32 C
Sidoarjo
Friday, September 18, 2026
spot_img

Dunia di Kepala Jingga dan Peristiwa di Sekitarnya

Penulis Buku Dunia di Kepala Jingga, Titik Qomariyah. moch taufiq/bhirawa

Kota Malang, Bhirawa. – Membaca Dunia di Kepala Jingga, seolah membuka album lama. Rangkaian peristiwa dari masa lalu dan masa kini yang masih terjadi dan berulang. Sekali lagi seperti virus, kabar perselingkuhan, pembunuhan dan kerusakan alam. Semua fragmen itu ditulis dalam lima belas cerita, oleh Titik Qomariyah dan diterbitkan penerbit Beranda.

Cerita diawali oleh Jingga, bocah yang terperosok dalam lubang pohon depan rumah. Terjebak dalam rapat bawah tanah yang dihadiri kawanan binatang. Mereka berencana melakukan aksi balas dendam, menyerang manusia lewat kencing tikus yang berbahaya. Cerita bertema lingkungan lain, dijumpai pada cerpen Kupu-kupu Gajah, Senja dan Bangau.

Pada cerita Taman Dekat Rumah, mengambil tokoh anak kecil bernama Bulan. Kedua orang tuanya bekerja, hingga ia berteman dengan merpati dan angsa penghuni taman dekat rumahnya. Ketika virus flu burung menerpa pada 2005, pemerintah melakukan upaya pembersihan pada unggas dan merpati, binatang kesayangan Bulan. Disanalah tragedi kemanusiaan diuji. Meninggalkan trauma pada bocah dan hilangnya satwa di taman dekat rumahnya.

“Ide cerita ini saya tulis setelah melakukan peliputan pemusnahan unggas dan merpati di kawasan Wiyung. Saat virus flu burung terjadi,” katanya, Senin (14/9/2026).

Selain mengangkat tema lingkungan dan dunia anak, cerita perempuan turut menyertai seperti Ann, berkisah tentang perempuan yang memilih mengikuti aliran tertentu, setelah mengetahui suaminya kawin lagi, lewat unggahan Instagram kawan yang hadir dalam acara resepsi. Di sini ada pergulatan batin seorang istri, perempuan dan ibu dari tiga bocah. Cerita tentang perempuan lain yang menjadi korban kekerasan seks dan berakhir pada pembunuhan mutilasi yang tragis. Korbannya perempuan jalanan yang rentan akan tindakan kekerasan.

Berita Terkait :  Pembangunan Flyover Taman Pelangi Surabaya Segera Dimulai

Menurut penulis buku Dunia di Kepala Jingga, Titik Qomariyah, antologi cerpen tersebut kumpulan cerita pendek yang ditulis sejak 2003. Tersebar di sejumlah media dari Jawa Pos, Surabaya News, Surabaya Post, Radar Malang dan Malang Post.

Menurut Penulis asal Malang A Elwiq Pr, buku tersebut sangat menarik dan bisa dikategorikan dalam genre ekologi feminim. Sebab dalam beberapa cerita menyampaikan tentang perjuangan perempuan, kemanusiaan dan kerusakan lingkungan.

“Seperti dalam cerpen Kupu Gajah, Senja, Bangau dan lainnya mengisahkan tentang kerusakan lingkungan dan perubahan iklim yang membuat punahnya kupu bersayap besar, karena habitat nya hilang. Begitu pula dengan hutan kota yang beralih fungsi dari daerah resapan air menjadi perumahan. Menariknya, semuanya itu bukan fiksi. Jejaknya bisa dicari di internet,” katanya saat diskusi kecil beberapa waktu lalu.

Buku Dunia di Kepala Jingga, moch taufiq/bhirawa

Menurutnya, buku tersebut secara tidak langsung menjadi catatan perjalanan Kota Malang dahulu dan kini. Dari hutan kota yang didirikan pemerintah Belanda, Alambau sampai peristiwa pembunuhan di Pasar Besar yang menggemparkan, korbannya seorang tunawisma dan pelakunya seorang berinisial S, mungkin saat ini masih dipenjara atau sudah bebas. Yang pasti kisahnya cukup mengerikan.

Sedang dosen Unisma, Ari Ambarwati menyampaikan, bahwa sastra anak dan sastra untuk orang dewasa hampir tidak memiliki sekat. Seringkali sastra anak tidak ditulis anak-anak tapi orang dewasa. Dan orang dewasa yang menulis cerita anak, merasa lebih aman dalam menyampaikan protes atau ide-ide lain dibalik tokoh anak.

Berita Terkait :  Komisi IV DPR RI Apresiasi Dukungan Norwegia pada Indonesia Turunkan Deforestasi

Seperti tokoh Jingga yang terperosok di akar pohon dan melakukan perjalanan pada dunia binatang. Meski pertemuan itu hanya mimpi, namun tetap ada pesan moral yang ingin disampaikan.

“Apa iya sastra anak hanya dibaca anak-anak, kan tidak. Justru orang dewasa juga membaca sastra anak, ada kerinduan, ada kemungkinan untuk membaca ulang cerita yang relate dimasa lalu, entah itu tragedi atau hal lain yang ditemui masa sekarang. Apakah buku ini menjawab pertanyaan itu silahkan dibaca.” katanya saat di jumpai dirumahnya akhir pekan lalu.

Dengan terbitnya buku tersebut diharapkan memperkaya literasi kita dalam membaca peristiwa melalui sastra. Melalui lembar cerita dalam Dunia di Kepala Jingga kita diajak menelusuri lorong waktu, yang pernah kita alami atau belum pernah didengar oleh Gen Z. Lewat bahan bacaan ini membantu memperkaya literasi. Selamat merayakan Hari Literasi dan Hari Kunjungan Perpustakaan. [mut.hel].

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!