27 C
Sidoarjo
Sunday, August 30, 2026
spot_img

Pencak Silat dan Dongkrek Kabupaten Madiun Tampil Memukau di APKASI Otonomi Expo 2026

Kabupaten Madiun, Bhirawa. – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun turut menyemarakkan rangkaian Performance Seni Budaya pada Apkasi Otonomi Expo (AOE) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten. Sabtu (29/8). Kabupaten Madiun menampilkan perpaduan seni pencak silat dan kesenian tradisional Khas Kabupaten Madiun yakni Dongkrek bertajuk ‘Larasing Guyub Kampung Pesilat’.

Penampilan inimenjadi salah satu upaya Pemkab Madiun mengenalkan kekayaan seni dan budaya daerah di tingkat nasional. Empat pesilat Kabupaten Madiun tampil bersama iringan kesenian Dongkrek yang menjadi salah satu kesenian khas daerah. Perpaduan gerak pencak silat dengan irama Dongkrek menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya atraktif, tetapi juga sarat makna.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Madiun, Dian Widayanti, mengatakan tema Larasing Guyub Kampung Pesilat dipilih untuk memperkuat identitas Madiun sebagai Kampung Pesilat Indonesia. Menurutnya, pencak silat dan Dongkrek merupakan dua kekuatan budaya yang dapat menjadi media promosi potensi daerah kepada masyarakat luas.

”Dongkrek adalah kesenian khas Kabupaten Madiun, sedangkan silat merupakan branding Kabupaten Madiun sebagai Kampung Pesilat Indonesia. Melalui penampilan ini, kami ingin keduanya semakin dikenal luas, tidak hanya di tingkat provinsi tetapi juga nasional,” ujar Dian.

Secara filosofi, Larasing Guyub Kampung Pesilat menggambarkan terciptanya keselarasan, ketenteraman, dan persatuan dalam kehidupan masyarakat. Kata laras tidak hanya bermakna keselarasan nada, tetapi juga keseimbangan sikap, pikiran, dan tindakan dalam menjaga persaudaraan.

Berita Terkait :  Gubernur Khofifah Buka Diklat PPIH Embarkasi Surabaya, Tekankan Kecakapan Teknis, Pemahaman Regulasi Serta Empati Layani Jemaah Haji

Pesan ini diperkuat melalui simbol-simbol dalam kesenian Dongkrek. Sosok Genderuwo menggambarkan berbagai perbedaan, ego, hawa nafsu, dan tantangan dalam kehidupan. Sementara Mbah Palang menjadi simbol kebijaksanaan, penuntun, sekaligus penyeimbang yang mengembalikan kehidupan menuju harmoni. Nilai tersebut berpadu dengan ajaran pencak silat yang menjunjung persaudaraan, kehormatan, pengendalian diri, dan sikap saling menghormati.

Dian berharap keberadaan seni pertunjukan seperti pencak silat dan Dongkrek dapat mendorong keterlibatan generasi muda sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Madiun. Seni pertunjukan, kata dia, merupakan salah satu subsektor ekonomi kreatif yang perlu terus dikembangkan agar semakin diminati generasi muda.

”Harapannya generasi muda ikut mengembangkan ekonomi kreatif, khususnya seni pertunjukan. Jangan malu untuk bangga menjadi bagian dari promosi kesenian khas Kabupaten Madiun. Kalau bukan kita, siapa lagi ?,” tegasnya.

Melalui Larasing Guyub Kampung Pesilat, Pemkab Madiun ingin menunjukkan bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dapat dirangkul menjadi kekuatan dalam semangat guyub rukun. Penampilan di panggung AOE 2026 tersebut sekaligus menjadi momentum memperkenalkan Kabupaten Madiun sebagai daerah yang kaya akan tradisi, budaya, serta nilai-nilai persaudaraan. [dar.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!