Kab Malang, Bhirawa – Collective Studios melalui lini pengembangan kekayaan intelektual orisinalnya, History Verse, bersama Galleri 5 dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari mengumumkan kerja sama strategis untuk mengembangkan cerita-cerita asli Indonesia menjadi karya film dan serial yang berpotensi menjangkau penonton di seluruh dunia.
Kerja sama strategis ini resmi antara Indonesia dan India untuk mengangkat cerita dan budaya lokal Indonesia, seperti sejarah, mitologi, dan fantasi ke kancah perfilman dunia. Sedangkan kerja sama ini melibatkan tiga pihak utama, yakni dengan Collective Studios (History Verse) sebagai pengembang ide cerita dan karya orisinal.
Kolaborasi Indonesia-India memadukan kekayaan cerita dan talenta kreatif Indonesia dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) serta pengalaman produksi film India untuk mengembangkan film, serial, dan kekayaan intelektual (IP) orisinal bagi audiensinternasional.
Galleri 5 sebuah perusahaan teknologi asal India yang menyediakan platform pembuatan film berbasis AI. Dan juga melibatkan KEK Singhasari, Kabupaten Malang, sebagai wadah atau fasilitator pengembangan ekosistem kreatif dan teknologi digital Indonesia. Demikian yang disampaikan Vice President (VP) International KEK Singhasari, Kabupaten Malang Nathania Limanto, Rabu (28/10/2026), kepada wartawan.
Sedangkan, kata dia, kolaborasi ini diumumkan dalam forum Indonesia-India Creative Tech-Corridor, pada Jumat (24/10/2026), di Jakarta, yang bertepatan dengan peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional 2026.
“Forum tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif bersama Kedutaan Besar India di Jakarta, dengan KEK Singhasari sebagai mitra pelaksana,” jelasnya.
Kemitraan ini, Nathania menuturkan, berfokus pada pengembangan cerita yang berakar pada kekayaan budaya Indonesia, termasuk mitologi, fantasi, sejarah, dan animasi. Talenta kreatif serta pemahaman budaya lokal Indonesia akan dipadukan dengan kapabilitas pengembangan IP orisinal Collective Studios dan teknologi serta alur kerja produksi berbasis AI yang dikembangkan Galleri 5 di India
Dia menyampaikan, dalam sambutan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, sekaligus Ketua Dewan Nasional KEK Airlangga Hartarto dan Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya telah menegaskan, bahwa penggunaan teknologi AI ditujukan untuk meningkatkan produktivitas, memperluas cakupan produksi, dan melindungi Hak Kekayaan Intelektual (IP) milik kreator Indonesia. Artificial Intelligence harus menjadi sarana peningkatan produktivitas dan daya saing talenta kreatif Indonesia. Kecerdasan buatan ini harus memberdayakan creator lokal, bukan menggantikan mereka.
“Pak Menteri Hartarto juga menekankan pentingnya memastikan setiap kemitraan yang melibatkan talenta dan cerita Indonesia, sekaligus melindungi, mengembangkan, dan meningkatkan nilai tambah kekayaan intelektual nasional,” papar Nathania.
Dalam kesempatan itu, kata dia, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya, saat itu juga menyampaikan bahwa kolaborasi ini lahir dari upaya mempertemukan kekuatan kreatif kedua negara.
Dengan melalui berbagai diskusi, kami melihat peluang untuk menghubungkan kekayaan cerita budaya dan talenta kreatif Indonesia dengan kemampuan India yang maju dalam bidang teknologi dan produksi audiovisual.
“Visi bersama inilah yang melahirkan Indonesia–India Creative-Tech Corridor,sekaligus pengembangan Creative-Tech Sandbox yang akan membuka peluang kolaborasi bagi kreator dan mitra industri,” tutur Pak Menteri Ekraf. [cyn.kt]




