Pemkab Bogor, Bhirawa
Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto menuntaskan pelatihan Senior Disaster Management Training (SDMT) Angkatan III yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Pusdiklat Penanggulangan Bencana Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kegiatan berlangsung selama 12 hari, mulai 4 hingga 16 Mei 2026.
Pelatihan diikuti 68 Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Provinsi, Kabupaten dan Kota se-Indonesia. Pembukaan dilakukan Kepala BNPB Letjen TNI Dr Suharyanto, sedangkan penutupan dipimpin Sekretaris Utama BNPB Dr Rustian.
Dalam arahannya, Kepala BNPB menegaskan Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia. Bahkan, Indonesia kerap dijuluki sebagai ‘laboratorium bencana’ oleh dunia internasional.
Menurut Suharyanto, kondisi ini harus menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
”Pemimpin penanggulangan bencana di daerah harus mampu membaca situasi dengan cepat dan tepat serta mengambil keputusan terukur dalam kondisi darurat,” ujarnya.
Selama pelatihan, peserta mendapat berbagai materi dan praktik, mulai pengenalan sistem penanggulangan bencana, kepemimpinan saat krisis, manajemen informasi dan komunikasi kebencanaan, rehabilitasi dan rekonstruksi, pengelolaan logistik dan peralatan hingga gladi Posko.
Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkuat koordinasi dan komunikasi lintas sektor antar daerah dalam penanganan kebencanaan.
Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto mengatakan, SDMT menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat pola penanganan bencana di daerah, khususnya di Jawa Timur.
Salah satu agenda yang menarik perhatian peserta, lanjut Gatot, yakni kunjungan lapangan melihat success story penanganan pascabencana di sejumlah lokasi. Di antaranya peninjauan pengolahan sampah pascabencana di TPS Cijantung, Jakarta.
Di lokasi itu, peserta melihat langsung penggunaan Motah atau Mesin Olah Runtah yang digunakan untuk mengolah sampah pascabencana seperti banjir, longsor maupun puting beliung.
”Teknologi ini cukup bagus dan efisien karena tidak membutuhkan listrik maupun bahan bakar, suhu pembakarannya tinggi dan lebih ramah lingkungan karena minim asap,” kata Gatot.
Menurutnya, teknologi tersebut telah dilaporkan kepada Gubernur Jawa Timur dan direncanakan diuji coba di Kabupaten Tuban. ”Rencananya akan diuji coba satu unit di Tuban,” tambahnya.
Gatot menambahkan, banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang diperoleh peserta selama pelaksanaan SDMT dan dapat diterapkan di daerah masing-masing.
”Yang terpenting jangan pernah lelah belajar di posisi apa pun saat ini. Tantangan ke depan tidak semakin mudah. Selain itu, jejaring kemitraan juga harus diperkuat karena penanganan bencana tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi berbagai unsur masyarakat,” tandasnya. [fir.fen]


