Refleksi Bersama Mahasiswa Berpestasi Cabang Olahraga Sepak Takraw

Dr. Muhammad Muhyi bersama Saiful Rijal peraih medali emas sepak takraw Asian Games 2018 Jakarta.
Oleh:
Dr. Muhammad Muhyi S.Pd. M.Pd
Binpres PSTI Jawa Timur,
Dosen Prodi Penjas Program Magister FKIP UAB
Puji syukur kita munajatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala karuniNYA kita dapat memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 81 tahun dengan suasana penuh rasa syukur dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Pada hari ini 17 Agustus 2026, sudah 81 tahun kemerdakaan, tentu bukan sebatas angka dalam perjalanan sejarah, namu lebih mendalam adalah tentang bagaimana mengisi kemerdekaan. Kemerdekaan berarti memberikan ruang bagi setiap anak bangsa untuk belajar, berkembang, berkarya dan mengukir prestasi sesuai dengan potensi dan talenta yang dimilikinya.
Dalam dunia olahraga, semangat kemerdekaan dapat diartikan sebagai kesempatan bagi setiap anak Indonesia untuk bermimpi menggapai prestasi terbaik. Namun, prestasi tidak datang tiba-tiba, dibalik seorang atlet yang berdiri diatas podium mendapat pengalungan medali, justru terdapat proses panjang, pembinaan, latihan yang tidak kenal lelah, karakter yang ditempa, pendidikan yang harus tetap berjalan, dan adanya dukungan keluarga, guru, dosen, pelatih, sekolah, peguruan tinggi, dan organisasi olahraga serta berbagai pihak lainnya.
Dalam momentum semangat kemerdekaan 81 tahun ini, memunculkan pemikiran-pemikiran saya saat berdialog dengan seorang mahasiswa S1 prodi pendidikan jasmani yang juga merupakan atlet sepak takraw berprestasi, ia sekarang dalam proses pembinaan dalam kejuaraan internasional berikutnya tahun ini dan pernah berhasil meraih medali perunggu di kejuaraan dunia sepak takraw 2026 di Malaysia. Dalam dialog saya lebih fokus pada pertanyaan bagaimana proses menjadi atlet berprestasi bukan tentang medali yang telah diraihnya. Intinya hasil dialog yang telah saya peroleh agar menjadi atlet sepak takraw kelas dunia adalah pertama latihan harus disiplin, disiplin dalam hal apapun, tidak boleh lepas sekecil apapun, kedua latihan yang terus menerus dan terstruktur, ketiga memiliki kecerdasan, mampu mengelola mental selama latihan dan selama bertanding. Tantangan utama sebagai atlet sepak takraw, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk persiapan karena membutuhkan seni dan keterampilan tersendiri dalam mengolah bola yang ukuran kecil dengan menggunakan kaki, kedua olahraga ini memiliki tingkat rawan cedera dengan posisi badan memutar di udara, dan pendaratan yang tepat. Hambatan yang ada adalah dari diri atlet yang harus dilawan oleh atlet sepak takraw adalah rasa bosan selama latihan harus dilawan agar tetap terus semangat untuk terus latihan agar sukses dalam pertandingan, disisi lain karena ini olahraga beregu maka membangun kekompakan tim menjadi bagian penting sehingga mampu meraih juara. Dari hasil dialog saya, satu hal yang mendasar bahwa menjadi atlet berprestasi seperti di cabang olahraga sepak takraw, tentu di cabang olahraga yang lain juga bahwa prestasi bukan hanya persoalan memiliki bakat, tetapi bagaimana bakat dapat dibina, diarahkan, ditempa dan dipertahankan melalui proses yang cukup panjang.
Dibalik sebuah prestasi, ada cerita yang tidak terlihat, artinya menjadi atlet tidak hanya tentang kemampuan menguasai teknik, memenangkan pertandingan, namun ada proses panjang dalam hal kedisiplinan, konsistensi, pengorbanan, mengelola waktu dan kesiapan dalam hadapi sebuah tekanan. Apalagi seorang mahasiswa sekaligus menjadi atlet, tentu tantangannya makin kompleks, sehingga waktu bersama dengan teman kuliah, keluarga makin terbatas. Disisi lain prestasi tidak selalu berjalan lurus, ada pertandingan yang dimenangkan ada juga kekalahan yang mau tidak mau harus diterima, maka saat itu ada suatu kondisi seperti fisik dan mental terbaik dan ada pula saat kondisi fisik dan mental turun. Dari hasil dialog tersebut juga menggambarkan sebagai akhir tulisan saya, bahwa ketangguhan seorang atlet khususnya dialog dengan atlet sepak takraw, atlet tidak hanya dibentuk dengan latihan fisik, ada juga kemampuan untuk belajar dari pengalaman–pengalaman yang telah dilalui, menerima kekalahan, memperbaiki kekurangan dan kembali untuk berjuang meraih prestasi terbaiknya. Pada akhirnya yang paling penting adalah pertama, prestasi olahraga bukan hanya soal medali yang dibawa pulang, lebih dalam dari itu, prestasi adalah tentang proses membangun manusia yang memiliki keberanian untuk bermimpi, kemauan untuk terus menerus belajar, disiplin dalam berlatih tanpa kenal lelah sedikitpun, dan ketangguhan untuk bangkit dari kegagalan yang pernah dialaminya. Kedua tidak semua anak harus menjadi atlet, tetapi Setiap anak berhak untuk mendapatkan kesempatan terbaik dalam menemukan potensi, sehingga pembinaan prestasi tumbuh terus. Ketiga membangun atlet berprestasi tidak cukup hanya dengan mencari anak berbakat, namun perlu membangun ekosistem yang dapat menemukan, membina, mendampingi dan mengembangkan potensinya secara berkelanjutan.
Semoga kemerdekaan Indonesia ke 81 tahun dapat kita isi dengan kerja nyata melahirkan generasi yang sehat, berkarakter, tangguh dan beprestasi. Merdeka untuk bergerak, merdeka untuk berprestasi. Dirgahayu Republik Indonesia ke 81.


