29.9 C
Sidoarjo
Thursday, November 5, 2026
spot_img

Pengangguran di Jawa Timur Turun, 35,90 Persen Pekerja Belum Bekerja Penuh

Pemprov Jatim, Bhirawa. – Kondisi ketenagakerjaan Jawa Timur menunjukkan perbaikan. Namun, penurunan angka pengangguran ternyata belum sepenuhnya menggambarkan kualitas penyerapan tenaga kerja. Sebab, masih terdapat 35,90 persen penduduk bekerja yang belum terserap dalam pekerjaan penuh waktu. Kondisi ini menjadi salah satu catatan penting dari hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Kamis (5/11).

BPS Jatim mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2026 mencapai 3,60 persen. Angka tersebut turun 0,28 persen poin dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 3,88 persen. Jumlah pengangguran juga berkurang 50,17 ribu orang menjadi 910 ribu orang. Sementara itu, jumlah penduduk bekerja mencapai 24,36 juta orang atau bertambah 559,62 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Plt Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Herum Fajarwati, menjelaskan jumlah angkatan kerja di Jawa Timur pada Agustus 2026 mencapai 25,27 juta orang. “Angka tersebut meningkat 509,45 ribu orang dibandingkan Agustus 2025. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga naik 0,90 persen poin menjadi 74,88 persen,” katanya, Kamis (5/11)

Meski demikian, peningkatan jumlah penduduk bekerja belum sepenuhnya diikuti penyerapan dalam pekerjaan dengan jam kerja penuh. BPS mencatat, pekerja penuh dengan jam kerja minimal 35 jam per minggu justru turun dari 66,60 persen pada Agustus 2025 menjadi 64,10 persen pada Agustus 2026.

Berita Terkait :  30 Tahun Kudatuli, Puti Guntur Ajak Gen Z Jaga Demokrasi

Sebaliknya, pekerja tidak penuh meningkat menjadi 35,90 persen. Kelompok ini terdiri atas 8,03 persen setengah pengangguran dan 27,87 persen pekerja paruh waktu. Bahkan, tingkat setengah pengangguran naik 1,47 persen poin, sedangkan pekerja paruh waktu meningkat 1,03 persen poin dibandingkan Agustus 2025.

Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Jawa Timur dengan kontribusi 31,67 persen. Posisi berikutnya ditempati perdagangan besar dan eceran sebesar 17,45 persen serta industri sebesar 14,89 persen. Dominasi sektor pertanian menunjukkan besarnya peran lapangan usaha tersebut dalam menopang penyerapan tenaga kerja di Jawa Timur.

Tantangan lainnya terlihat dari masih besarnya pekerja di sektor informal. BPS mencatat sebanyak 60,73 persen penduduk bekerja berada pada kegiatan informal, sedangkan pekerja formal mencapai 39,27 persen. Meski proporsi pekerja formal meningkat satu persen poin dibandingkan Agustus 2025, mayoritas pekerja masih berada pada sektor yang belum sepenuhnya memberikan kepastian dan perlindungan kerja.

Persoalan kesesuaian pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja juga masih menjadi perhatian. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mencatat TPT tertinggi sebesar 6,09 persen, disusul lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 5,58 persen. Sementara itu, TPT lulusan universitas justru meningkat dari 3,98 persen pada Agustus 2025 menjadi 4,98 persen pada Agustus 2026.

Secara keseluruhan, penurunan pengangguran terbuka menjadi sinyal positif bagi kondisi pasar kerja Jawa Timur. Namun, peningkatan pekerja paruh waktu dan setengah pengangguran, dominasi sektor informal, serta tantangan kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri menunjukkan bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak cukup hanya diukur dari berkurangnya jumlah pengangguran. Kualitas pekerjaan, produktivitas, dan kepastian perlindungan bagi pekerja juga masih menjadi pekerjaan rumah.[rac.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!