28.9 C
Sidoarjo
Wednesday, June 3, 2026
spot_img

SD Muhammadiyah 7 Jagir Surabaya Gelar Unjuk Karya Inovatif


Siswa Kelas VI Wujudkan Barang Bekas Menjadi Produk Bermanfaat
Surabaya, Bhirawa
Dalam menyelesaikan rangkaian pembelajaran selama satu tahun ajaran, SD Muhammadiyah 7 Jagir Surabaya menggelar Unjuk Karya Inovatif sebagai proyek akhir bagi siswa kelas VI di halaman sekolah. Unjuk Karya Inovatif ini menjadi momen istimewa untuk menampilkan hasil pemikiran, kreativitas, dan kepedulian siswa terhadap lingkungan sekitar tempat mereka tinggal dan belajar.

Menurut Ketua Unjuk Karya Inovatif yang juga guru kelas VI, Ustadzah Vitriani SPd, proyek ini bertujuan mengajak siswa untuk peka terhadap permasalahan di lingkungan sekitar. Siswa diajak mengamati, mengidentifikasi masalah, kemudian mencari solusi yang tepat. Salah satu pendekatan yang diterapkan dengan memanfaatkan barang-barang bekas yang selama ini dianggap tak berguna, seperti kardus bekas, kaleng bekas, potongan triplek dan bahan sisa lainnya, untuk didaur ulang dan diubah menjadi barang yang memiliki fungsi, serta nilai guna kembali.

“Dalam pelaksanaannya, siswa dibagi menjadi lima kelompok, dan setiap kelompok mengembangkan satu karya yang berbeda sesuai dengan ide dan pengamatan masing-masing,” kata Ustadzah Vitriani.

Ustadzah Vitriani menjelaskan, pertama, ada karya bernama Dispense, singkatan dari Card Water Dispenser. Sesuai namanya, karya ini berupa alat penyaji air minum berukuran mini yang seluruh bagian kerangkanya dibuat dari kardus bekas. Ukurannya kecil tidak bertujuan untuk penggunaan skala besar, melainkan lebih difokuskan untuk melatih ketelitian, kreativitas, serta kemampuan siswa merancang bentuk yang menarik dan unik, sekaligus membuktikan bahan sisa bisa disusun menjadi sesuatu yang berfungsi.

Berita Terkait :  SAHABAT ATS, Tekan Angka Anak Putus Sekolah di Kota Probolinggo

Kedua, kelompok lain menciptakan Mix Dash, yaitu alat pengaduk adonan sederhana. Alat ini juga memanfaatkan kardus bekas sebagai bahan dasarnya, dilengkapi mekanisme penggerak yang disusun sedemikian rupa. Didesain dengan ukuran yang tidak terlalu besar, alat ini cocok digunakan untuk mengaduk bahan-bahan ringan seperti telur, adonan kue, atau adonan pancake. Melalui karya ini, siswa belajar bagaimana mengubah bahan yang tak terpakai menjadi alat yang bisa membantu memudahkan pekerjaan sehari-hari di rumah.

Ketiga, karya yang menarik perhatian selanjutnya Mesin Cuci Mini. Berbeda dengan dua karya sebelumnya, alat ini dibuat dengan memanfaatkan kaleng bekas sebagai komponen utamanya. Meskipun ukurannya kecil dan tidak dapat digunakan untuk mencuci pakaian dalam jumlah banyak, mesin cuci ini berfungsi dengan baik untuk mencuci barang-barang berukuran kecil seperti kaus kaki, dasi, atau sapu tangan. Kehadiran karya ini juga mengandung nilai pendidikan yang lebih luas, yaitu melatih kemandirian siswa agar terbiasa merapikan dan mencuci barang miliknya sendiri tanpa harus meminta bantuan orang tua.

Keempat, terdapat karya bernama Parpalis, yaitu alat Parutan Kelapa Otomatis versi sederhana. Bahan yang digunakan kali ini adalah potongan triplek bekas dan dilengkapi dengan komponen penggerak berupa dinamo sederhana. Ide pembuatan alat ini muncul dari pengamatan siswa di lingkungan sekitar, di mana banyak orang tua yang masih memarut kelapa secara manual. Selain memakan waktu lama, juga memiliki risiko melukai tangan. Sehingga siswa merancang alat ini agar proses memarut menjadi lebih cepat, lebih aman, dan lebih ringan untuk dilakukan.

Berita Terkait :  Ponorogo Jadi Kantong Guru Penggerak di Jatim, Bukti Komitmen Pemkab Dalam Pengembangan Kompetensi Guru

Terakhir, kelompok kelima menciptakan Water Alarm, yaitu alat pengingat saat pengisian air di dalam bak mandi. Masalahnya sering ditemui air sampai meluap karena lupa mematikan kran yang menyebabkan pemborosan air. Melalui karya ini, siswa merancang alat yang akan mengeluarkan bunyi peringatan secara otomatis ketika air di dalam bak sudah mencapai batas penuh. Meskipun sistem pemadamannya masih harus dilakukan secara manual, keberadaan alarm ini sudah sangat membantu sebagai pengingat agar pengguna dapat segera mematikan aliran air.

Ustadzah Vitriani menegaskan, Unjuk Karya Inovatif ini menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian evaluasi belajar siswa kelas VI, selain ujian tulis dan ujian praktik lainnya. Melalui proyek akhir ini, diharapkan siswa tidak hanya menguasai pelajaran teori di dalam kelas, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata, memiliki jiwa kreatif, terbiasa mencari solusi atas masalah, serta memahami pentingnya melestarikan lingkungan dengan cara mendaur ulang barang-barang yang ada di sekitar mereka. [fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!