31.8 C
Sidoarjo
Tuesday, August 18, 2026
spot_img

Azaline Suarakan Kesetaraan Hak Anak dan Disabilitas Lewat Surat untuk Presiden

Surabaya, Bhirawa – Kesetaraan hak anak tanpa diskriminasi, termasuk bagi anak penyandang disabilitas, menjadi pesan utama yang disuarakan siswi SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya, Azaline Naimah Azzahra. Gagasan tersebut dituangkannya melalui sebuah surat dalam ajang Surat Suara Anak Surabaya yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surabaya.

Siswi kelas XI IPA 1 itu berhasil meraih Juara 2 kategori Surat untuk Presiden jenjang SMA setelah bersaing dengan lebih dari 1.000 karya peserta. Pada kategori yang sama, Juara 1 diraih SMA Kristen Petra 3, sedangkan Juara 3 diraih SMA Katolik St. Louis 2 Surabaya.

Azaline memilih isu kesetaraan hak anak karena melihat masih adanya anak yang menghadapi keterbatasan dalam memperoleh hak dan kesempatan yang sama. Perhatian khusus ia berikan kepada anak penyandang disabilitas yang menurutnya juga memiliki hak untuk mendapatkan kesempatan berkembang, didengar, dan diapresiasi.

Dalam suratnya, Azaline menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan perhatian yang setara kepada seluruh anak tanpa memandang keterbatasan yang dimiliki.

“Semua anak di Indonesia berhak didengarkan tanpa diskriminasi karena merekalah yang akan memimpin Indonesia di masa depan. Saya juga berharap negara semakin menghargai anak-anak yang berprestasi sehingga mereka merasa dilihat dan diapresiasi,” tuturnya, Rabu  (5/8) lalu.

Untuk memperkuat gagasan dalam surat tersebut, Azaline melakukan riset sederhana melalui berbagai sumber informasi, termasuk media sosial. Pengalamannya mengikuti pembelajaran daring pada masa pandemi Covid-19 juga menjadi salah satu inspirasi.

Berita Terkait :  Bangun Gedung Pusat Terpadu Tujuh Lantai

Saat pembelajaran daring berlangsung, ia melihat masih terdapat anak yang mengalami keterbatasan akses terhadap perangkat maupun jaringan internet. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami bahwa kesempatan memperoleh pendidikan dan mengembangkan potensi seharusnya dapat dirasakan seluruh anak.

Proses penulisan surat dilakukan selama empat hari. Selama penyusunan, Azaline berdiskusi dan melakukan sejumlah revisi bersama wali kelasnya, Devy Qurrotu Ainy, S.Pd., Gr. Devy sebelumnya juga menjadi pihak yang mendorong Azaline mengikuti kompetisi tersebut ketika masih duduk di kelas X.

Menariknya, Azaline mengaku sebelumnya tidak memiliki ketertarikan khusus terhadap dunia menulis. Ia mengikuti kompetisi tersebut karena ingin mencoba sesuatu yang baru sekaligus menantang dirinya keluar dari zona nyaman.

“Sebelumnya saya tidak terlalu tertarik dengan menulis. Saya hanya suka mencoba hal baru dan menantang diri sendiri. Urusan menang atau kalah itu belakangan. Saya hanya ingin mendapatkan pengalaman baru,” jelasnya.

Perjuangan menyelesaikan surat juga harus dilakukan di tengah persiapannya mengikuti tes Olimpiade Sains Nasional (OSN). Kondisi tersebut membuat Azaline harus membagi waktu antara persiapan OSN dan penyusunan surat.

“Yang paling susah itu buat bagi waktu karena bersamaan dengan persiapan tes OSN. Saya sampai harus mengurangi waktu tidur agar bisa memberikan hasil terbaik di kedua kegiatan itu. Saya merasa sudah dipercaya sekolah, jadi saya harus bertanggung jawab memberikan usaha terbaik,” katanya.

Berita Terkait :  Geram atas Kejadian KDRT Berujung Maut

Pengumuman pemenang pun menjadi pengalaman tersendiri bagi Azaline. Sebelumnya, ia hanya mengetahui bahwa karyanya masuk dalam 100 karya terbaik bersama lima delegasi SMATAG Surabaya lainnya. Ia bahkan belum menyadari bahwa dirinya lolos enam besar hingga masuk dalam grup persiapan acara puncak Hari Anak Nasional di Balai Pemuda Surabaya.

Akibat sempat terjadi miskomunikasi, Azaline baru mengetahui dirinya meraih Juara 2 setelah diarahkan untuk melihat pengumuman melalui media sosial.

“Saya benar-benar kaget. Dari awal saya hanya ingin mencoba dan belajar hal baru, tetapi ternyata Allah memberikan keberhasilan yang luar biasa dengan menjadi Juara 2,” katanya.

Bagi Azaline, penghargaan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi. Prestasi itu menjadi kesempatan baginya untuk menyampaikan aspirasi anak-anak Indonesia, khususnya mengenai pentingnya kesetaraan hak dan kesempatan bagi seluruh anak.

Motivasinya semakin kuat setelah bertemu dengan sejumlah anak penyandang disabilitas dalam acara puncak kompetisi. Ia melihat langsung semangat mereka untuk terus belajar dan berkembang. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk didengar dan memperoleh kesempatan berkembang.

“Misi saya bukan hanya untuk diri sendiri. Saya ingin menjadi jembatan bagi banyak aspirasi anak-anak Indonesia agar suara mereka benar-benar didengar dan bisa membawa perubahan,” ujarnya.

Ke depan, Azaline bertekad terus mengembangkan kemampuan menulis dan mengikuti berbagai kompetisi serupa. Ia juga bercita-cita mengikuti ajang pemilihan duta di Surabaya dengan membawa isu perlindungan anak, pemberdayaan perempuan, serta pemenuhan hak anak.

Berita Terkait :  Dituduh Rusak Demokrasi

Bagi Azaline, pengalaman tersebut menjadi langkah awal untuk terus menggunakan kemampuan dan prestasinya sebagai ruang menyuarakan kepentingan anak. Ia berharap semakin banyak anak, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh kesempatan yang setara untuk belajar, berkembang, berprestasi, dan menyampaikan aspirasinya. [ina.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!