27.8 C
Sidoarjo
Tuesday, July 28, 2026
spot_img

Incar Juara Umum, Dindik Jatim Kawal Ketat LKS Nasional


Dindik Jatim, Bhirawa – Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Pendidikan Menengah (Dikmen) Tingkat Nasional 2026 resmi dimulai pada Senin (28/7). Sebanyak 37 ajang lomba dan satu ekshibisi baru kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) di kompetisikan dalam gelaran ajang bergengsi inu. Kompetisi diselenggarakan secara hybrid, terdiri atas 19 cabang yang berlangsung daring dan 18 cabang dan satu ekshibisi AI yang digelar luring di Jakarta dan Banten.

Di Jawa Timur, Sidoarjo menjadi tuan rumah untuk kompetisi daring di tiga sekolah, yakni SMKN 1 Buduran, SMKN 2 Buduran, dan SMKN 3 Buduran.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengatakan pelaksanaan lomba secara daring berjalan sesuai rencana. Berdasarkan laporan yang diterima dari seluruh panitia lokasi (panlok), baik peserta maupun tim pendamping dapat mengikuti kompetisi dengan baik.

“Kita tetap optimistis dari berbagai kompetisi yang diikuti siswa, baik daring maupun luring. Sementara ini laporan yang kami terima seluruh pelaksanaan berjalan baik dan lancar. Ada cabang yang sudah selesai hari ini, ada pula yang masih berlanjut hingga besok,” ujar Aries, usai meninjau lomba LKS daring di SMKN 1 Buduran, Selasa (28/7).

Ia menambahkan, kelancaran pelaksanaan tidak lepas dari dukungan guru pembimbing, tim pendamping, serta panitia lokasi yang mengawal seluruh proses, mulai dari persiapan, pelaksanaan hingga evaluasi.

“Yang menjadi apresiasi adalah guru pembimbing dan tim pendamping terus memberikan dukungan kepada peserta. Ini bagian dari proses luar biasa. Panitia lokasi juga bertanggung jawab penuh mulai persiapan hingga evaluasi. Ini menunjukkan komitmen yang sangat baik,” katanya.

Berita Terkait :  Cetak Siswa Berkarakter dan Berbudi Pekerti Luhur, SDN 5 Dawuhan Gagas Program Inovasi KASI IBU

Pada LKS Dikmen Nasional 2026, Jawa Timur menargetkan meraih 20 medali emas, masing-masing 10 emas dari cabang lomba daring dan 10 emas dari cabang luring. Aries mengakui persaingan tahun ini diperkirakan berlangsung ketat, terutama dengan Jawa Tengah yang selama ini menjadi salah satu kompetitor terkuat. Namun, untuk cabang daring kekuatan masing-masing daerah belum dapat dipetakan secara pasti.

“Kompetitor Jawa Tengah masih kuat. Selama lomba daring kita belum bisa mengukur kekuatan lawan. Berbeda dengan lomba luring yang kita bisa melihat langsung kemampuan peserta dari provinsi lain,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala SMKN 1 Buduran, Agustina, menjelaskan sekolahnya menjadi salah satu pusat pelaksanaan tujuh bidang lomba daring, yakni Fashion Technology, Hotel Reception, 3D Game Art, Health and Social Care, Beauty Therapy, Pharmacy, serta Hairdressing.

Menurutnya, pelaksanaan lomba daring justru memiliki tantangan lebih kompleks dibandingkan lomba luring karena sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur. “Kalau luring, yang dipersiapkan lebih kepada kompetensi dan mental peserta. Sedangkan daring, faktor nonteknis seperti internet dan listrik menjadi sangat menentukan,” jelas Agustina.

Untuk mengantisipasi gangguan, panitia telah menyiapkan sistem cadangan, termasuk penggunaan generator set (genset) di lokasi lomba. Langkah tersebut dilakukan karena gangguan listrik meski hanya beberapa detik dapat menyebabkan peserta didiskualifikasi akibat sistem mendeteksi adanya gangguan atau potensi kecurangan.

“Kami memastikan tiga lokasi lomba dapat dikondisikan dengan baik. Genset sudah disiapkan karena pemadaman satu detik saja bisa berakibat fatal bagi peserta,” ujarnya.

Berita Terkait :  Dirjen Diktisaintek jadi Pembicara di Sekolah Kepemimpinan ITS

Khusus pada cabang Fashion Technology, peserta Jawa Timur berada dalam satu ruang virtual bersama daerah-daerah yang selama ini dikenal kuat, seperti Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Sumatera Selatan.

Meski demikian, Agustina optimistis wakil Jawa Timur memiliki peluang besar meraih hasil terbaik. Berdasarkan pengamatan terhadap hasil desain yang dikerjakan sesuai tema lomba, kualitas karya peserta Jawa Timur dinilai lebih unggul. “Kalau melihat kekuatan desain sesuai tema, kami optimistis Jawa Timur memiliki peluang menjadi juara,” pungkasnya.

Sementara itu, pada pembukaan LKS Dikmen Nasional tahun 2026, Senin (27/7) malam, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, mengatakan bahwa LKS merupakan bagian dari upaya pemerintah membangun ekosistem manajemen talenta yang berkelanjutan. Melalui ajang ini, talenta-talenta terbaik dari seluruh Indonesia tidak hanya dipetakan, tetapi juga dibina untuk berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi.

“LKS bukan sekadar perlombaan yang menentukan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, LKS merupakan wahana untuk membangun budaya mutu, budaya inovasi, budaya kerja profesional dan budaya belajar yang berorientasi pada standar kompetensi nasional maupun internasional,” ungkap Dirjen Tatang.

Ia menambahkan, para peserta terbaik akan memperoleh pembinaan lanjutan sebagai bagian dari persiapan mengikuti berbagai kompetisi, seperti ASEAN Skills Competition, WorldSkills Asia, dan WorldSkills International. “Kita berharap semakin banyak talenta Indonesia mampu mengharumkan nama bangsa di panggung dunia,” tambahnya.

Berita Terkait :  Dinas Perikanan Sidoarjo Imbau Masyarakat Gemar Konsumsi Ikan

Sementara itu, Kepala Pusat Prestasi Nasional Maria Veronica Irene Herdjiono melaporkan bahwa penyelenggaraan LKS Dikmen 2026 menunjukkan antusiasme yang semakin tinggi. Tahun ini jumlah pendaftar mencapai 9.942 peserta, meningkat 26,43 persen dibandingkan tahun 2025 yang sebanyak 7.741 peserta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.121 peserta berhasil melaju ke tingkat nasional atau sekitar satu finalis dari setiap sembilan pendaftar.

LKS Dikmen 2026 juga menghadirkan 37 ajang lomba dan satu ekshibisi baru kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI). Kompetisi diselenggarakan secara hybrid, terdiri atas 19 cabang yang berlangsung daring dan 18 cabang dan satu ekshibisi KA/AI yang digelar luring di Jakarta dan Banten.

Berbeda dengan kompetisi pada umumnya, LKS tidak hanya menguji penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga mengasah ketelitian, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, komunikasi, dan kolaborasi. Kehadiran ekshibisi KA/AI menjadi penanda bahwa pendidikan harus mampu bergerak mengikuti perkembangan teknologi. Melalui bidang tersebut, Kemendikdasmen mendorong peserta didik tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara kreatif, produktif, dan bertanggung jawab untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

LKS juga menjadi ruang bagi murid-murid terbaik dari berbagai provinsi untuk saling belajar, bertukar pengalaman, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Melalui ajang ini, Kemendikdasmen berharap semakin banyak talenta muda Indonesia yang tumbuh, saling menginspirasi, serta siap mengharumkan nama bangsa pada berbagai kompetisi di tingkat regional maupun internasional. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!