28.3 C
Sidoarjo
Tuesday, June 16, 2026
spot_img

Ubaya dan BPOM RI Kolaborasi Dorong Hilirisasi Riset jadi Produk Obat dan Makanan Bermanfaat

Surabaya, Bhirawa
Universitas Surabaya (Ubaya) gelar kuliah tamu sekaligus penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) di Ruang Serbaguna Perpustakaan Lantai 5, Kampus Ubaya Tenggilis.

Kolaborasi BPOM RI memiliki peran krusial ditandai dengan tanda tangan MoU dalam bidang obat dan makanan, penandatanganan tersebut merupakan tindak lanjut dari inisiasi Pusat Unggulan Iptek Produk Pangan dan Suplemen Kesehatan untuk Kondisi Degeneratif (PUI Pasdeg) Ubaya dengan Balai Besar POM di Surabaya yang telah terjalin sebelumnya. Senin, (16/6/2026)

Rektor Ubaya, Dr. Benny Lianto mengukapkan bahwa riset-riset hebat tidak boleh berhenti hanya sampai laporan penelitian dan artikel publikasi. “Riset harus diarahkan pada hilirisasi jadi produk nyata yang diadopsi industri, mampu memasuki pasar, dan yang terpenting membawa manfaat nyata bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Lanjut Benny menceritakan Ubaya memandang kolaborasi dengan BPOM RI memiliki peran krusial yang ditandai dengan tanda tangan MoU dalam bidang obat dan makanan. “Penandatanganan merupakan tindak lanjut dari inisiasi Pusat Unggulan Iptek Produk Pangan dan Suplemen Kesehatan untuk Kondisi Degeneratif (PUI Pasdeg) Ubaya dengan Balai Besar POM di Surabaya yang telah terjalin sebelumnya,” jelasnya.

Benny menjelaskan kegiatan Ubaya pernah terlaksana bersama BBPOM Surabaya, antara lain studi ekskursi, kerja praktek mahasiswa, kunjungan, kuliah tamu, dan sebagainya. “MoU ditandatangani menjadi dasar pelaksanaan berbagai kolaborasi antara Ubaya melalui beberapa fakultas dan unit dengan BPOM RI yang turut melibatkan BBPOM Surabaya selama lima tahun kedepan,” tuturnya.

Berita Terkait :  Butuh HP AI untuk Multitasking, Galaxy A57 5G Buat Aktivitas Harian Lebih Praktis

Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed. Ph.D. menyampaikan materi berjudul “Dari Penelitian ke Pasar: Peran BPOM dalam Mendukung Hilirisasi Inovasi Produk Pangan, Suplemen Kesehatan, Kosmetik, Obat Bahan Alam, dan Obat yang Aman, Bermutu, dan Bermanfaat bagi Masyarakat”.

“Sekarang 6% bahan baku obat dapat diproduksi di dalam negeri dengan populasi manusia terbesar keempat di dunia yang membutuhkan jumlah obat yang besar, kondisi dinamika geopolitik global yang rentan, hilirisasi menjadi semakin penting, ini mungkin untuk dicapai karena kita memiliki kekayaan biodiversitas kedua terbesar di dunia,” pungkasnya.

Prof. Taruna hilirisasi inovasi hasil riset menghadapi berbagai tantangan agar dapat dihadirkan di pasar dan menjawab kebutuhan masyarakat, dimana ekosistem regulatori yang menyelaraskan antara peraturan dengan kualitas dan manfaat produk yang maksimal melalui riset saintifik yang kuat, kolaborasi ABG (Academia, Business, Government) sebagai wujud sinergi pengembangan riset dan inovasi hingga hilirisasi.

“Hasil riset kemudian disuguhkan kepada industri yang patuh regulasi yang dapat memberikan dukungan agar ide berkembang dan dapat dikomersialisasi, Pemerintah, dalam hal ini BPOM bertindak sebagai regulator agar inovasi dan riset dapat dihadirkan di pasar berupa pemikiran, inisiatif, ataupun komoditas obat dan makanan,” imbuhnya.[ren.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!