Lebih dari enam dekade berdiri, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya terus berupaya menjaga identitasnya sebagai Kampus Merah Putih. Bukan hanya melalui proses pendidikan di ruang kelas, tetapi juga lewat prestasi mahasiswa, inovasi dosen, pengabdian kepada masyarakat hingga kiprah di tingkat internasional.
Oleh :
Diana Rahmatus, Kota Surabaya
Sepanjang Januari hingga September 2026, perjalanan Untag Surabaya diwarnai berbagai capaian civitas akademika. Memasuki tahun akademik baru, sebanyak 3.160 mahasiswa baru bergabung melalui Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).
Pada periode yang sama, 3.428 mahasiswa menuntaskan pendidikan dan mengikuti wisuda. Rinciannya, sebanyak 1.470 wisudawan pada Februari dan 1.958 wisudawan pada Agustus 2026.
Rektor Untag Surabaya Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T. mengatakan, berbagai capaian tersebut menjadi bagian dari upaya kampus mengembangkan potensi mahasiswa sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat.
Perjalanan itu terlihat dari beragam prestasi mahasiswa. Di bidang nonakademik, mahasiswa Untag Surabaya meraih gelar Winner Putri Duta Indonesia Juara Batch III 2026. Prestasi juga datang dari cabang olahraga. UKM Jiu-Jitsu membawa pulang 12 medali dari PBJI Jakarta Open 2026.
UKM PSHT bahkan mencatatkan 18 medali pada Jakarta National Championship 4 Tahun 2026 dan 13 medali pada Bogor Championship 2 Tahun 2026. Sementara tim Taekwondo Untag Surabaya mengoleksi 20 medali dalam Kejuaraan Provinsi Taekwondo Antar Club Jawa Timur 2026.
Kiprah mahasiswa tidak berhenti di tingkat nasional. Pada ajang Polish Indoor Hockey Superliga Network di Polandia, mahasiswa Untag Surabaya turut menyumbangkan medali perunggu.
Di bidang akademik dan inovasi, Harjo juga menyebutkan sejumlah karya mahasiswa yang berhasil mendapatkan pengakuan. Di antaranya Bronze Medal pada Mandalika Essay Competition (MEC) 8 tingkat nasional, Bronze Medal dan Favorite Poster pada 2nd International Student Summit 2026 di Universiti Sains Islam Malaysia, serta tiga Gold Medal dalam Toba Creative Competition tingkat nasional.
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi juga meraih Juara 2 tingkat nasional dalam Digital Leadership Challenge: A Brief Case Analysis.
Namun, capaian Untag Surabaya tidak semata diukur dari jumlah medali. Kampus juga mendorong mahasiswa menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Melalui Program Mahasiswa Berdampak 2026, tim kami juga meraih dua penghargaan nasional, yakni Silver Award kategori Pelaksanaan Program dan Bronze Award kategori Poster. Program tersebut diarahkan pada penguatan ekonomi melalui ketahanan pangan dan mitigasi bencana di Desa Gunung Penanggungan, Mojokerto,”ungkap Harjo.
Tak berhenti disana, semangat pengabdian juga hadir dalam berbagai aksi kemanusiaan. Pada momentum Mudik Lebaran 2026, Harjo menjabarkan sebanyak 17 mahasiswa menjadi relawan yang membantu dan mengarahkan pemudik di sejumlah stasiun dan terminal. Sebanyak 12 mahasiswa dari berbagai UKM juga terlibat dalam Relawan Tanggap Bencana dan Kemanusiaan NTT 2026.
Kiprah civitas akademika bahkan menjangkau kawasan Asia Pasifik dan Oseania.
“Melalui Satgas Port Visit 2026, lima relawan yang terdiri dari dua dosen dan tiga mahasiswa kami diberangkatkan menggunakan KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 untuk mengikuti misi ke empat negara,”jelasnya.
Menembus Batas Kampus
Deretan prestasi tersebut menjadi bagian dari proses Untag Surabaya memperkuat kualitas pendidikan dan daya saing perguruan tinggi.
Berdiri sejak 17 Agustus 1958, Untag Surabaya kini memiliki sembilan fakultas dan 35 program studi. Lebih dari 50 persen program studi telah meraih akreditasi Unggul.
Upaya memperkuat mutu juga terlihat dari pengakuan eksternal. Untag Surabaya tercatat dalam Top 250 QS South-Eastern Accredited Asia University Ranking 2025. Sejumlah program studi juga telah memperoleh sertifikasi AUN-QA (ASEAN University Network-Quality Assurance), yang menjadi salah satu penanda pengembangan standar pendidikan di tingkat kawasan ASEAN.
Sepanjang 2025-2026, mahasiswa Untag Surabaya mencatat lebih dari 800 prestasi akademik dan nonakademik.
“Capaian ini menunjukkan bahwa proses pendidikan di kampus tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pengembangan kemampuan mahasiswa melalui berbagai aktivitas dan kompetisi,”terangnya.
Pengembangan kampus juga mendapat sejumlah penghargaan. Di antaranya Anugerah Inovasi Kampus Terpuji kategori Integrasi Teknologi dengan Nasionalisme, Penghargaan Akselerator Inovasi menuju World Class University, serta Anugerah Kampus Unggulan di Wilayah VII Jawa Timur kategori Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.
Untag Surabaya juga meraih peringkat pertama dalam peningkatan implementasi terbaik terkait upaya pencegahan intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual di Jawa Timur.
Dengan jumlah mahasiswa mencapai 15.483 orang dari berbagai daerah di Indonesia, jejaring Untag Surabaya terus berkembang. Saat ini kampus memiliki lebih dari 200 mitra internasional dan 430 mitra nasional yang mendukung berbagai program pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Jejaring tersebut diperkuat oleh keberadaan alumni Untag Surabaya yang telah tersebar di enam benua dan 50 negara.
Menjaga Merah Putih, Merawat Lingkungan
Di tengah tuntutan perguruan tinggi untuk semakin kompetitif, Untag Surabaya juga menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai bagian dari pengembangan kampus.
Melalui program Eco Campus, Untag Surabaya mencatat peningkatan dalam UI GreenMetric World University Rankings 2026. Posisi kampus berada di peringkat 751 dunia, naik 102 posisi dibandingkan peringkat 853 pada 2025.
“Di tingkat nasional, Untag Surabaya menempati peringkat 82, meningkat tujuh posisi dari peringkat 89 pada tahun sebelumnya,”sebut Harjo.
Berbagai capaian tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan Kampus Merah Putih tidak berhenti pada pencapaian akademik. Pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan prestasi, kepedulian lingkungan, hingga patriotisme menjadi bagian dari perjalanan civitas akademika.
Di usianya yang telah lebih dari enam dekade, Untag Surabaya terus berusaha menjaga keseimbangan antara tuntutan menjadi perguruan tinggi yang berdaya saing dengan identitas kebangsaan yang melekat sejak awal berdirinya.
“Bagi Kampus Merah Putih, prestasi bukan sekadar angka atau penghargaan. Di balik setiap capaian, terdapat upaya membentuk mahasiswa yang memiliki kompetensi, keberanian berinovasi, sekaligus kepedulian untuk memberi manfaat bagi masyarakat dan bangsa,”pungkas Harjo. [ina.gat]




