29 C
Sidoarjo
Thursday, September 17, 2026
spot_img

400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari, Warisan Ulama Sufi dan Jaringan Kosmopolitannya yang Perlu Digali

Mojokerto, Bhirawa –  Momentum 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari dinilai menjadi kesempatan untuk kembali menggali warisan intelektual, ketokohan dan jaringan keilmuan ulama sufi asal Nusantara tersebut. Syekh Yusuf dikenal sebagai sosok berintegritas dan berprinsip yang membangun jaringan intelektual hingga berbagai kawasan dunia.

Peneliti Ulama Nusantara, KH Ahmad Kholily Kholil, mengatakan ketokohan Syekh Yusuf tidak hanya penting dilihat dari kiprahnya sebagai ulama dan ahli tarekat, tetapi juga dari jaringan kosmopolitan yang dibangunnya.

“Syekh Yusuf adalah pribadi yang sangat berintegritas. Beliau adalah orang yang berprinsip. Bagaimana beliau menjadikan ketokohannya sebagai wadah perjuangan agama, lalu kemudian membangun jaringan yang sangat kosmopolitan,” ujarnya dalam refleksi 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari.

Menurut Kholily, jejak jaringan Syekh Yusuf terbentang luas, mulai dari Damaskus, Cape Town, Makkah, Madinah, Teheran hingga Princeton University di Amerika Serikat, serta berbagai wilayah di Kepulauan Nusantara.

Ia menjelaskan, Syekh Yusuf merupakan ulama sufi sekaligus ahli tarekat yang memiliki banyak murid. Jaringan muridnya tidak hanya berasal dari Nusantara, tetapi juga dari Timur Tengah, antara lain Abdul Qadir As-Sofuri dan Hasan bin Rajab dari Damaskus.

“Masih sangat banyak yang belum tercatat dan ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua untuk terus menggali warisan-warisan dari Syekh Yusuf. Saya kira momentum 400 tahun ini merupakan saat yang tepat untuk re-search atau melahirkan kembali sosok Syekh Yusuf,” katanya.

Berita Terkait :  Pemkab Blitar Bakal Naikkan Tarif Retribusi Parkir Berlangganan

Kholily menyebut Syekh Yusuf meninggalkan sekitar 20 hingga 30 jilid karya yang memuat ajaran-ajaran autentik. Karya-karya tersebut, menurutnya, penting dikaji secara lebih mendalam untuk memahami pemikiran dan ajaran Syekh Yusuf secara utuh.

“Yang 30 itu murni dari Syekh Yusuf. Kalau yang salinan masih belum kita hitung,” jelasnya.

Ia mengatakan, perjalanan Syekh Yusuf sendiri dapat direkonstruksi dari berbagai fragmen yang terdapat dalam manuskrip. Dari penelusuran tersebut, diketahui perjalanan intelektual Syekh Yusuf menjangkau sejumlah wilayah, termasuk Aleppo dan Lahor.

Terkait keberadaan manuskrip Syekh Yusuf yang kini tersimpan di berbagai negara, Kholily berpandangan negara tidak harus membawa seluruh naskah fisik tersebut kembali ke Indonesia. Menurutnya, keberadaan manuskrip di negara tempat penyimpanan saat ini justru dapat memberikan jaminan pemeliharaan yang lebih baik.

“Kalau saya pribadi sebagai pengamat naskah, saya kira jangan, tidak perlu (dibawa ke Indonesia), karena lebih terjaga di sana. Kalau mau mengkaji, cukup dicek versi digitalnya saja,” ujarnya.

Menurut Kholily, digitalisasi dapat menjadi jalan untuk memperluas akses terhadap manuskrip sekaligus menjaga keberadaan naskah fisiknya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa Syekh Yusuf merupakan representasi ulama sufi pada zamannya. Pada masa tersebut, tradisi keilmuan Islam sangat berkaitan dengan tarekat dan tasawuf.

Karena itu, kiprah Syekh Yusuf dalam melawan kolonialisme tidak semata-mata dapat dipahami sebagai penolakan terhadap bangsa atau agama tertentu. Perlawanan tersebut, menurut Kholily, berkaitan dengan prinsip tasawuf yang menolak kezaliman.

Berita Terkait :  Cetak KTP Elektronik Cukup di Kecamatan Saja

Ia mencontohkan sejumlah tokoh sufi lain yang juga terlibat dalam perlawanan terhadap kolonialisme. Salah satunya Abdul Qadir Al-Jazairi yang memimpin perlawanan terhadap kolonialisme Prancis di Aljazair.

“Bertasawuf itu anti kezaliman, bukan spesifik anti orang asing atau nonmuslim,” tegasnya.

Kholily menambahkan, ajaran tasawuf juga memiliki peran dalam menjaga identitas masyarakat di wilayah yang mengalami kolonialisasi. Karena itu, warisan pemikiran Syekh Yusuf dapat menjadi bagian penting untuk memahami hubungan antara spiritualitas, identitas dan perjuangan masyarakat Nusantara.

Momentum 400 tahun Syekh Yusuf, lanjutnya, juga menjadi ruang untuk mengkaji kembali warisan tersebut sekaligus memperkenalkannya sebagai bagian dari kekayaan intelektual dan budaya Indonesia.

Ia menilai ajaran dan karya Syekh Yusuf dapat dikaji serta dikembangkan menjadi bagian dari kebudayaan yang memiliki karakter khas Indonesia, sebagaimana sejumlah negara mengembangkan warisan intelektual dan budayanya untuk dikenal lebih luas. [ina.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!