Gresik, Bhirawa — Budaya literasi tidak lagi sekadar mengajak masyarakat gemar membaca. Di tengah pesatnya pertumbuhan industri, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispussip) Kabupaten Gresik mengarahkan gerakan literasi menjadi penopang peningkatan kapasitas warga, agar mampu merebut peluang kerja dan tidak kalah bersaing dengan tenaga kerja dari luar daerah.
Kepala Dispussip Kabupaten Gresik, Budi Raharjo, menjelaskan penguatan budaya membaca dilakukan menyasar seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak usia sekolah hingga masyarakat umum. Berbagai program digencarkan, antara lain perpustakaan keliling yang menyambangi sekolah dan taman baca, serta kehadiran Akuarium Digital (Aqudiq) untuk menarik minat anak-anak datang ke perpustakaan.
Fasilitas interaktif ini memungkinkan anak-anak menggambar dan mewarnai, hasil karyanya langsung ditampilkan melalui layar LCD. Selain itu, digelar pula kelas literasi berupa pelatihan menulis bagi siswa Sekolah Dasar yang kini memasuki tahun kedua.
“Anak-anak datang ke perpustakaan tidak hanya membaca, tapi juga berkarya. Hasil karya mereka ditampilkan di Akuarium Digital, diharapkan tumbuh minat membaca secara berkelanjutan,” ujar Budi.
Pada November mendatang, pelatihan menulis akan digelar dalam dua gelombang, masing-masing diikuti 20 peserta. Puluhan karya anak-anak nantinya akan diterbitkan menjadi buku, membuka wawasan bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat membaca, melainkan ruang untuk menghasilkan karya.
Setiap tahun digelar pula Festival Literasi, mencakup lomba bertutur bagi siswa SD, lomba resensi buku bagi siswa SMP, hingga lomba baca yang sekaligus mengedukasi pentingnya literasi dan numerasi. Dispussip juga menggandeng komunitas seperti Read Aloud Indonesia, Persaudaraan Pengkisah Muslim Indonesia, serta kelompok pelestari naskah kuno.
Tak hanya mencetak kegemaran membaca, Dispussip turut menyelamatkan kekayaan budaya melalui alih-media naskah kuno. Sebanyak 11 naskah telah didokumentasikan, antara lain Naskah Sindujoyo, Ambiya, naskah khutbah Jumat Masjid Sunan Giri, serta dua dokumen dari Museum Leiden, Belanda — statistik Gresik tahun 1822 dan kisah perkuburan di Tanah Gapuro.
Seluruh program bermuara pada satu tujuan: memperkuat literasi dan numerasi masyarakat Gresik agar mampu bersaing memanfaatkan peluang ekonomi di daerahnya sendiri. Terlebih Pemkab Gresik mendorong penyerapan tenaga kerja lokal.
“Jangan sampai kita menjadi tamu di daerah sendiri. Literasi dan numerasi harus terus didorong. Alhamdulillah, pada 2025 kita telah menempati peringkat kedua terbaik di Jawa Timur,” tegas Budi. [kim.kt]


