32 C
Sidoarjo
Sunday, September 20, 2026
spot_img

Kesehatan Mental Anak Meningkat, RSD Prof dr Moeljono Dorong Deteksi Dini di Sekolah

Surabaya, Bhirawa. – Rumah Sakit Daerah (RSD) Prof. dr. Moeljono Surabaya perkuat upaya pencegahan dan deteksi dini persoalan kesehatan mental anak dan remaja. Langkah tersebut dilakukan menyusul meningkatnya kunjungan kasus kesehatan mental anak dan remaja yang ditangani rumah sakit dalam beberapa tahun terakhir.

Direktur RSD Prof. dr. Moeljono, drg. Vitria Dewi, M.Si., mengatakan penanganan kesehatan mental anak tidak cukup hanya mengandalkan layanan kuratif di rumah sakit. Diperlukan keterlibatan keluarga, sekolah, pemerintah daerah, serta berbagai pihak terkait agar persoalan dapat dikenali dan ditangani sejak dini. “Kalau kemudian ke rumah sakit untuk kuratif, hanya mengobati saja, saya bilang tidak bisa. Kalau rumah sakit hanya diam, tidak akan mutu,” kata Vitria.

Lanjut Vitria menjelaskan jumlah kunjungan kasus kesehatan mental anak dan remaja menunjukkan peningkatan signifikan, pada 2022 tercatat 1.570 kunjungan, meningkat menjadi 2.228 kunjungan pada 2023. “Lonjakan terjadi pada 2024 dengan mencapai 11.088 kunjungan, angka itu kembali meningkat menjadi 11.269 kunjungan pada 2025,” jelasnya.

Vitria menegaskan, angka tersebut merupakan jumlah kunjungan dan bukan jumlah anak atau pasien unik. Sebab, satu anak dapat melakukan kunjungan atau kontrol lebih dari satu kali. “Peningkatan kebutuhan layanan tersebut mendorong RSD Prof. dr. Moeljono memperkuat kolaborasi lintas sektor, antaranya bersama PKK, Pemerintah Kota Surabaya, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Kominfo, hingga kepolisian.

Berita Terkait :  Layanan Humanis Polres Lamongan Saat Aksi Unjuk Rasa PC PMII

“Persoalan kesehatan mental anak tidak berdiri sendiri, terdapat anak menghadapi persoalan keluarga, lingkungan sosial, penggunaan internet, perundungan (bullying), hingga persoalan hukum yang membutuhkan perlindungan khusus,” Ujarnya.

Vitria mengukapkan perlunya deteksi dini serta diperkuat melalui lingkungan sekolah, contohkan sebuah sekolah dengan jumlah siswa lebih dari 2.000 orang, asesmen yang dilakukan, ditemukan sekitar 400 hingga hampir 500 anak yang mengalami persoalan kesehatan mental. “Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena sekolah hanya memiliki empat guru bimbingan dan konseling (BK),” tuturnya.

Vitria menyampaikan akan melibatkan tenaga profesional untuk melakukan asesmen sekaligus memberikan penguatan kapasitas kepada para guru. “Langkah ini diharapkan membuat guru mampu mengenali tanda-tanda awal persoalan psikologis pada siswa dan mengambil langkah awal sebelum anak membutuhkan penanganan lebih lanjut,” ungkapnya.

Selain sekolah, Vitria menekankan pentingnya peran keluarga dalam menjaga kesehatan mental anak. Hubungan orang tua dan anak yang kurang baik, minim komunikasi, maupun pola pengasuhan yang tidak optimal dapat membuat anak kehilangan ruang untuk menyampaikan persoalan yang dihadapinya.

“Bullying tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, tetapi dapat muncul dalam keluarga, ucapan yang merendahkan, membandingkan anak dengan saudara, maupun membuat anak merasa tidak berharga dapat memberikan dampak terhadap kondisi psikologis anak,” jelasnya.

Vitria menambahkan deteksi dini perlu dilakukan sedekat mungkin dengan lingkungan tempat anak tumbuh, terutama keluarga dan sekolah, persoalan kesehatan mental anak dapat terjadi pada berbagai lapisan masyarakat dan tidak semata-mata berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga.

Berita Terkait :  Respon Cepat Laporan Warga, Polres Situbondo Ungkap Peredaran Narkotika Jenis Sabu-Sabu

Sementara itu, Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur Dr. Suko Widodo menjelaskan perkembangan teknologi bisa mengurangi interaksi langsung dan kepekaan emosional manusia. “Manusia tergantung teknologi, tidak otentik lagi sebagai manusia, masa silam orang bisa saling bercakap-cakap, ketemu, mendengarkan, sekarang mereka tidak bertemu, mereka tidak berjumpa, tapi ketemu dalam ruang digital yang itu menjadi agak tidak touchable, jadi tingkat kepekaan emosinya enggak ada,” pungkasnya.[ren.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!