28 C
Sidoarjo
Thursday, May 28, 2026
spot_img

Ety Prawesti Peraih Perunggu Penghargaan Jer Basuki Mawa Beya Gubernur Jatim

Perjuangkan Pengawas Sekolah hingga Guru Honorer, Jadikan Empati sebagai Fondasi Kebijakan

Di tengah gemerlap Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, satu nama dipanggil ke atas panggung dengan sorot mata haru. Perempuan itu melangkah tenang menerima penghargaan Jer Basuki Mawa Beya kategori perunggu dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Ia adalah Ety Prawesti.

Oleh:
Diana Rahmatus, Kota Surabaya

Bagi sebagian orang, penghargaan itu mungkin hanya simbol apresiasi. Namun bagi Ety, penghargaan tersebut adalah perjalanan panjang tentang pengabdian, mendengar keluh kesah guru, hingga memperjuangkan kesejahteraan mereka dari balik meja birokrasi.

Sebagai Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan Jawa Timur, Ety dinilai berhasil menghadirkan berbagai inovasi pendidikan yang menyentuh langsung kebutuhan guru. Dua program yang paling menonjol adalah Program Ekonomi Terapan Guru Non-ASN (PROTEG) dan East Java Innovation Education Summits (EJIES).

Bagi Ety, penghargaan yang diterimanya bukan semata tentang pencapaian pribadi. Ia justru melihatnya sebagai amanah untuk terus menjaga kualitas pendidikan Jawa Timur secara gotong royong.

“Pendidikan yang bermutu dan berkualitas tidak ditentukan oleh satu pihak saja. Tidak hanya siswa, guru atau kepala sekolah, tetapi semua pihak harus bersama-sama bertanggung jawab membangun pendidikan,”ujarnya, Kamis (28/5).

Perempuan kelahiran Kediri, 13 Mei 1968 itu mengaku sejak dipercaya menjadi Kabid GTK pada 2024, ia menemukan banyak persoalan guru yang harus diselesaikan bersama. Mulai dari pelatihan yang belum merata hingga kesejahteraan para pendidik.

Berita Terkait :  Ketelitian dan Penguasaan Teknik Kunci Lolos LKS Dikmen Nasional Fashion Technology

Ia menyebut, dulu pelatihan guru hanya mampu menjangkau sekitar seratus peserta untuk seluruh Jawa Timur. Namun berkat dorongan Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai, pelatihan kini digelar lebih masif agar dampaknya bisa menjangkau lebih banyak guru.

“Menangani guru artinya kami harus hadir untuk setiap persoalan yang dialami guru,” kata Ety.

Salah satu solusi yang ditawarkan Ety dalam pemberdayaan guru adalah melalui Program Terapan Ekonomi Guru non-ASN (PROTEG). Dikatakan Ety, program ini lahir dari kegelisahan sederhana. Banyak guru honorer bekerja dengan penghasilan terbatas, sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Dari situlah, program pemberdayaan ekonomi bagi guru non-ASN mulai dirancang bersama Dinas Pendidikan Jatim dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Lewat program ini, guru honorer, GTT, hingga PPPK paruh waktu didorong mengembangkan usaha mandiri tanpa meninggalkan tugas utama mereka sebagai pendidik.

Kini, usaha-usaha para guru itu berkembang di berbagai bidang. Ada yang membuka usaha kuliner, percetakan, tata busana, permainan edukatif anak, jasa pendidikan hingga sektor kreatif lainnya. Tak hanya dibina, usaha mereka juga dibantu legalitasnya agar memiliki kepastian hukum dan peluang berkembang lebih luas.

Tak hanya memperhatikan guru, Ety juga menaruh perhatian besar kepada para pengawas sekolah. Ia memahami medan berat yang harus ditempuh sebagian pengawas untuk menjangkau sekolah binaan di daerah pegunungan maupun kepulauan.

Berita Terkait :  Kanim Tanjung Perak Permudah Urus Paspor di Immigration Lounge Icon Mall

Karena itu, atas arahan Kepala Dindik Jatim, ia mengusulkan bantuan transportasi bagi para pengawas sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka menjaga mutu pendidikan.

“Kalau pengawas mendapat tugas di pegunungan dan kepulauan tentu memerlukan biaya dan tenaga untuk menjangkau sekolah binaan. Paling tidak kami memberikan perhatian dan terima kasih kepada mereka juga,” terangnya.

Jejak inovasi Ety sebenarnya telah dimulai jauh sebelum menjadi Kabid GTK. Saat menjabat Kabid SMA pada 2017-2023, ia melahirkan sejumlah program peningkatan mutu pendidikan, seperti sekolah empat matra SMAN 3 Taruna Angkasa, SMAN 5 Taruna Brawijaya, SMAN 2 Bhayangkara dan SMAN 1 Taruna Madani hingga penguatan organisasi siswa melalui Himpunan Musyawarah OSIS (HIMO) Jawa Timur.

Ia juga menggagas SMA Double Track serta menyusun USP-BKS dan EHB2KS sebagai instrumen pemetaan kualitas sekolah pengganti Ujian Nasional.

Sementara selama menjadi Kabid GTK, selain PROTEG dan EJIES, ia turut menggagas Gempita Award, DEKAP hingga ISMA, aplikasi administrasi layanan GTK yang mempermudah tata kelola pendidikan.

Namun di balik sederet inovasi itu, ada satu kenyataan yang membuat suasana malam penghargaan terasa emosional: Ety akan memasuki masa purnatugas pada 1 Juni mendatang.

Dengan mata berkaca-kaca, ia mengaku penghargaan tersebut menjadi penyemangat untuk terus berkontribusi bagi pendidikan Jawa Timur, bahkan setelah tak lagi menyandang status ASN.

“Penghargaan ini akan terus menjadi motivasi saya untuk maju dan mempunyai andil dalam pembangunan pendidikan. Semoga ini juga menjadi inspirasi bagi semua pihak yang ingin memajukan pendidikan di Jawa Timur,” ungkapnya lirih.

Berita Terkait :  Bersama Asosiasi Pelaku Usaha, Kadin Jatim Tolak RPM Tarif Kepelabuhan

Di penghujung sambutannya, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Khofifah Indar Parawansa dan Aries Agung Paewai yang selama ini mendukung langkah-langkah inovatifnya.

“Terima kasih banyak Ibu Gubernur atas dukungannya, terima kasih Pak Kadis atas bimbingannya,” tutup Ety. [ina.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!