LPG non subsidi di agen LPG di Jalan Abdurrahman Saleh, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang. n arif yulianto/bhirawa.
Jombang, Bhirawa.
Harga gas elpiji (LPG) non subsidi di pasaran di Kabupaten Jombang mengalami kenaikan. Berdasarkan informasi yang beredar, harga LPG beberapa ukuran mengalami penyesuaian, terutama untuk pembelian dalam jumlah besar.
Karyawan agen LPG non subsidi yang berada di Jalan Abdurrahman Saleh, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Rinda, menuturkan, harga LPG non subsidi ini memang terdapat kenaikan.
Pada daftar harga terbaru, LPG non subsidi ukuran 5,5 kilogram seharga Rp107.000. Lalu untuk ukuran 12 kilogram dijual dengan harga Rp228.000.
“Harga eceran tertingginya, harga pasar 5,5 kilogram Rp107.000, untuk yang 13 kilogram Rp228.000,” kata dia, Selasa (21/04).
Harga LPG tersebut belum termasuk ongkos kirim jika dilakukan pengantaran ke lokasi pembeli. Kenaikan harga LPG ini dipengaruhi oleh distribusi serta fluktuasi pasokan di tingkat agen. Baya operasional dan transportasi juga turut memengaruhi harga jual ke konsumen.
Rinda mengatakan, meski ada kenaikan harga, namun hal tersebut tidak terlalu signifikan.
“Masih normal, kendala antrian saja di SPBE,” ujar dia.
“Tapi distribusi masih bisa tercover dengan baik,” imbuh Rinda.
Salah seorang warga bernama Muhammad Raffi menuturkan, dirinya belum mendengar informasi naiknya harga LPG non subsidi.
Dikatakannya, jika terjadi kenaikan, dirinya harus lebih menghemat penggunaan gas. Dia mengaku menggunakan LPG non subsidi ukuran 5,5 kilogram untuk kebutuhan di rumahnya.
“Kalau naik ya mau tidak mau harus menghemat penggunaan gas. Saya belum cek lagi harganya di pasar,” tutur warga Jogoroto, Jombang itu.
Sementara, pelaku usaha Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang bernama Dewi harus lebih cermat dalam mengatur pengeluaran.
Dewi menggambarkan, dalam dua pekan, dirinya menghabiskan satu hingga dua tabung LPG ukuran 12 kilogram.
“Tergantung ramai tidaknya pembeli. Dengan harga yang sekarang, tentu cukup terasa di biaya operasional,” kata perempuan pedagang warung makan pecel lele tersebut.
Dewi menyampaikan, dirinya harus lebih cermat mengatur pengeluaran agar harga makanan tetap terjangkau.
“LPG ini kebutuhan utama untuk memasak, jadi mau tidak mau harus disiasati,” ucapnya.
“Semoga ke depan harganya bisa lebih stabil supaya kami pedagang kecil tidak terlalu terbebani,” pungkasnya. [rif.hel].


