32.9 C
Sidoarjo
Sunday, August 9, 2026
spot_img

Bromo Kembali Menyala dan Meluas ke Penanjakan, Emil Dardak: 520 Hektare Terdampak, Sekat Bakar Disiagakan

Kabupaten Probolinggo, Bhirawa – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kaldera Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), diperkuat melalui operasi darat dan udara. Tiga helikopter kini dikerahkan untuk melakukan water bombing di sejumlah titik yang sulit dijangkau pasukan darat.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, penanganan karhutla dilakukan secara kolektif dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD, TNBTS, TNI, Polri hingga pemadam kebakaran dari sejumlah daerah.

“Ini langkah kolektif dari semua elemen. BPBD di bawah koordinasi BNPB, kita berkoordinasi terutama dengan BPBD yang berada di wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Malang, dan Lumajang,” kata Emil saat ditemui di area Savana Bromo yang terdampak kebakaran, Minggu (9/8/2026) sekitar pukul 10.24 WIB.

Menurutnya, sedikitnya tujuh unit mobil pemadam kebakaran telah melakukan penanganan dari jalur darat, ditambah satu mobil tangki milik Pemprov Jatim. Dua unit damkar lainnya masih dalam perjalanan dari Mojokerto dan Surabaya.

Sementara dari udara, jumlah helikopter yang dikerahkan bertambah menjadi tiga unit. Sebelumnya, dua helikopter telah melakukan water bombing dan pada Minggu ditambah satu unit. Ketiga helikopter tersebut mengambil air dari Ranu Pani dan Ranu Regulo untuk selanjutnya melakukan water bombing pada titik-titik yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

“Gerakan udaranya tadi kita lihat ada helikopter, total tiga. Kemarin dua, hari ini tambah satu lagi, mengambil air dari Ranu Pani dan Ranu Regulo. Ini menjadi dua titik pengambilan air untuk melakukan water bombing di titik-titik yang sulit dijangkau,” jelas Emil.

Berita Terkait :  Lebaran untuk Semua, Kadindik Jatim Ajak Siswa SLB Rasakan Hangatnya Ramadan

Emil mengatakan, fokus penanganan kini juga bertambah setelah ditemukan titik api di kawasan Penanjakan. Sebelumnya, pasukan lebih banyak diarahkan ke Pundak Lembu dan Puncak B29.

“Fokusnya bertambah. Setelah kita fokusnya adalah di Pundak Lembu, Puncak B29, ternyata di Penanjakan juga ada titik api. Lokasinya di luar dari perimeter awal ini,” ujarnya.

Penanganan kemudian dilakukan dengan mengombinasikan operasi udara dan darat. Helikopter diarahkan menangani titik-titik api besar yang sulit dijangkau, sedangkan pasukan di lapangan menangani titik panas dan api kecil secara manual.

Petugas mengoperasikan drone sprayer BPBD Jatim disaksikan Wakil Gubernur Emil Dardak untuk memadamkan sisa titik api di lereng Bromo, Minggu (9/8). Ayu Firdausiyah Ahmad/bhirawa

Emil menyebut keterbatasan peralatan menjadi salah satu kendala di lapangan. Salah satunya keterbatasan alat kepyok, yang biasa digunakan petugas untuk memukul dan memadamkan api secara manual. Meski demikian, petugas masih dapat memanfaatkan ranting pohon untuk melakukan pendinginan terhadap titik-titik panas yang tersisa.

“Kendala kita saat ini memang keterbatasan alat kepyok. Tapi dengan menggunakan ranting masih bisa dilakukan langkah-langkah untuk meredam api,” kata Emil.

Ia menjelaskan, titik panas dan api kecil yang tersisa memang harus ditangani secara manual. Sementara kobaran api yang lebih besar dan berada di lokasi sulit dijangkau ditangani menggunakan helikopter.

“Yang besar ditangani pakai helikopter. Tapi ada titik-titik panas yang masih tersisa, api kecil itu memang harus manual,” ujarnya.

Selain helikopter, Pemprov Jatim juga mengoperasikan tiga unit drone sprayer. Masing-masing drone memiliki kapasitas sekitar 70 hingga 80 liter dan digunakan untuk membantu penyemprotan air di lereng-lereng yang tidak mudah dijangkau petugas.

Berita Terkait :  Kunjungan Menteri Ekonomi Kreatif ke Unusa, Dukungan untuk Inovasi Berbasis Teknologi

Untuk penanganan dari jalur darat, mobil damkar ditempatkan pada jalur-jalur yang dapat diakses, termasuk sisi timur, sisi barat, serta kawasan Watangan. Namun, akses menuju Penanjakan masih menjadi kendala bagi kendaraan pemadam.

Terkait luasan kebakaran, Emil menegaskan angka sekitar 520 hektare yang disebut dalam penanganan pada Minggu merupakan luas kawasan yang terdampak, bukan berarti seluruh area tersebut masih terbakar.

“Ini bukan luas kebakaran saat ini, tapi luas yang terdampak dari kebakaran meningkat dari 250 hektare kemarin menjadi 500 hektare hari ini,” tegasnya.

Emil mengatakan, sejumlah titik yang sebelumnya terbakar telah berhasil dipadamkan. Kendati demikian, petugas tidak boleh lengah karena masih terdapat potensi api kembali muncul dari titik-titik panas yang berada di bawah permukaan.

“Kalau kita pikir sudah padam, tahu-tahu tiba-tiba bisa saja terpercik api sendiri karena masih ada di bawah itu, panas. Ini yang harus kita waspadai,” ujar Emil.

Untuk mengantisipasi pergerakan api, TNBTS juga melakukan patroli di sepanjang sekat bakar sekitar enam kilometer di sisi selatan kawasan. Saat ini terdapat 10 personel yang melakukan patroli menggunakan sepeda motor dan jumlahnya diupayakan ditambah menjadi 20 personel.

Patroli tersebut dilakukan untuk memastikan api tidak melewati sekat bakar. Langkah itu dinilai penting mengingat kondisi alang-alang yang kering pada musim kemarau membuat api dapat dengan cepat menyebar apabila kembali tersulut angin.

Emil juga menjelaskan bahwa titik api di Penanjakan yang terlihat pada malam sebelumnya bukan merupakan titik kebakaran baru. Menurutnya, api tersebut merupakan bagian dari pergerakan atau perluasan dari kebakaran sebelumnya.

Berita Terkait :  Kurangi Beban Masyarakat, Pemkab Sumenep Hapus Denda PBB-P2

“Kalau yang tadi malam itu adalah lanjutan dari yang lama. Jadi penyeberangannya kelihatan meluas, bukan titik baru,” katanya.

Menurut Emil, api kecil yang berada di dalam kawasan hutan dapat kembali menyala ketika terkena hembusan angin. Kondisi tersebut semakin berisiko karena vegetasi berupa alang-alang kering menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.

“Yang di hutan-hutan itu, di bawah itu mungkin masih ada api-api kecil yang kemudian apabila terpicu oleh angin, dia bisa kemudian nyala lagi. Dan karena ini bahan bakarnya adalah alang-alang yang kering di musim kemarau ini, cepat sekali kemudian dia menyebar,” jelasnya.

Terkait kemungkinan penyebab kebakaran, Emil mengatakan belum dapat memastikan faktor pemicunya. Namun, ia menilai potensi aktivitas manusia tetap perlu diantisipasi, khususnya dari pengunjung kawasan.

“Kalau faktor manusia, ini bukanlah lahan garapan di sini. Ini kan bukan lahan garapan sebenarnya. Jadi, enggak ada alasan untuk orang bercocok tanam kemudian membakar,” ujarnya.

Karena itu, pembatasan aktivitas dan keluar-masuk orang di kawasan TNBTS untuk sementara dinilai penting sebagai bagian dari upaya pengamanan kawasan.

Penanganan karhutla sendiri berlangsung bersamaan dengan penutupan seluruh akses kunjungan wisata Bromo melalui lima pintu masuk, yakni Cemoro Lawang di Kabupaten Probolinggo, Wonokitri di Kabupaten Pasuruan, Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang, serta Senduro di Kabupaten Lumajang.

Penutupan dilakukan hingga ada pemberitahuan lebih lanjut dari Balai Besar TNBTS untuk mendukung proses pemadaman sekaligus menjaga keselamatan masyarakat dan wisatawan. [fir.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!