, tetapi juga berpotensi menurunkan utilisasi pabrik dan mengancam pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi ribuan pekerja. Pemerintah dan PGN tegas Adhi, harus memastikan bahwa alokasi gas untuk industri bisa terealisasi sesuai volume yang dijanjikan, sehingga industri bisa terus berproduksi dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional. [why.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!