Kota Madiun, Bhirawa. – Dewasa ini, LRT Jabodebek mengandalkan teknologi otomatis untuk mengoperasikan kereta tanpa masinis. Namun dalam hal ini, petugas tetap disiagakan di setiap rangkaian untuk memastikan keselamatan penumpang dan mengantisipasi gangguan teknis selama perjalanan.
Layanan tersebut menggunakan teknologi Communication-Based Train Control (CBTC) dengan tingkat otomatisasi Grade of Automation (GoA) level 3. Sistem ini memungkinkan kereta beroperasi secara otomatis, sementara petugas atau Train Attendant tetap mendampingi perjalanan.
“Semuanya berjalan secara otomatis, namun tetap dalam pendampingan Train Attendant. Apabila ada gangguan atau hal teknis yang membutuhkan penanganan, Train Attendant akan mengontrol secara manual,” ujar Manager Public Relations LRT Jabodebek, Raditya Mardika saat ditemui di dalam kereta LRT Jabodebek kepada awak media, Rabu (21/10/2026).
Menurut Raditya Mardika, dalam hal ini, petugas memiliki peran penting dalam memantau kondisi di dalam kereta dan menangani situasi yang membutuhkan intervensi manual.
Sementara itu, Train Attendant LRT Jabodebek, Febrian Ramadan, menjelaskan, kereta tersebut dirancang melaju dengan kecepatan maksimal 80 kilometer per jam. Pengoperasian kereta tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan penumpang.
Saat ini, lanjutnya, LRT Jabodebek melayani dua lintas utama, yakni Dukuh Atas BNI-Jati Mulya di Bekasi dan Dukuh Atas BNI-Harjamukti di Cibubur. Layanan ini juga terhubung dengan sejumlah moda transportasi umum lainnya untuk memudahkan mobilitas masyarakat.
Di Stasiun Dukuh Atas, penumpang dapat melanjutkan perjalanan menggunakan TransJakarta, KRL Commuter Line melalui Stasiun Sudirman, Kereta Bandara Soekarno-Hatta, serta MRT Jakarta. Sementara itu, Stasiun Cikoko terhubung dengan TransJakarta dan KRL melalui Stasiun Cawang.
LRT Jabodebek melayani hingga 430 perjalanan pada hari kerja dan sekitar 270 perjalanan pada akhir pekan atau hari libur. Untuk tarif, penumpang dikenakan tarif dasar Rp 5.000 ditambah Rp 700 per kilometer berikutnya, dengan batas maksimal yang disesuaikan berdasarkan waktu perjalanan.
Pada jam sibuk pukul 06.00-09.00 WIB dan 16.00-20.00 WIB, tarif maksimal mencapai Rp 20.000. Sementara itu, di luar jam sibuk dan pada hari libur, tarif maksimal sebesar Rp 10.000.
Untuk mendukung kenyamanan penumpang, LRT Jabodebek juga menyediakan gerbong khusus wanita di rangkaian paling belakang pada hari kerja. Selain itu, kursi prioritas berwarna merah diperuntukkan bagi lansia, ibu hamil, penumpang yang membawa balita, serta penyandang disabilitas.
Penumpang umum diperbolehkan menggunakan kursi prioritas ketika kereta lengang, tetapi harus bersedia memberikan tempat duduk kepada penumpang yang lebih membutuhkan. Ibu hamil dan penumpang yang memerlukan perhatian khusus juga dapat memperoleh pin prioritas secara gratis di loket stasiun dengan memenuhi persyaratan yang berlaku.
Dari sisi fasilitas kesehatan, kata Febrian Ramadan, setiap stasiun dilengkapi pos kesehatan untuk memberikan pertolongan pertama bagi penumpang yang mengalami gangguan kesehatan. Adapun sepeda lipat dan skuter listrik diperbolehkan dibawa setiap hari, sedangkan sepeda nonlipat seperti road bike, mountain bike (MTB), dan BMX hanya diperbolehkan pada akhir pekan serta hari libur nasional, dengan kuota maksimal tiga unit per gerbong.
LRT Jabodebek mengimbau penumpang untuk mengantre dengan tertib di belakang garis kuning pada area pintu peron atau Passenger Screen Door. Penumpang juga diminta mendahulukan orang yang turun dari kereta sebelum masuk agar proses naik-turun berlangsung aman dan lancar.
Pengenalan layanan ini sekaligus bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai integrasi transportasi umum. Dengan konektivitas antarmoda, perjalanan dari kereta jarak jauh melalui Stasiun Gambir dapat dilanjutkan menuju kawasan Dukuh Atas dan diteruskan menggunakan moda transportasi lain ke berbagai wilayah penyangga Jakarta. “Alhandulillah selama ini konektivitas antarmoda, perjalanan dari kereta tersebut berjalan lancar,”pungkasnya. [dar.hel]




