Surabaya, Bhirawa – Ada pepatah klasik dalam dunia jurnalistik yang menyebutkan bahwa satu foto dapat mewakili seribu kata. Bagi seorang reporter teks, alat utamanya adalah catatan dan pena. Namun bagi seorang fotografer atau kameramen jurnalistik, instrumen utama di lapangan adalah mata, ketajaman lensa, dan kecepatan mengabadikan momen penting yang tak mungkin terulang.
Prinsip itulah yang dipegang teguh oleh Ifan Prasetya, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya yang saat ini tengah mengasah kemampuannya melalui program magang sebagai kameramen di Harian Bhirawa.
Saat ditemui di sela-sela aktivitasnya di ruang redaksi, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi ini membagikan pengalamannya selama terjun langsung meliput berbagai dinamika Kota Pahlawan. Bagi Ifan, fotografi jurnalistik tidak sekadar soal mengambil gambar yang estetis untuk media sosial, melainkan menyajikan fakta visual yang jujur, bercerita dan memiliki nilai berita .
“Selama magang di Harian Bhirawa, Ifan belajar bahwa kamera bukan cuma alat pembeku waktu, tapi jendela bagi publik untuk melihat dan merasakan dinamika kotanya secara langsung. Berkolaborasi dengan para reporter senior di lapangan memberi saya perspektif baru tentang pentingnya etika dan ketajaman insting visual,” ujar Ifan.
Menembus Tantangan Berbagai Arena Liputan
Selama masa magangnya, Ifan telah mengawal empat agenda besar di Kota Surabaya dengan tantangan teknis yang bervariasi. Penugasan pertamanya berada di arena indoor pada gelaran Edu Expo 9 Galaxy Mall.
Di sana, ia diuji untuk menguasai pencahayaan buatan (indoor lighting) mal serta kerumunan pengunjung pameran sekolah swasta Indonesia. “Tugas saya di sana bukan hanya memotret kemewahan pamerannya, tapi menangkap aspek human interest. Lewat sudut eye-level dan teknik candid, saya mengabadikan ekspresi antusias para orang tua dan keceriaan calon siswa yang mencoba fasilitas interaktif,” jelas mahasiswa UNTAG tersebut.
Tantangan berbeda ia rasakan saat meliput Pagelaran Wayang Kulit di Kampus UNTAG Surabaya. Pertunjukan yang berlangsung hingga dini hari tersebut menuntut penguasaan teknik fotografi low-light (pencahayaan minim).
“Layar kelir yang berpendar dan gerakan cepat jemari dalang butuh permainan shutter speed serta framing yang pas. Tantangannya adalah mengambil momen paling dramatis sang dalang tanpa menggunakan flash yang bisa mengganggu jalannya pertunjukan,” tambahnya.
Tak hanya arena pendidikan dan budaya, pameran kuliner di Surabaya Food Festival juga menjadi ajang pembuktian kapasitasnya. Selain memotret sajian kuliner secara close-up agar menggugah selera pembaca, kamera Ifan konsisten membidik sosok-sosok pelaku UMKM di balik stan makanan. Menurutnya, keringat dan senyuman para pedagang adalah bukti visual ketahanan ekonomi kreatif warga Surabaya.
Puncak ujian fisik dan kecepatan bergerak ia rasakan saat diterjunkan meliput outdoor pada Pesta Rakyat Karnaval Wage. Berlari di antara barisan peserta karnaval di bawah sengatan matahari Surabaya sembari memanggul perlengkapan kamera menuntut fokus serta ketahanan ekstra.
“Di Karnaval Wage, saya mengincar momen-momen ekspresif. Saya pakai lensa wide untuk menangkap kemeriahan parade secara keseluruhan, dan lensa telephoto untuk mengabadikan detail emosi penonton anak-anak yang duduk di bahu orang tuanya,” kenang Ifan.
Pelajaran Penting dari Meja Redaksi Foto
Proses belajar mahasiswa UNTAG Surabaya ini tidak berhenti saat tombol shutter selesai ditekan. Di meja redaksi foto Harian Bhirawa, proses kurasi, cropping, dan penyuntingan foto bersama redaktur foto menjadi ruang diskusi yang sangat memperkaya wawasannya.
“Di meja redaksi, saya benar-benar paham apa itu etika fotografi jurnalistik. Bagaimana kita menyajikan foto yang informatif dan menarik tanpa sedikit pun memanipulasi fakta di lapangan,” tegasnya.
Pengalaman magang di Harian Bhirawa Surabaya ini diakui Ifan menjadi bekal krusial bagi karir profesionalnya di masa depan. Ia berharap pengalaman lapangan ini dapat menginspirasi rekan-rekan mahasiswanya di UNTAG Surabaya untuk terus berani mengasah keterampilan praksis di dunia industri media yang sesungguhnya. [why]




