Melalui surat pembaca ini, saya ingin mengetuk hati seluruh lapisan masyarakat, civitas akademika, serta para pemangku kebijakan untuk merenungkan kembali ancaman tahunan yang terus-menerus berulang tanpa henti melanda negeri kita, yaitu Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Setiap kali memasuki siklus musim kemarau, persoalan klasik ini selalu mencuat kembali menjadi perhatian nasional maupun internasional karena dampak destruktifnya yang luar biasa besar bagi kehidupan. Data resmi dari berbagai lembaga lingkungan hidup secara konsisten menunjukkan bahwa mayoritas utama dari peristiwa karhutla dipicu langsung oleh aktivitas manusia, baik akibat faktor kelalaian kecil sehari-hari maupun karena kebiasaan buruk membuka lahan baru dengan cara membakar secara sengaja dan ilegal demi menekan biaya produksi secara instan tanpa memedulikan efek samping lingkungan sekitar.
Dampak dari bencana musiman ini sangat masif, merugikan, dan menyentuh berbagai aspek multisektoral. Karhutla mengakibatkan kabut asap pekat yang mengganggu kesehatan jutaan penduduk, menyebabkan lonjakan tajam kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada anak-anak serta lansia, menghentikan roda aktivitas pendidikan sekolah, melumpuhkan jadwal penerbangan domestik dan internasional, serta menghancurkan habitat alami keanekaragaman hayati yang menjadi kekayaan tak ternilai bagi bangsa ini. Hutan tropis kita adalah paru-paru dunia yang berfungsi menyeimbangkan iklim global. Jika kawasan hijau ini terus dibiarkan habis terbakar setiap tahun, maka kita sedang berjalan menuju kehancuran ekologis yang nyata dan mengancam masa depan generasi penerus.
Oleh karena itu, pola penanganan karhutla tidak boleh lagi hanya berfokus pada upaya pemadaman reaktif saat api sudah telanjur membesar (post-crisis management). Paradigma kita harus bergeser secara agresif dan radikal menuju strategi pencegahan dini (pre-crisis prevention) melalui gerakan edukasi penyelamatan hutan yang masif, inklusif, dan terstruktur dengan baik. Pemerintah, komunitas lokal, pecinta alam, dan sektor swasta wajib berkolaborasi erat menyebarkan pemahaman komprehensif tentang mitigasi bencana.
Edukasi berkelanjutan ini harus menyasar semua lini kehidupan, mulai dari integrasi kurikulum cinta lingkungan di sekolah sejak dini, sosialisasi rutin ke perkampungan di sekitar kawasan hutan, hingga pendampingan serta pelatihan teknis berkala bagi kelompok tani mengenai metode Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) yang terbukti jauh lebih aman, bersahabat, ekonomis, serta menjaga kesuburan tanah untuk jangka panjang.
Amir syarifudin
Berprofesi sebagai guru, Warga Peduli Kelestarian Lingkungan Hidup dan Hutan Indonesia




