26.7 C
Sidoarjo
Monday, October 26, 2026
spot_img

Raih Medali Asian Para Games, Unesa Siapkan Sport Science

Surabaya, Bhirawa

Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memperkuat komitmennya dalam mendukung atlet disabilitas melalui penerapan sport science dan penyediaan akses pendidikan tinggi. Langkah ini direalisasikan lewat kolaborasi erat dengan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Jawa Timur guna mengoptimalkan performa atlet sekaligus menyiapkan regenerasi secara berkelanjutan.

Wakil Rektor IV Unesa Bidang Perencanaan, Pengembangan, Kerja Sama, dan Teknologi Informasi, Prof. Dwi Cahyo Kartiko, menegaskan pentingnya dukungan multidisiplin dalam olahraga disabilitas.

“Unesa memiliki tiga keunggulan, yakni olahraga, disabilitas, dan seni. Irisan antara disabilitas dan olahraga sangat besar. Karena itu, melalui kolaborasi dengan NPCI, kami mengembangkan pendekatan sport science untuk meningkatkan kualitas atlet disabilitas,” ujar Prof. Dwi Cahyo Kartiko di Surabaya.

Ia menjelaskan, sport science berperan strategis dalam mengidentifikasi potensi, mengevaluasi kemampuan fisik, serta merancang program latihan khusus sesuai karakteristik tiap atlet. Pendekatan ini ditujukan agar para atlet dapat mencapai performa puncak di ajang nasional maupun internasional. Selain itu, Unesa dan NPCI Jatim telah berkolaborasi dalam program talent scouting yang menjaring sekitar 400 calon atlet muda di bawah usia 17 tahun dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Penguatan sport science ini sejalan dengan torehan membanggakan kontingen Jawa Timur di Asian Para Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang. Ketua Umum NPCI Jawa Timur, Imam Kuncoro, menyampaikan bahwa sembilan atlet asal Jatim yang memperkuat Indonesia berhasil memboyong 13 medali, terdiri dari dua emas, lima perak, dan enam perunggu.

Berita Terkait :  Animo Bondowoso Night Run Meningkat, Satu Peserta dari Kenya

Perenang Maulana Rifki menjadi salah satu atlet paling menonjol dengan raihan dua medali emas dan dua perak, disusul sumbangan medali dari atlet muda seperti Zara (renang) dan Mutiara Cantik.

“Capaian ini membuktikan potensi besar atlet disabilitas Jawa Timur. Kolaborasi dengan Unesa melalui sport science dan dukungan pemerintah sangat penting agar pembinaan atlet muda ini dapat berjalan secara kontinu,” ungkap Imam.

Tak hanya fokus pada pencapaian prestasi, Unesa juga memperhatikan masa depan dan keberlanjutan pendidikan para atlet. Unesa telah bersurat kepada Menteri Pemuda dan Olahraga, dengan tembusan kepada CdM serta Ketua NPC Indonesia, untuk mengusulkan beasiswa jenjang S1, S2, hingga S3 bagi atlet, pelatih, dan ofisial yang berlaga di Asian Para Games 2026.

Melalui integrasi sport science, penjaringan bakat usia dini, dan jaminan akses pendidikan tinggi, sinergi Unesa dan NPCI Jatim diharapkan mampu membangun ekosistem olahraga disabilitas yang berkelanjutan dan berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia.

Pendidikan Atlet Jadi Perhatian

Selain peningkatan prestasi olahraga, Unesa juga menaruh perhatian pada keberlanjutan pendidikan atlet disabilitas. Dwi mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan atlet tetap mempunyai kesempatan melanjutkan pendidikan meskipun menjalani aktivitas latihan dan kompetisi.

Sebagai bentuk dukungan, Unesa telah mengirimkan surat kepada Menteri Pemuda dan Olahraga, dengan tembusan kepada Chef de Mission (CdM) dan Ketua NPC Indonesia. Surat tersebut berisi usulan pemberian beasiswa pendidikan jenjang S1, S2, dan S3 bagi atlet, pelatih, serta ofisial yang terlibat dalam Asian Para Games 2026.

Berita Terkait :  Usai Dilantik, IPSI Ponorogo Ingin Kembali Cetak Atlet Kelas Dunia

“Bagi kami, atlet tidak hanya perlu didukung agar berprestasi, tetapi juga harus mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang tertinggi. Karena itu, kami mengusulkan beasiswa S1, S2, dan S3 bagi atlet, pelatih, serta ofisial yang terlibat di Asian Para Games,” kata Dwi.

Ia menegaskan, pendidikan merupakan bagian penting dari masa depan atlet, terutama untuk mempersiapkan kehidupan setelah mereka tidak lagi aktif bertanding.

Dukungan pendidikan juga dapat membuka peluang bagi atlet untuk mengembangkan karier di bidang lain, termasuk kepelatihan, pendidikan olahraga, dan profesi sesuai kompetensi masing-masing.

Kolaborasi Unesa dan NPCI Jawa Timur diharapkan mampu membangun ekosistem olahraga disabilitas yang tidak hanya berorientasi pada perolehan medali, tetapi juga memperhatikan pengembangan sumber daya manusia.

Melalui sport science, penjaringan atlet muda, pembinaan berkelanjutan, dan perluasan akses pendidikan, atlet disabilitas Jawa Timur diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk berprestasi sekaligus meraih masa depan yang lebih baik.

Jatim Sumbang 13 Medali

Komitmen pengembangan atlet tersebut sejalan dengan capaian kontingen Jawa Timur pada Asian Para Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang.

Ketua Umum NPCI Jawa Timur, Imam Kuncoro, menyampaikan sembilan atlet asal Jawa Timur yang memperkuat Indonesia berhasil menyumbangkan 13 medali. Rinciannya terdiri atas dua emas, lima perak, dan enam perunggu.

“Capaian ini membuktikan bahwa atlet-atlet disabilitas Jawa Timur memiliki potensi besar. Kami ingin prestasi tersebut terus berkembang melalui pembinaan yang terarah dan berkelanjutan,” kata Imam.

Berita Terkait :  Joan Laporta Kembali Terpilih Jadi Presiden Barcelona

Maulana Rifki menjadi salah satu atlet yang mencatatkan hasil menonjol dengan raihan dua medali emas dan dua perak. Sementara itu, atlet muda seperti Zara dari cabang renang dan Mutiara Cantik juga berhasil menyumbangkan medali.

Bagi NPCI Jawa Timur, hasil tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga kesinambungan pembinaan agar atlet muda dapat berkembang hingga mencapai level kompetisi tertinggi.

Imam mengatakan, pihaknya telah menjaring sekitar 400 calon atlet disabilitas melalui talent scouting pada 2025. Program yang melibatkan Unesa dan NPC Indonesia itu menyasar anak-anak berusia di bawah 17 tahun dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, khususnya penyandang disabilitas daksa dan netra.

Sejumlah calon atlet yang memenuhi kriteria telah menjalani latihan selama empat bulan. Namun, Imam menilai pengembangan mereka membutuhkan dukungan yang lebih luas, terutama untuk menjamin keberlanjutan program latihan.

“Kami memiliki potensi atlet yang besar. Persoalannya adalah bagaimana pembinaan itu bisa berjalan secara kontinu. Karena itu, kolaborasi dengan Unesa dan dukungan pemerintah sangat penting untuk menjaga perkembangan atlet,” ungkapnya. wwn

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!