Sebagaibagiandarikomunitas akademik yang menjunjung tinggi kebenaran ilmiah dan pengabdian masyarakat, saya merasa terpanggil untuk menyuarakan kegelisahan mendalam terkait bencana tahunan yang terus mengancam kelestarian ekologis bangsa kita: Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Kampus, sebagai menara api peradaban dan pusat inovasi, tidak boleh lagi sekadar menjadi penonton pasif atau komentator di menara gading saat jutaan hektare paru-paru hijau kita lenyap dilalap api dan kabut asap pekat merenggut hak hidup sehat masyarakat luas.
Kita sering kali berdiskusi di ruang-ruang kelas yang nyaman tentang dampak destruktif perubahan iklim global. Namun, aksi konkret di lapangan untuk mencegah pemicu utamanya, yaitu kelalaian manusia dalam tata kelola lahan, masih sangat minim. Karhutla bukan sekadar isu lingkungan sektoral, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan, ekologi, dan ekonomi yang bersifat sistemik. Oleh karena itu, sudah saatnya dunia perguruan tinggi mengambil peran kepemimpinan yang progresif melalui gerakan edukasi penyelamatan hutan yang terstruktur, berbasis riset multidisiplin, dan menyentuh langsung akar rumput.
Dunia kampus memiliki modal sosial serta intelektual yang luar biasa besar untuk menjadi motor penggerak transformasi ini. Kita dapat memulai dari integrasi kurikulum pencegahan bencana di tingkat universitas, optimalisasi program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik yang berfokus pada edukasi metode pembukaan lahan tanpa bakar kepada masyarakat desa, hingga pemanfaatan teknologi tepat guna hasil riset mahasiswa untuk mendeteksi dini titik api secara akurat. Mahasiswa harus dibekali pengetahuan komprehensif agar mampu menjadi agen perubahan dan komunikator sains yang andal bagi warga sekitar.
Edukasipreventifadalahkunci utama yang paling rasional. Pemadaman api saat bencana telah terjadi hanyalah solusi jangka pendek yang sangat mahal dan melelahkan. Kampus harus mampu mengubah paradigma berpikir masyarakat melalui edukasi yang konsisten, ilmiah, namun tetap praktis serta mudah dipahami. Melalui surat ini, saya mengajak seluruh elemen civitas akademika-mulai dari jajaran rektorat, dosen, hingga organisasi kemahasiswaan-untuk bersinergi menyusun cetak biru kampus peduli hutan.
Mari kita buktikan bahwa dedikasi ilmiah kita tidak hanya tertulis di atas kertas jurnal, melainkan berdampak langsung pada kelestarian bumi pertiwi. Hutan adalah masa depan kita bersama, dan langkah nyata penyelamatannya harus dimulai secara masif dari gerakan kesadaran moral dan komitmen penuh kita hari ini juga demi kelestarian alam semesta kelak.
Amanda Putri Salsabila
Mahasiswa PTS di Surabaya
Pegiat gerakan cinta lingkungan




