26 C
Sidoarjo
Thursday, September 17, 2026
spot_img

Dibayangi Debu Kemarau, Infeksi Saluran Pernapasan di Kota Pasuruan Naik 21,26 Persen

Kota Pasuruan, Bhirawa. – Ancaman kesehatan mengintai warga Kota Pasuruan seiring dengan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang terus menunjukkan tren peningkatan tajam dalam tiga bulan terakhir.

Berdasarkan data resmi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan, kurva kasus ISPA merangkak naik secara konsisten sejak bulan Juni hingga Agustus 2026, dipicu oleh kombinasi faktor cuaca ekstrem, musim kemarau panjang serta tingginya paparan debu di ruang terbuka.

Dinas Kesehatan Kota Pasuruan mencatat, pada Juni 2026 jumlah kasus ISPA berada di angka 5.093 kasus.

Angka tersebut melonjak cukup signifikan pada Juli 2026 menjadi 5.907 kasus, atau bertambah sebanyak 814 kasus dalam kurun waktu satu bulan.

Tren kenaikan ini berlanjut pada Agustus 2026, di mana jumlah kasus tercatat menyentuh angka 6.176 kasus atau bertambah 269 kasus dibandingkan bulan sebelumnya.

Jika dikalkulasikan secara keseluruhan dari Juni hingga Agustus, total lonjakan kasus mencapai 1.083 kasus atau mengalami peningkatan sekitar 21,26 persen.

Meski persentase kenaikan pada Agustus terpantau mulai melandai dibanding bulan sebelumnya, konsistensi kenaikan selama tiga bulan berturut-turut ini menjadi sinyal darurat bagi kesehatan masyarakat setempat.

Kepala Dinkes Kota Pasuruan, dr. Shierly Marlena menyampaikan kondisi lingkungan memegang peranan krusial di balik lonjakan kasus itu.

Musim kemarau panjang yang tengah melanda memicu peningkatan sebaran debu, baik di jalanan maupun di lingkungan sekitar permukiman warga.

Berita Terkait :  Terintegrasi Tanggul Laut, Konstruksi Tol Semarang - Demak Seksi Kaligawe – Sayung Capai 44,26 Persen

Paparan debu dan polusi udara yang kurang baik ini menjadi pemicu utama terganggunya saluran pernapasan, terutama bagi warga yang memiliki mobilitas tinggi di luar ruangan.

Selain faktor debu dan kualitas udara, perubahan cuaca yang cukup ekstrem turut melemahkan daya tahan tubuh masyarakat, membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi virus maupun bakteri penyebab ISPA.

“Peningkatan kasus ini tentu menjadi perhatian serius bagi kami. Kondisi cuaca dan lingkungan berdebu menuntut kewaspadaan ekstra dari seluruh lapisan masyarakat,” ujar Shierly saat dikonfirmasi, Kamis (17/9).

Menghadapi situasi ini, Dinkes Kota Pasuruan mendorong pergeseran paradigma penanganan dari yang bersifat kuratif (pengobatan saat sakit) menjadi preventif (pencegahan sejak dini) melalui kebiasaan hidup bersih dan sehat (PHBS).

Shierly menegaskan langkah pencegahan dapat dimulai dari hal-hal sederhana di ranah pribadi (personal hygiene), seperti rutin mencuci tangan pakai sabun (CTPS) serta disiplin mengenakan masker saat beraktivitas di ruang terbuka maupun tempat-tempat umum.

Penggunaan masker itu dinilai sangat krusial, khususnya bagi para pengendara sepeda motor dan warga yang sering terpapar debu jalanan serta polusi udara tinggi.

“Pertama, personal hygiene ditingkatkan dengan CTPS dan menggunakan masker bila di ruang terbuka dan tempat-tempat umum,” tegas Shierly.

Selain itu, Dinkes juga menyoroti pentingnya perlindungan kelompok rentan, seperti bayi dan anak-anak.

Shierly mengimbau para orang tua agar melengkapi perlindungan kesehatan anak sejak dini melalui pemberian imunisasi Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) bagi bayi untuk mencegah infeksi paru yang berbahaya.

Berita Terkait :  Pemkot Batu Harus Perkuat Branding Smart City

Aspek lingkungan sosial turut menjadi perhatian, termasuk imbauan untuk menekan paparan asap rokok. Baik bagi perokok aktif maupun pasif yang dapat memperparah kerentanan saluran pernapasan.

Sebagai langkah antisipasi lanjutan, masyarakat Kota Pasuruan dianjurkan untuk memperkuat imunitas tubuh melalui konsumsi air putih dalam jumlah cukup, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta mencukupi waktu istirahat.

Warga juga disarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak, terutama pada saat intensitas debu di udara sedang tinggi.

Dinkes mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan gejala awal gangguan pernapasan seperti batuk, pilek, atau sesak ringan.

Jika keluhan terus berlanjut atau semakin memberat, warga diminta untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat guna mendapatkan penanganan medis secara cepat dan tepat.

“Yang terpenting adalah pencegahan dan segera mendapatkan penanganan apabila muncul gejala. Dengan kesadaran bersama menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan diri, kita berharap risiko penularan ISPA dapat ditekan sekaligus melindungi kesehatan keluarga di Kota Pasuruan,” urai Shierly. [hil.hel]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!