Kota Pasuruan, Bhirawa
Pemkot Pasuruan memperkuat kolaborasi strategis dengan sektor akademis untuk mengakselerasi pembangunan daerah berbasis inovasi dan ilmu pengetahuan.
Kerja sama ini diharapkan tidak sekadar menjadi seremonial administratif, melainkan mampu menjawab persoalan riil di tengah masyarakat. Mulai dari nilai tambah ekonomi nelayan hingga isu putus sekolah.
Langkah penguatan tersebut dikukuhkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kota Pasuruan dengan tiga perguruan tinggi, yakni Universitas PGRI Wiranegara, Universitas Merdeka Pasuruan dan Universitas Yudharta Pasuruan.
Prosesi penandatanganan dilakukan oleh Wali Kota Pasuruan, H Adi Wibowo bersama para rektor di Ruang VIP Rumah Dinas Wali Kota Pasuruan, Rabu (29/4). Wali Kota Pasuruan, H Adi Wibowo menegaskan kompleksitas tantangan pembangunan daerah saat ini tidak dapat diselesaikan secara tunggal oleh pemerintah.
Diperlukan orkestrasi yang melibatkan pemangku kepentingan jamak (multistakeholder), di mana perguruan tinggi memegang peran sentral sebagai motor inovasi. “Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk kampus. Di dalamnya terdapat transfer ilmu pengetahuan, nilai sosial hingga penguatan ekonomi,” ujar Mas Adi sapaan akrabnya.
Salah satu sorotan utama dalam kerja sama tersebut adalah upaya peningkatan kesejahteraan di sektor perikanan. Selama ini, sebagian besar hasil tangkapan nelayan di Kota Pasuruan langsung dijual dalam bentuk mentah tanpa sentuhan pengolahan pascapanen. Kondisi ini menyebabkan nilai tambah ekonomi yang diterima nelayan cenderung stagnan.
Mas Adi berharap, melalui riset dan pendampingan dari perguruan tinggi, tercipta inovasi teknologi pengolahan hasil laut yang mampu meningkatkan harga jual produk. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik maupun pengabdian masyarakat yang terukur. “Kami berharap kerja sama ini tidak hanya berhenti secara administratif, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam bentuk program konkret,” imbuh Mas Adi.
Di sisi lain, Adi juga menitipkan pesan reflektif kepada dunia akademik mengenai aksesibilitas pendidikan.
Pejabat nomer satu di Kota Pasuruan in8 menekankan agar keberadaan menara gading kampus mampu memberikan dampak langsung terhadap lingkungan sekitar, terutama dalam mengatasi persoalan sosial seperti anak putus sekolah.
“Dan jangan sampai di sekitar kampus masih ada anak-anak yang tidak sekolah. Kampus harus hadir memberikan solusi atas persoalan tersebut,” jelas Mas Adi. [hil.wwn]


