31 C
Sidoarjo
Sunday, August 30, 2026
spot_img

HUT RI, Jalanan di RW 13  Babat Jerawat di Penuhi Legenda Nusantara

Surabaya, Bhirawa

 Minggu pagi, 30 Agustus 2026, jalan-jalan di lingkungan RW 13, Kelurahan Babat Jerawat, Kecamatan Pakal, Surabaya, tidak lagi sekadar menjadi ruang lalu lalang warga. Sejak pukul 06.00 WIB, kawasan permukiman tersebut berubah menjadi sebuah panggung terbuka.

 Matahari pagi menyinari kostum-kostum beraneka warna, wajah-wajah yang menjelma tokoh legenda, serta langkah warga yang bergerak dalam satu irama: menghidupkan kembali Nusantara.

 Bawang Merah dan Bawang Putih tampak turun ke jalan. Keong Emas kembali hadir di tengah keramaian. Roro Jonggrang seolah bangkit dari ingatan masyarakat Jawa. Joko Tarub, Si Pitung, Ramayana, seni Jaranan, hingga Reog Ponorogo menyatu dalam satu perayaan kebudayaan yang megah.

 Pada pagi itu, legenda tidak lagi terkurung di halaman buku. Kisah-kisah tradisi itu bergerak, berbicara, dan bernapas bersama masyarakat. Warga RW 13 Babat Jerawat tidak sekadar menggelar parade kostum; mereka sedang membawa kembali warisan budaya ke tengah-tengah kehidupan nyata.

Satu RT Satu Budaya

 Keunikan karnaval ini terlihat dari cara setiap Rukun Tetangga (RT) mengemas penampilannya. Setiap lingkungan menghadirkan cerita dan nilai moral yang berbeda, seperti RT 01 menampilkan kisah Ande-Ande Lumut, membawa pesan penting tentang kejujuran, ketulusan, dan martabat,  RT 02 mengangkat legenda Roro Jonggrang yang sarat akan sejarah dan kerja keras.

 Kemudian  RT 03 Menghadirkan Si Pitung, sosok pahlawan rakyat yang melambangkan keberanian melawan ketidakadilan. RT 04 menghidupkan kembali dongeng Joko Tarub. RT 05  menampilkan wiracarita Ramayana, sebuah kisah klasik tentang keberanian dan pengorbanan. RT 06 membangkitkan energi kesenian tradisional melalui Jaranan dan Reog Ponorogo.

 Seakan tak mau kalah RT 07 mengangkat kisah Bawang Merah dan Bawang Putih sebagai ikhtiar mempertemukan nilai ketulusan dan keserakahan dan RT 08 membawakan cerita Keong Emas dengan pesan mendalam mengenai kesetiaan dan keteguhan hati.

Berita Terkait :  Kota Mojokerto Kembali Raih Juara Umum Syariah Awards Jawa Timur 2025

 Meski berasal dari cerita, daerah, dan zaman yang berbeda, seluruh elemen tersebut menemukan satu rumah yakni Nusantara.

Lebih dari Sekadar Karnaval

 Daya tarik karnaval ini bukan semata-mata terletak pada kemeriahan busana. Warga tidak hanya mengenakan pakaian para tokoh legenda, tetapi juga memainkan perannya secara teatrikal. Ekspresi wajah, gerak tubuh, dialog, hingga adegan yang disajikan membuat batas antara panggung seni dan jalan kampung seakan pudar.

 Dampaknya terasa nyata bagi generasi muda. Anak-anak yang tumbuh di era digital kini dapat berhadapan langsung dengan legenda bangsanya sendiri. Roro Jonggrang bukan lagi sebatas nama dalam teks pelajaran, Si Pitung bukan sekadar cerita dongeng sebelum tidur, dan Keong Emas tidak lagi tersembunyi dalam buku cerita. Mereka hadir dan bernapas di depan mata.

 Tokoh masyarakat Babat Jerawat, Idasfiar, memberikan apresiasi tinggi atas antusiasme dan partisipasi aktif seluruh lapisan warga. “Antusiasme warga luar biasa. Mulai dari Ketua RT, ibu-ibu PKK, ibu-ibu Dasawisma, hingga seluruh keluarga ikut terlibat. Orang tua dan anak-anak larut dalam suasana. Inilah bentuk keguyuban yang harus terus dijaga,” tegas Idasfiar.

Gotong Royong Panggung Utama

 Di balik keelokan kostum dan pementasan di jalanan, terdapat proses kerja bersama yang panjang. Tangan-tangan warga bahu-membahu menyiapkan properti, para ibu merapikan busana, sementara anak-anak dan remaja meluangkan waktu untuk berlatih peran.

Berita Terkait :  HUT RI, Spemma Surabaya Launching SPMB 2026-2027

Sebelum para tokoh legenda turun ke jalan, semangat gotong royong telah lebih dahulu bekerja. Itulah panggung sesungguhnya: bukan tentang siapa yang mengenakan kostum paling menarik, melainkan bagaimana sebuah kampung mampu bergerak bersama, menyatukan tenaga, imajinasi, serta kecintaan terhadap budaya bangsa.

Karnaval RW 13 Babat Jerawat mungkin hanya berlangsung di jalanan kampung. Namun, pesan yang dipancarkan melampaui batas geografis lingkungan tersebut. Di tengah arus modernisasi yang deras, warga Babat Jerawat tidak sedang menolak masa depan. Mereka justru menegaskan bahwa bangsa yang melangkah jauh ke depan tidak boleh kehilangan ingatan akan akar sejarahnya.

Jaga Tradisi

 Budaya tidak cukup hanya disimpan di museum, dan tradisi tidak boleh berhenti sebagai catatan arsip semata. Legenda harus terus dipertemukan dengan generasi penerusnya. Ketika iring-iringan karnaval berakhir dan jalanan kembali sepi, hal yang tertinggal bukan sekadar rekam foto di telepon seluler atau kostum yang kembali disimpan di lemari. Ada ingatan kolektif yang telah ditanamkan dengan kuat seperti, legenda akan tetap hidup selama masih ada masyarakat yang bersedia menceritakannya.

 Selan itu kebudayaan akan terus bernapas selama masyarakat memberikan ruang bagi keberadaannya dan gotong royong tetap menjadi kekuatan utama ketika suatu komunitas memilih untuk melangkah bersama.

 Di RW 13 Babat Jerawat, legenda Nusantara tidak dibiarkan menjadi fosil masa lalu. Warga memberinya tubuh, suara, dan langkah, lalu mengajaknya menyusuri jalanan kota. Melalui aksi nyata ini, sebuah kampung kecil di Surabaya telah mengirimkan pesan besar kepada zaman: bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu menciptakan masa depan, melainkan bangsa yang tidak pernah kehilangan akar budayanya. wwn

Berita Terkait :  Hari Bhakti Ke-80 Postel, Kemenkomdigi dan Komunitas ICT dan Digital Gelar Donor Darah

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!