Jombang, Bhirawa – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin bersama Ketua Umum PP Majelis Alumni IPNU, Prof KH Asrorun Niam Sholeh atau Gus Niam memberikan motivasi berharga kepada para santri.
Keduanya mengajak para santri menjadikan ajang olahraga internasional seperti Piala Dunia sebagai media pembelajaran untuk membangun karakter, kedisiplinan, kerja sama, dan spiritualitas.
Pesan kebangsaan dan keagamaan tersebut disampaikan dalam suasana hangat menjelang acara nonton bareng (nobar) pertandingan sepak bola di Ribath Al Lathifiyah 2 dan Al Wahabiyah 1 Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Acara ini turut dihadiri oleh Ibu Nyai Dr. Dra. Hj. Lelly Lailiyah, M.M, Sekjen Presidium Pusat Majelis Alumni IPNU Idy Muzayad, serta para sesepuh IPNU dan kiai muda.
Mewakili Pengasuh Ribath Al Lathifiyah 2 Ibu Nyai Hj Mundjidah Wahab, H Mujtahidur Ridho atau Gus Edo menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran para tokoh nasional tersebut di tengah-tengah santri.
Dia berharap para santri dapat memetik petuah serta nasehat berharga dari silaturahmi ini, terlebih menjelang perhelatan akbar Muktamar Ke-35 NU yang akan dipusatkan di Tambakberas.
Dalam arahannya di hadapan santri, Prof KH Asrorun Niam Sholeh menekankan pentingnya memanfaatkan masa muda untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya tanpa mengenal lelah.
Dia mengapresiasi Bu Nyai Lelly sebagai sosok senior yang tetap bersemangat menempuh pendidikan tertinggi di Universitas Airlangga meski usianya tak lagi muda.
“Di usianya yang sudah sepuh saja beliau mampu menyelesaikan pendidikan tertinggi,” tutur Gus Niam, Senin (20/07).
“Mumpung kalian masih segar bugar dan di usia remaja, maka harus dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk belajar menempuh cita-cita,” ujar Gus Niam.
Lebih lanjut, Gus Niam mengutip syair Imam Syafi’i tentang keutamaan dan pentingnya menuntut ilmu di masa muda.
Dia mengingatkan bahwa seseorang yang kehilangan kesempatan belajar saat usia muda ibarat orang mati yang sudah layak ditakbiri sebanyak empat kali.
Dia menegaskan bahwa berbagai pintu kesuksesan di masa depan, mulai dari menjadi pimpinan organisasi hingga kepala daerah, hanya bisa dibuka melalui jalur belajar dan tempaan proses.
Oleh karenanya, para santri diimbau agar tidak menyia-nyiakan waktu emas mereka selama menimba ilmu di dalam pondok pesantren.
Gus Niam juga menganalogikan perjuangan organisasi NU dengan dinamika pertandingan sepak bola.
Dia menyoroti persaingan sehat antara pemain senior seperti Lionel Messi dan pemain muda Lamine Yamal yang tetap menjunjung tinggi nilai persahabatan di luar lapangan.
Meneladani para pendiri NU seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah, Gus Niam menekankan bahwa NU bisa menjadi organisasi besar karena kekuatan kolaborasi. Kunci utama untuk membesarkan NU ke depan adalah dengan membangun kebersamaan dan sinergi, bukan memelihara permusuhan.
Senada dengan Gus Niam, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyebutkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap sepak bola sebenarnya menyimpan nilai filosofis yang sangat relevan dengan kehidupan pesantren.
Menurut Gus Kikin, olahraga sepak bola menuntut kedisiplinan tingkat tinggi, keahlian individu (skill), serta kerja sama tim (teamwork) yang solid.
Gus Kikin mengibaratkan kesuksesan sebuah tim dengan pepatah arab populer ‘Al-haqqu bila nidzom, yaglibuhul bathil bin nidzom’. Artinya, sebuah kebenaran atau kebaikan yang tidak dikelola dengan sistem yang baik akan dengan mudah dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir secara rapi.
Gus Kikin juga mencontohkan kerja keras pemain muda Lamine Yamal yang mampu menembus panggung sepak bola dunia karena ketekunan dan latihan intensif sejak dini. Contoh nyata ini diharapkan dapat memicu semangat para santri untuk mengukir prestasi terbaik sesuai dengan bakat dan minat masing-masing.
Gus Kikin kembali mengingatkan agar para santri tidak melewatkan masa muda mereka secara percuma tanpa karya. Bekal ilmu agama dan karakter yang didapatkan di pondok pesantren diharapkan kelak memberikan manfaat yang luas saat para santri telah terjun dan berbaur di tengah masyarakat.
Terkait persiapan Muktamar NU ke-35, Gus Kikin sempat mengulas sejarah perjalanan muktamar yang terus berkembang dari agenda tahunan menjadi agenda lima tahunan.
Gus Kikin meminta seluruh santri untuk mengambil keberkahan ilmu dari para kiai dan ulama dari berbagai daerah yang akan hadir di Tambakberas.
Gus Kikin juga menegaskan bahwa santri masa kini harus memegang teguh tradisi lama yang baik (al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih), namun tetap adaptif terhadap inovasi zaman (wal akhdzu bil jadidil ashlah). Santri tidak boleh gagap terhadap perkembangan modernisasi agar tetap mampu memimpin dan mengarahkan masyarakat.
Menutup tausiyahnya, Gus Kikin menantang kesiapan seluruh santri untuk bertransformasi menjadi pribadi yang unggul dan berdaya saing tinggi. Sebab, peran serta kontribusi alumni pesantren sangat dinantikan oleh publik, mulai dari memimpin kegiatan keagamaan hingga menjadi penggerak utama syiar Islam Rahmatan lil ‘Alamin. [rif.kt]


