27 C
Sidoarjo
Thursday, August 27, 2026
spot_img

Guru Besar Baru UK Petra Kenalkan Phenomenografi Digital


Surabaya, Bhirawa – Universitas Kristen (UK) Petra kukuhkan satu Guru Besar pada bidang Ilmu Komunikasi di Auditorium Kampus Timur, Gedung Q UK Petra. Guru Besar bidang Ilmu Komunikasi tersebut mengenalkan metode riset inovatif bertajuk Phenomenography Digital, dimana seperti netizen melihat sebuah konten viral sama pada media sosial, tetapi memiliki persepsi berbeda-beda setiap orang, hal itu di sebab era serba digital, cara setiap orang merasakan dan merespons dunia maya memang tidak pernah sama, Kamis (27/8).

Rektor UK Petra Prof. Dr.(H.C.) Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr.Eng., menyampaikan profesor bukan sekadar tentang gelar, tetapi tanggung jawab terus belajar, membagikan ilmu, dan membentuk manusia.

“Terlebih dalam Ilmu Komunikasi, ketika orang semakin mudah berbicara namun sulit mendengarkan, ilmu komunikasi harus hadir untuk membangun pemahaman, menjembatani perbedaan, dan menghadirkan perubahan,” ujarnya.

Prof. Rolly meceritakan dengan bertambahnya satu guru besar, maka total Guru Besar yang aktif mengajar di UK Petra berjumlah 17 orang. Guru Besar Ilmu Komunikasi Uk Petra Prof. Drs. Gatut Priyowidodo, M.Si., Ph.D., mengatakan pada era Post-Truth digital dimana sebuah masa di mana batasan antara fakta dan opini jadi kabur, tidak benar bisa dianggap sebagai kebenaran mutlak, karena disebarkan secara terus-menerus dan didorong oleh subjektivitas atau keyakinan pribadi.

“Gen-Z seluruh ruang diskusi mereka kini berada di dunia digital, topiknya sangat beragam, dari isu berat seperti politik dan masalah MBG, hingga hal populer seperti drakor, dracin, musik, hingga tren olahraga padel, Phenomenography Digital hadir memetakan bagaimana ragam pengalaman orang dalam merespons fenomena-fenomena tersebut,” katanya.

Berita Terkait :  Kolabosi Dosen ITS dan UPNVJT Kembangkan Smart Safety Tools

Prof. Gatut menambahkan sasar Karakter Generasi Z tidak cuman menyoroti ancaman hoaks, tapi mengenai kebiasaan bermedia Gen Z memiliki karakteristik unik seperti kecenderungan enggan beraktivitas fisik berlebih (mager), namun sangat aktif bertukar reaksi di ruang digital.

“Melihat fenomena ini, merancang kepakaran metode riset baru bertajuk Fenomenografi Digital, metode ditujukan untuk memetakan bagaimana Gen Z memahami sebuah peristiwa melalui variasi pengalaman mereka di media sosial,” jelasnya.

Lanjut Prof. Gatut menjelaskan bahwa tahun 2016 hingga sekarang, untuk memahami tren Gen-Z, metode ini juga sangat relevan untuk mengevaluasi layanan publik digital negara, seperti pengalaman warga (citizen experience) saat menggunakan sistem Coretax milik Kementerian Keuangan RI.

“Meretas benang kusut disinformasi di era post-truth memang sulit, namun bukan berarti tidak mungkin jika semua pihak bergerak bersama untuk fokus pada pemberitaan yang benar, setidaknya tiga langkah yang harus dilakukan untuk menghadapi hal tersebut, yaitu literasi digital yang masif sehingga mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat memilih informasi yang benar yang dilakukan terus-menerus, Kedua, media massa harus kembali ke peran utamanya yaitu memproduksi berita yang objektif, dan terakhir, diperlukan kolaborasi dari Kementerian Komunikasi dan Digital untuk menciptakan ekosistem informasi yang bersih,” tuturnya.

Prof. Gatut berpesan untuk tidak asal ikut-ikutan tren, harus tetap kritis menyaring informasi viral, fokus memahami keberagaman cara pandang orang, dan terus menggalinya hingga tuntas ke akar masalah supaya tidak mudah tertipu oleh riuhnya persepsi semu di dunia maya. [ren.wwn]

Berita Terkait :  Jelang Iduladha, Pakar KesMas Bagi Tips Antisipasi Limbah Kurban

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!