HM Rusdi Sutejo
Ada yang berbeda dari gaya kepemimpinan di Pendopo Nyawiji Ngesti Wenganing Gusti, Senin (15/6) sore.
Di hadapan ratusan undangan yang memadati peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah, Bupati Pasuruan, HM Rusdi Sutejo menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin muda yang tak suka mengumbar retorika kosong.
Pria yang akrab disapa Mas Rusdi itu memilih menepikan naskah pidato panjang lebar, lalu melempar pesan taktis yang langsung menukik ke jantung persoalan daerah, yakni hijrah mental.
Langkah Mas Rusdi ini seolah menegaskan garis baru birokrasi Kabupaten Pasuruan di bawah komandonya.
Di hadapan jajaran forkopimda, pejabat OPD, serta barisan ulama kharismatik seperti Ketua PCNU KH Imron Mutamakkin, Mas Rusdi memilih berbicara dari hati ke hati. Pendek, lugas, namun sarat daya dobrak.
Bagi Mas Rusdi, mimbar peringatan 1 Muharam bukan sekadar ruang seremonial untuk membaca laporan kerja atau bernostalgia dengan sejarah hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah.
Dia sadar betul, masyarakat hari ini butuh arah konkret, bukan jajaran kalimat klise.
Dengan gaya bicaranya yang khas, tenang namun tegas, orang nomor satu di Pemkab Pasuruan itu langsung menantang warganya untuk membawa spirit hijrah ke meja makan, ruang kerja hingga lingkungan RT/RW.
“Mari berhijrah dari sikap yang kurang baik menuju akhlak yang lebih mulia, dari perpecahan menuju persatuan, dari kemalasan menuju produktivitas, serta dari kepentingan pribadi menuju kepedulian terhadap sesama,” ujar Mas Rusdi, disambut anggukan takzim para kiai dan tokoh masyarakat yang hadir.
Pesan itu sekaligus motivasi. Mas Rusdi sedang mengirim sinyal kuat bahwa di bawah kepemimpinannya, etos kerja loyo dan ego sektoral di Pasuruan harus segera ‘dihijrahkan’ menjadi performa yang berdampak nyata bagi publik.
Profil Mas Rusdi sebagai pemimpin yang religius namun visioner makin kentara saat ia melangitkan doa untuk bumi Pasuruan.
Dia tidak hanya meminta kemakmuran material, tetapi juga perlindungan spiritual agar daerah yang dipimpinnya dijauhkan dari segala marabahaya.
Cita-cita besarnya adalah membawa Kabupaten Pasuruan naik kelas menjadi daerah yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofur, sebuah wilayah yang subur secara ekonomi, elok secara tata ruang dan berkah karena penduduknya gemar bersyukur.
Namun, Mas Rusdi realistis. Dia tahu target sebesar itu tidak bisa dicapai dengan berpangku tangan. Di akhir petuahnya, ia mengingatkan bahwa modal terbesar Pasuruan untuk melompat maju bukan sekadar APBD, melainkan kohesi sosial warganya.
“Dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan, kebersamaan dan gotong royong merupakan kekuatan utama yang harus terus kita jaga. Dengan persatuan, kerja keras dan doa, insya Allah Kabupaten Pasuruan akan semakin maju, sejahtera dan berdaya saing,” tegas Mas Rusdi Sutejo.
Gaya kepemimpinan Mas Rusdi yang taktis ini mendapat apresiasi tersirat dari Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan, KH Imron Mutamakkin.
Seolah gayung bersambut dengan visi sang bupati, KH Imron menegaskan momentum pergantian tahun ini memang harus menjadi etalase introspeksi total bagi warga maupun pemerintah.
“Momentum tahun baru hijriyah hendaknya menjadi sarana introspeksi bagi kita semua. Memperbaiki kekurangan, serta memperkuat tekad untuk meningkatkan kualitas diri, keluarga, dan masyarakat,” tandas KH Imron.
Lewat gelaran doa bersama ini, Mas Rusdi tidak hanya sukses menggelar hajatan keagamaan yang khidmat, tetapi juga berhasil mengonsolidasikan kekuatan spiritual dan sosial warga Pasuruan untuk bergerak satu barisan ke arah yang lebih bermartabat. [hil.gat]


