Surabaya, Bhirawa. – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) menghadiri Grand Launching dan Bedah Buku Nyanyian Bawah Tanah di Pendopo Cak Durasim Surabaya
Jawa Timur pentingnya menjadikan sejarah perjuangan aktivis menjelang Reformasi 1998 sebagai pembelajaran bagi generasi penerus, pengalaman masa lalu perlu didokumentasikan dan dilihat secara jujur serta objektif untuk memperkuat demokrasi, persatuan, dan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Sabtu, (15/8/2026)
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jawa Timur Eddy Supriyanto mengapresiasi terhadap para penulis buku, Trio Marpaung dan Syani, yang mendokumentasikan pengalaman para aktivis dan penyintas gerakan mahasiswa menjelang Reformasi 1998.
“Kami dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengapresiasi para penulis yang telah menyusun buku ini, dan juga mengingatkan kepada kita semuanya bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia karena melahirkan kondisi pemerintahan saat ini, yaitu zaman reformasi,” ujar Eddy.
Lanjut Eddy mengatakan, perjuangan aktivis pada periode 1996 hingga 1998 tidak hanya berlangsung di Jakarta, gerakan mahasiswa berkembang di berbagai daerah di Indonesia, serta tidak seluruh pengalaman perjuangan tersebut terdokumentasikan dengan baik.
Menurut Eddy, buku Nyanyian Bawah Tanah memiliki arti penting karena ikut mencatat pengalaman para aktivis yang pernah berjuang sekaligus mengalami berbagai persoalan pada masa tersebut.
“Perjuangan tidak hanya di Jakarta, tetapi di daerah-daerah di provinsi yang lain, para mahasiswa banyak melakukan perjuangan, Namun, ada yang tercatat dan banyak yang belum tercatat,” katanya.
Eddy yang juga mengaku pernah menjadi mahasiswa pada masa Reformasi mengatakan, dirinya mengalami langsung suasana gerakan mahasiswa pada periode 1996-1998, pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa perjalanan menuju Reformasi merupakan bagian penting dari sejarah bangsa yang perlu dilihat secara objektif.
“Perjuangan para aktivis pada masa lalu tidak seharusnya berhenti sebagai cerita antargenerasi, tetapi perlu ditempatkan sebagai pembelajaran untuk memperkuat kehidupan berbangsa,” katanya.
Eddy menegaskan, berbagai peristiwa masa lalu harus berani dilihat secara jujur dan objektif. Namun, upaya mengingat kembali sejarah bukan untuk membuka perpecahan maupun mempertajam perbedaan.
“Kita perlu berani melihat sejarah secara jujur dan objektif, bukan untuk membuka kembali perpecahan atau mempertajam perbedaan, tetapi untuk memastikan bahwa pengalaman masa lalu dapat menjadi pelajaran dalam membangun kehidupan berbangsa dengan lebih baik,” tegasnya.
Eddy menyapaikan pembelajaran sejarah juga penting diberikan kepada generasi muda melalui pendidikan. Dengan demikian, generasi penerus dapat memahami perjalanan bangsa sekaligus mengetahui bahwa demokrasi dan kebebasan yang dinikmati saat ini memiliki sejarah perjuangan yang panjang.
“Perjuangan para aktivis dan pejuang HAM harus mendapatkan penghargaan, asal Jawa Timur yang perjuangannya pada masa lalu mendapatkan berbagai pertentangan, namun kini terus diperjuangkan untuk mendapatkan pengakuan sebagai pahlawan nasional.
Lebih lanjut, Eddy menegaskan pemenuhan dan perlindungan HAM merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus terus diperkuat pemerintah.
Ia menyebut keberadaan Kementerian HAM serta berbagai lembaga negara yang memiliki mandat dalam perlindungan HAM merupakan bagian dari keseriusan negara dalam memastikan hak masyarakat tetap terlindungi.
“Saya yakin pemerintah dan generasi-generasi berikutnya pasti akan menata menjadi lebih baik karena pemenuhan dan perlindungan HAM itu menjadi kebutuhan yang sangat dasar bagi masyarakat kita,” jelasnya.
Eddy menilai penegakan hukum dan HAM harus terus digelorakan agar demokrasi tidak hanya memberikan ruang kebebasan, tetapi juga memastikan setiap persoalan diselesaikan melalui mekanisme yang tepat.
Sementara itu, Penulis Trio Marpaung menyebut buku tersebut terdiri dari tiga bagian, yakni pengalaman para penyintas, latar gerakan mahasiswa dan peristiwa 27 Juli 1996, serta gagasan rekonsiliasi antara negara dan korban.
“Melalui dokumentasi ini, berharap pengalaman masa lalu tidak berhenti pada persoalan dendam, tetapi dapat menjadi ruang dialog dan rekonsiliasi,” tuturnya.
Penulis Syani membawa pengalaman berbeda dalam buku menceritakan diskriminasi yang dialaminya sejak sekolah karena identitas etnisnya hingga akhirnya mengenal gerakan mahasiswa.
“Pengalaman tersebut membuat saya semakin tertarik pada isu kemanusiaan dan diskriminasi, bergabung dengan gerakan mahasiswa merasa menemukan ruang yang tidak lagi memperlakukannya berbeda karena latar belakang etnis,” Ungkap. (ren.hel)


