31.1 C
Sidoarjo
Thursday, July 30, 2026
spot_img

Pudji Wahyu Widodo Anggota DPRD Jatim Berpulang, Fraksi Golkar Ceritakan Jejak Pengabdian

DPRD Jatim, Bhirawa – Kabar duka menyelimuti DPRD Jawa Timur. Anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Madiun–Nganjuk, Pudji Wahyu Widodo, meninggal dunia pada Rabu (29/7/2026) pukul 22.20 WIB di Rumah Sakit Dolopo, Kabupaten Madiun.

Kepergian almarhum meninggalkan kesedihan mendalam, bukan hanya bagi keluarga dan konstituennya, tetapi juga rekan-rekan sesama legislator yang mengenal sosoknya sebagai pribadi sederhana, rendah hati, dan memiliki dedikasi tinggi sebagai wakil rakyat.

Di tengah hiruk pikuk politik yang kerap identik dengan kemewahan dan protokoler, Pudji justru memilih jalan yang berbeda. Kesederhanaan menjadi bagian dari kesehariannya.

Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPRD Jatim, Hadi Setiawan, mengenang almarhum sebagai sosok yang tak pernah memperlihatkan kebesaran dirinya, meski memiliki rekam jejak panjang sebagai mantan Kepala Dinas Pendidikan dan tokoh di salah satu paguyuban pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

“Beliau adalah sosok yang luar biasa, tetapi sangat rendah hati. Tidak pernah menunjukkan bahwa beliau orang besar atau memiliki pengaruh yang besar,” ujar Hadi.

Salah satu kisah yang paling membekas baginya terjadi pada hari pelantikan anggota DPRD Jawa Timur.

Alih-alih datang dengan kendaraan dinas atau iring-iringan pendukung, Pudji memilih berangkat menggunakan bus umum dari kediamannya di Madiun menuju Terminal Purabaya, Sidoarjo.

Dari sana, ia kembali berganti bus menuju Kantor DPRD Jawa Timur di Jalan Indrapura, Surabaya.

Berita Terkait :  Kota Batu Raih Anugerah Pandu Negeri 2024 Kategori Umum

Kesederhanaan itu berlanjut saat gladi bersih pelantikan. Seorang staf DPRD bahkan tak mengenalinya sebagai calon anggota dewan yang akan dilantik.

Penampilannya begitu sederhana dengan kemeja putih polos, sementara jas resmi yang akan dikenakan disimpan rapi di dalam tas.

“Beliau tidak ingin tampil berbeda. Bahkan jasnya disimpan di dalam tas. Itu menggambarkan bagaimana beliau memaknai jabatan, bukan sebagai simbol kemewahan, tetapi sebagai amanah,” tutur Hadi.

Namun, perjalanan pengabdian Pudji sebagai legislator tak berlangsung mudah. Beberapa bulan setelah dilantik, kondisi kesehatannya mulai menurun hingga harus menjalani perawatan intensif.

Meski demikian, semangatnya untuk menjalankan tugas sebagai wakil rakyat tak pernah surut.

Menurut Hadi, setiap kali mendapat penugasan dari partai maupun DPRD, Pudji selalu berusaha hadir, sekalipun tubuhnya sedang berjuang melawan penyakit.

Ia bahkan pernah mengikuti agenda di Jakarta dalam kondisi masih menggunakan alat bantu pencernaan. Keesokan harinya, ia harus menjalani perawatan penuh di rumah sakit.

“Beliau selalu taat terhadap tugas. Walaupun sakit, beliau tetap datang. Itu yang membuat kami semua sangat menghormatinya,” kenangnya.

Dedikasi itu juga terlihat saat masa reses terakhir. Di tengah kondisi fisik yang terus melemah, Pudji tetap menemui masyarakat dengan menggunakan kursi roda.

Baginya, menyerap aspirasi warga bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan janji yang harus ditunaikan kepada masyarakat yang telah memberikan kepercayaan.

Berita Terkait :  10 Penyimpanan Cloud Terbaik 2024

“Informasinya saat reses kemarin beliau tetap hadir meski menggunakan kursi roda. Beliau menjalankan kewajiban itu walaupun sedang sakit,” kata Hadi.

Kepergian Pudji meninggalkan ruang kosong di Fraksi Golkar DPRD Jatim. Hadi mengaku kehilangan seorang kolega yang tidak hanya bersahaja, tetapi juga memberikan teladan tentang arti pengabdian.

“Kami dari Fraksi Partai Golkar sangat berduka. Semoga Allah SWT mencatat seluruh amal ibadah dan kebaikan beliau, serta menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya,” ucapnya.

Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Jawa Timur, Pranaya Yudha Mahardika, turut membenarkan kabar duka tersebut. Ia menyampaikan bahwa Pudji Wahyu Widodo mengembuskan napas terakhir pada Rabu malam pukul 22.20 WIB di Rumah Sakit Dolopo, Kabupaten Madiun.

Kepergian Pudji Wahyu Widodo menjadi pengingat bahwa jabatan bukanlah ukuran kemuliaan seseorang. Justru melalui kesederhanaan, kedisiplinan, dan pengabdian yang dijalani hingga akhir hayat, ia meninggalkan jejak yang akan terus dikenang oleh rekan-rekan sejawat maupun masyarakat yang pernah diwakilinya.  [geh.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!