27 C
Sidoarjo
Wednesday, September 16, 2026
spot_img

Kasus Leptospirosis dan HIV Menurun, Dinkes Bondowoso Perkuat Pencegahan

Bondowoso, Bhirawa. – Upaya pencegahan dan pengendalian penyakit di Kabupaten Bondowoso menunjukkan perkembangan positif. Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso mencatat penurunan sejumlah penyakit menular, termasuk leptospirosis dan HIV, seiring dengan penguatan edukasi serta pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Capaian tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Tahun 2026 yang digelar Dinkes Bondowoso, Rabu (16/9). Rakor tersebut dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Bondowoso melalui Asisten I (Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat) Sekretariat Daerah Kabupaten Bondowoso, Solikin.

Asisten I Pemkab Bondowoso, Solikin menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia yang sehat menjadi bagian penting dalam mewujudkan Bondowoso yang tangguh, unggul, berdaya saing global, dan berbudaya dalam bingkai keimanan serta ketakwaan.

Menurutnya, Bidang P2P memiliki peran strategis dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Bidang tersebut mengampu enam dari 12 Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan, yakni pelayanan bagi terduga tuberkulosis (TB), penderita HIV, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), diabetes melitus, hipertensi, serta kelompok usia produktif.

Selain itu, P2P juga mengoordinasikan program imunisasi, surveilans kesehatan, penyakit tidak menular, serta berbagai penyakit menular lainnya. Solikin mengapresiasi dedikasi para kepala puskesmas dan pengelola program P2P yang terus memberikan pelayanan kepada masyarakat. Namun, ia mengingatkan masih terdapat sejumlah indikator yang membutuhkan perhatian, khususnya capaian TB, HIV, imunisasi, dan surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).

Berita Terkait :  Banggar DPR RI: Satgas PHK segera Bergerak Antisipasi Gelombang Pemutusan Kerja

“Kalau kita cermati, salah satu kendala yang masih dihadapi adalah adanya penolakan dari sebagian masyarakat terhadap beberapa program kesehatan. Karena itu, dibutuhkan kerja sama lintas program dan lintas sektor untuk menyelesaikannya,” ujar Solikin.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, dr. Moch Jasin, mengatakan Rakor P2P menjadi momentum untuk mengevaluasi pelaksanaan berbagai program kesehatan sekaligus menentukan langkah penguatan ke depan.

Menurutnya, evaluasi tidak hanya mencakup pengendalian penyakit menular, tetapi juga penyakit tidak menular serta peningkatan cakupan imunisasi. Salah satu program yang menunjukkan perkembangan adalah Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dinkes Bondowoso mencatat adanya peningkatan partisipasi masyarakat setelah pelayanan dilakukan secara jemput bola di luar fasilitas kesehatan.

“Upaya memberikan pelayanan di luar gedung memberikan hasil yang luar biasa. Sebelum kita bergerak, capaian Cek Kesehatan Gratis berada di angka 20 persen. Sekarang sudah mencapai 38 persen dari target total 46 persen. Tinggal sekitar 8 persen lagi dan kami optimistis hingga Desember target tersebut bisa tercapai,” kata dr. Moch Jasin.

Dari pelaksanaan CKG, temuan kesehatan masyarakat didominasi hipertensi, diabetes melitus, dan kolesterol tinggi. Temuan tersebut menjadi dasar bagi tenaga kesehatan untuk melakukan intervensi lebih dini. “Temuan-temuan ini bisa segera kita intervensi melalui terapi lanjutan sehingga risiko menjadi penyakit yang lebih berat seperti stroke dan penyakit jantung dapat dicegah,” ujarnya.

Berita Terkait :  Pakar UNAIR Ingatkan Pentingnya Mitigasi Bencana Hadapi El Nino Godzilla

Di sisi lain, pengendalian penyakit menular juga menunjukkan perkembangan. Kasus demam berdarah tahun ini disebut lebih terkendali dibandingkan tahun sebelumnya. Hal serupa terlihat pada kasus leptospirosis. Setelah sebelumnya menjadi salah satu penyakit yang mendapat perhatian, hingga saat ini Dinkes Bondowoso mencatat tujuh kasus. “Edukasi kepada masyarakat dan berbagai langkah pengendalian yang dilakukan memberikan hasil yang cukup baik,” jelasnya.

Penurunan juga terjadi pada penemuan kasus HIV. Jika pada tahun sebelumnya kasus positif yang ditemukan mencapai lebih dari 150 kasus, hingga Agustus 2026 jumlah kasus yang tercatat sebanyak 69 kasus. Meski demikian, Dinkes Bondowoso masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan cakupan imunisasi. Penguatan program imunisasi terus dilakukan untuk memastikan perlindungan masyarakat terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.

dr. Moch Jasin mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir memberikan imunisasi kepada anak. Menurutnya, imunisasi telah melalui proses penelitian dan menjadi salah satu upaya penting dalam mencegah penyakit. “Imunisasi telah melalui proses penelitian yang panjang. Kalau ada demam setelah imunisasi, itu merupakan reaksi yang umum terjadi dan tenaga kesehatan juga sudah menyiapkan langkah penanganannya,” terangnya.

Ia menambahkan, keberhasilan program kesehatan membutuhkan dukungan pemerintah, tenaga kesehatan, serta masyarakat. Tingginya cakupan imunisasi diharapkan dapat membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity, sehingga perlindungan terhadap masyarakat semakin luas.

Melalui Rakor P2P Tahun 2026, Dinkes Bondowoso mendorong penguatan koordinasi lintas program dan lintas sektor untuk mempertahankan capaian positif sekaligus menuntaskan sejumlah indikator yang masih perlu ditingkatkan.

Berita Terkait :  Hari Santri, ASN Sidoarjo Diingatkan Jaga Netralitas

“Pencegahan tetap lebih baik daripada pengobatan. Mungkin manfaatnya tidak langsung dirasakan, tetapi dalam jangka panjang akan sangat berdampak terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat Bondowoso,” pungkasnya.[san.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!