Surabaya, Bhirawa – Menjadi seorang wartawan bukan sekadar tentang mengenakan kartu identitas pers atau membawa buku catatan di genggaman. Profesi ini menuntut ketangkasan berpikir, ketahanan fisik, serta ketajaman insting jurnalistik dalam membaca arah situasi dan menyajikannya secara jujur kepada publik.
Prinsip tersebut dipegang teguh oleh Lucky Darmawan, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya yang saat ini tengah mengasah kapasitas diri melalui program magang sebagai reporter di Harian Bhirawa.
Saat berbincang di tengah ritme kerja redaksi yang dinamis, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi ini membagikan pengalamannya selama memburu fakta di berbagai sudut Kota Pahlawan. Bagi Lucky, setiap penugasan lapangan adalah ruang ujian untuk melatih kedisiplinan dan keberanian menembus berbagai latar peristiwa.
“Di Harian Bhirawa, saya belajar bagaimana memposisikan diri di tengah peristiwa. Rutinitas redaksi yang dinamis serta tuntutan deadline cetak harian membentuk ritme kerja yang disiplin. Pengalaman berkeliling Kota Surabaya memberi saya perspektif baru dalam memandang dinamika sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat perkotaan,” ujar Lucky.
Mengurai Kompleksitas Isu Lapangan
Selama masa magangnya, Lucky telah mengawal empat agenda penugasan utama dengan beragam tantangan sektoral. Penugasan pertamanya dimulai saat mengurai isu pendidikan di gelaran Edu Expo 9 Galaxy Mall.
Di tengah kerumunan orang tua dan calon siswa, Lucky dituntut melakukan wawancara mencegat (doorstop) dengan ritme cepat kepada para pengelola sekolah swasta. “Tantangan utamanya adalah tidak terjebak pada narasi promosi yang disodorkan peserta pameran. Saya fokus mengejar angle berita terkait tantangan serta inovasi kurikulum sekolah swasta di era transisi digital,” jelas mahasiswa UNTAG tersebut.
Pengalaman berkesan lainnya didapat saat ia meliput Pagelaran Wayang Kulit di Kampus UNTAG Surabaya. Acara yang berlangsung hingga larut malam ini menjadi ruang baginya untuk melatih kepekaan budaya melalui penulisan feature. Lewat wawancara bersama akademisi dan mahasiswa, Lucky menggali pesan tentang bagaimana UNTAG menjadikan kesenian tradisional sebagai benteng karakter bangsa di tengah arus modernisasi.
Tak berhenti pada isu pendidikan dan budaya, Lucky juga diterjunkan untuk membedah denyut UMKM pada gelaran Surabaya Food Festival. Bagi Lucky, berita kuliner memiliki nilai strategis jika dilihat dari kacamata pemberdayaan ekonomi. “Meliput pameran kuliner tidak hanya mendeskripsikan rasa makanan, tetapi juga kejelian melihat rantai pasok, inovasi produk, dan strategi bertahan para pemilik usaha kecil di tengah persaingan pasar,” tambahnya.
Rangkaian tugas lapangannya ditutup dengan liputan aksi jalanan pada Pesta Rakyat Karnaval Wage. Menyusuri garis rute karnaval di bawah terik sengatan matahari Surabaya menjadi pembuktian ketahanan fisik sekaligus kejelian menangkap momen visual dan menyerap aspirasi warga penonton di pinggir jalan secara spontan.
Evaluasi Meja Redaksi dan Integritas Pers
Bagi Lucky, setiap lembar naskah yang ditulis di lapangan selalu bermuara pada proses evaluasi meja redaksi Harian Bhirawa. Momen bimbingan bersama redaktur senior menjadi sarana paling berharga dalam pembentukan karakter jurnalistiknya.
“Setiap koreksi penulisan, penajaman judul (headline), hingga verifikasi fakta dari redaktur senior mengajarkan betapa pentingnya akurasi dan integritas pers,” tegasnya.
Pengalaman magang di Harian Bhirawa Surabaya ini diakui Lucky menjadi fondasi penting bagi perjalanan karirnya. Ia berharap pengalaman ini dapat memotivasi mahasiswa UNTAG Surabaya lainnya untuk terus hadir, mencatat, dan menyuarakan fakta demi kepentingan publik. [why]




