Oleh:
H. Yunus Supanto
Wartawan senior, bersama Bhirawa, meraih penghargaan piala Adi negoro, (Penghargaan Tertinggi Karya Jurnalistik Tingkat Nasonal
Di Pesantren Tambak Beras, Jombang,Hindari Money Politics
“Dunia, beserta kekuasaan, dan negara, bisa berdiri tegak dengan keadilan meskipun dibawah kepemimpinan rezim kafir, dan suatu negara akan hancur disebabkan kezaliman, meskipun dibawahkan rezim muslim.”
(Pesan kenegaraan oleh Khalifahke-empat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sekaligus sepupu dan menantu Kanjeng Nabi Muhammad SAW)
Rais AamSyuriyah PBNU periode tahun 1947 hingga 1971, KH Wahab Chasbullah sering mengutip pesan moral khalifah ke-empat. Khususnya sebagai fatwa mewujudkan ketertiban, kesejahteraan sosial, dan kesetaraan. Karena sikapnya yang mengayomi semua orang (termasuk kaum kafir) menjadikannya disegani oleh penasihat Urusan Pribumi, Dr. G.A.J. van der Plas.
Sebelumnya, Muktamar ke-4 yang akan diselenggarakan di Semarang, tahun 1929, tidak memperoleh izin pemerintah kolonial. Tetapi setelah “dilobi” KH Wahab Chasbullah, ke Jakarta, muktamar di-izin-kan. Untuk pertama kalinya muktamar NU diselenggarakan di luar kota Surabaya. Percakapan di Rumah Dinas Penasihat Urusan Pribumi, kawasan Cikini, Jakarta, terasa gayeng (gayung bersambut, bagai dua sahabat). Karena keduanya fasih berbahasa Arab.
Sebagai penerus Snouck Hurgronje, van der Plas juga mahir berbahasa Arab. Bahkan van der Plas, juga mampu membaca kitab-kitab klasik Islam. Keduanya saling kagum. Berkahnya, G.A.J. van der Plas, diangkat menjadi Gubernur Jawa Timur (tahun 1936). Karena kemampuannya berbahasa Arab, van der Plas cepat dikenal di kalangan kyai se- Jawa Timur. Tetapi pada Oktober 1945, kalangan ulama menjadikannya sebagai “musuh utama.”Karena van der Plas meng-inisiasi pemerintahan federal (negara boneka). Ada perang lama melawan van der Plas.
Setalah Muktamar ke-4 berlalu hampir se-abad (97 tahun), kini NU memasuki periode usia abad ke-2. Telah ditetapkan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dilaksanakan di pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. Tiada lagi van der Plas. (Bahkan Gubernur Jawa Timur saat ini, Hj Khofifah Indarparawansa, merupakan “orang dalam” NU, asli). Delegasi dari PWNU (kepengurusan tingkat propinsi), serta PCNU (Pengurus Cabang NU, tingkat kabupaten dan kota), adalah murid-murid KH Wahab Chasbullah.
Begitu pula PCI-NU (tersebar di 31 ibukota negara-negara di seluruh dunia), merupakan “santri ideologis” KH Wahab Chasbullah. Maka terasa bagai “pulang” ke rumah keluarga besar. Karena muassis (pendiri), sekaligus pahlawan nasional, KH Wahab Chasbullah, berasal dari pesantren Tambak Beras.Semula dikhawatirkan terjadi kebuntuan. Ternyata sangat mudah akur (sepakat) dalam penentuan lokasi muktamar. Menjadi khas NU, segala perbedaan selalu berujungishlah (berbaikan), damai.
Kepeloporan Kyai Wahab
Penetapan kabupaten Jombang sebagai lokasi muktamar, disambut sukacita seluruh komponen PBNU. Termasuk yang sedang “berseteru” (dan bersaing sengit). Namun penyelenggaraan muktamar di pesantren, sekaligus menjamin akhlak mulia. Yakni money politics yang biasa menyertai berbagai acara Kongres, dan Muktamar. Diharapkan para muktamirin akan “malu” kepada Kyai Wahab Chasbullah. Serta selalu ingathadits shahih (riwayat Imam Thabrani), bahwa suap (disebut rasyi), merupakan aksi tercela. Masuk neraka.
PWNU Jawa Tengah, dan DIY, telah men-deklarasi-kan muktamar anti-politik uang suap. Sekaligus meminta Presiden Prabowo beserta jajaran pemerintah (serta TNI dan Polri) melakukan tekanan, peng-kondisi-an, dan intervensi muktamar.PesantrenBahrulUlum, Tambakberas, diharapkanbisamenjadibentengakhlakmuktamar. Sekaligus dikenal memiliki ke-sejarah-an NU yang sangat kuat. Terutama pada tokoh KH Abdul Wahab Chasbullah, sebagai penggagas, pencetus, pendiri, dan penggerak NU. Juga menjadi Rais Aam selama 24 tahun.
Ketokohannya makin komplet, ketika pada tahun 2014, bertepatan dengan khaul ke-44, KH Wahab Chasbullah, dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional. Terutama jasanya antara lain sebagai pencetus, sekaligus Panglima Laskar Hizbullah, berperang angkat senjata melawan penjajah. Banyak ide gagasan kebangsaan pada diri KH Wahab Chasbullah.Dimulai dari cetusan gagasan dan diskusi intensif di sebuah rumah panggung, kediaman mertua KH Abdul Wahab Chasbullah. Lokasinya di kampung Kertopaten, Surabaya.
Kalangan Islam terpelajar saat itu, telah memiliki organisasi kelompok pedagang bernama Nahdlatut Tujjar. Juga kelompok diskusi bernama Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air), dan Taswirul Afkar (gerakan pemikiran). Seluruhnya digagas oleh KH Wahab Chasbullah. Berbagai cikal bakal organisasi Islam kebangsaan, berujung pada pendirian Nahdlatul Ulama.
Tetapi perjalanan ke-NU-an, penuh warna, dan unik. Terutama hubungannya dengan rezim (pemerintah). NU pernah berposisi vis a vis (berhadap-hadapan) dengan pemerintahan orde baru, selama 32 tahun. Uniknya, NU juga mengambil peran dalam aksi “penggembosan” suara PPP (Partai Persatuan Pembangunan) dalam Pemilu 1987. Sekaligus konsekuensi kembali ke Khitthah 1926, tidak ter-affiliasi dengan partai politik. Satu dekade terakhir, terasa makin mesra terhadap rezim. Terutama sejak KH Ma’ruf Amin, dipilih menjadi Calon Wakil Prsiden oleh Presiden Jokowi.
Rindu Gus Dur
Ironisnya, kedekatan dengan rezim, menyebabkan PBNU panen kemelut. Berkait relasi kuasa, berupa “perseteruan.”Sehingga dibutuhkan tokoh yang bisa selalu memiliki problem solving. Segala kericuhan bisa berakhir ishlah (perdamaian).Maka gus Dur menjadi ikonik.Terutama berkait keterpilihannya yang pertama sebagai Ketua Umum Tanfidziyah, pada muktamar ke-27 di Situbondo. Sampai berlanjut (yang ketiga kali) dalam muktamar ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. Tidak mudah.Karena harus “melawan” rezim (orde baru) yang sangat kokoh berkuasa. Gus Dur, tetap terpilih walau sudah dicarikan lawan. Namun tak sepadan dalam mutu personel dan ke-ilmu-an.
Gus Dur,bukan sekadar cucu Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ary (pendiri NU). Melainkan dipersiapkan matang oleh ulama-ulama senior. Sebelum terpilih menjadi Ketua Umum telah meniti karir di PBNU sebagai Wakil Katib Syuriyah. Menunjukkan tingkat ke-ilmu-annya sangat memadai. Selanjutnya, pada setiap muktamar NU calon Ketua Umum PBNU selalu “ditakar se-level” dengan Gus Dur. Bahkan dalam muktamar ke-34 di Lampung, yang terpilih sebagai Ketua Umum, dianggap sebagai “fotokopi” Gus Dur.
Kini tiada lagi pertikaian di tubuh PBNU. Jelang muktamar, semuanya akan seksama (dan cermat) meng-godok strategi pelaksanaan moderasi ke-agama-an. Muktamar ke-35 akanmenguatkanvisi egalitarian berbasisukhuwah (persaudaraan). Serta realitakerinduanpadavisi Gus Dur, kembalimenguat. Jugavisiyang dilakukanjurudakwahperiodeawal (sejakabad ke-11 hinggaabad ke-15) dimotoriolehWali-songo. Dakwah yang ramah, tidakmenghunuspedangterhadapadatdanbudaya.
Memasuki era usia abad ke-2, sejak didirikan pada 31 Januari 1926,NU mencatatkan aset spektakuler. Diantaranya memiliki ratusan rumah sakit. Serta 13 ribu lembaga pendidikan jenjang PAUD, juga 15 ribu sekolah dan madrasah, dengan akreditasi sangat baik. Di Jawa Timur bahkan memiliki sekolah (jenjang SD, SMP, dn SMA) terbaik tingkat propinsi. NU juga mencatat kepemilikan pesantren sebanyak 26 ribu lembaga, dan 183 Perguruan Tinggi. Termasuk beberapa fakultas Kedokteran, dan 10 institut sains dan teknologi. Sebagian tidak menggunakan nama NU.
NU denganberbagaiasetnya, bukanlagi puritan. Selayaknyamenjadi motor penggerakkesejahteraannasional. Tetapirealitanyamasihbanyakgras-root nahdliyinmasihterbelakangsecarake-ekonomi-an.
——— *** ——–



