Bincang Peluang dan Networking HDI Main Hive, Jalan Manyar Kertoarjo Surabaya, Sabtu (18/7/2026) siang.
Surabaya, Bhirawa. – Dalam era perubahan cepat, kemampuan menjual hanyalah satu bagian dari teka-teki. Komunikasi yang baik dan jaringan yang kuat, didukung sistem yang tepat dan mental pengusaha yang kuat, menjadi modal utama agar bisnis tidak sekadar bertahan tetapi berkembang.
Di dunia bisnis yang serba dinamis, kemampuan berjualan saja tak lagi menjadi jaminan kesuksesan. Menurut Istri Hayati, pemilik Buss Centre HDI Serang, kemampuan membangun jaringan dan berkomunikasi menjadi faktor penentu yang lebih penting. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Bincang Peluang dan Networking yang digelar di HDI Main Hive, Jalan Manyar Kertoarjo Surabaya, Sabtu (18/7/2026) siang.
Bisnis berubah cepat, Istri, begitu ia karib disapa, menjelaskan bahwa perubahan di dunia usaha terjadi sangat cepat. Sektor atau kebutuhan yang dulu tidak relevan bisa tiba-tiba menjadi penting karena pergeseran ekosistem pasar.
Dalam kondisi seperti itu, perusahaan yang memiliki jaringan (networking) yang kuat akan lebih mudah merespons perubahan dan berkembang bersama bidang-bidang pendukung yang muncul.
“Perubahan membutuhkan bidang tertentu, maka dengan networking yang bagus dan luas, maka perusahaan yang dikembangkan juga bakal berkembang dan mampu merespon perkembangan ekosistem pasar yang dinamis,” ujar Istri.
Menurut Istri, jaringan dan komunikasi menjadi modal utama. Dari pengalamannya, orang-orang yang pandai membangun bisnis adalah mereka yang piawai membangun jaringan. Kunci dari pembangunan jaringan adalah kemampuan komunikasi yang baik.
Kata Istri, komunikasi bukan sekadar bertukar informasi, tetapi juga membangun kepercayaan, membuka peluang kolaborasi, dan menemukan sumber daya yang relevan saat dibutuhkan.
Membangun jaringan bukan tanpa tantangan. Banyak calon pelaku usaha takut menghadapi tekanan pekerjaan. Untuk menjadi pebisnis yang berhasil, Istri menekankan pentingnya menciptakan tekanan kerja pada diri sendiri, sebuah dorongan internal yang memaksa pemilik usaha untuk berkembang dan bertanggung jawab atas kemajuan usahanya.
“Orang takut dengan tekanan pekerjaan. Namun ketika membangun bisnis, seseorang harus menciptakan tekanan pekerjaan pada diri sendiri,” kata Istri.
Dalam perbincangan, ia juga mengingatkan perbedaan antara sekadar bekerja dan membangun aset. Bekerja terus-menerus tanpa membangun aset bisa membuat hasil jerih payah selama puluhan tahun tidak menjadi milik pribadi, melainkan menjadi hak perusahaan tempat orang tersebut bekerja. Pengusaha harus mengarahkan energi tidak hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk menciptakan aset yang berkelanjutan.

Istri memberi contoh pengalaman profesionalnya. Saat bekerja di perusahaan sebelumnya, dua riset yang ia hasilkan dipatenkan atas nama perusahaan. Ketika ingin memanfaatkan karya tersebut, ia harus meminta izin dan mencantumkan nama perusahaan, sebuah praktik yang memang diatur dalam ketentuan perusahaan. Pengalaman ini menegaskan pentingnya memahami aturan hak kekayaan intelektual dan kebijakan internal ketika berkarier di perusahaan.
Sebagai penutup, Istri membagikan tiga poin penting bagi calon pengusaha. Pertama adalah komunitas. Bangun koneksi yang relevan, artinya, komunitas memberi akses pada kolaborasi, sumber daya, dan peluang pasar.
“Kedua, adalah sistem. Rancang struktur dan proses yang memungkinkan bisnis berjalan konsisten tanpa bergantung pada individu semata. Ketiga adalah mental entrepreneur. Kembangkan sikap tangguh, disiplin, dan kesiapan menerima risiko serta tekanan,” tutupnya. [aya.hel].


