Pemprov Jatim, Bhirawa – Pembangunan akses menuju Pasar Induk Puspa Agro kini menjadi salah satu prioritas Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Jawa Timur yang masuk dalam daftar PAPBD 2026. Pekerjaan yang ditargetkan rampung tahun ini itu menyasar keterhubungan yang memungkinkan kendaraan dapat mencapai area Pasar Hidup Lusuh Agro, sekaligus meningkatkan kelancaran distribusi produk pertanian dan aktivitas ekonomi lokal.
Kepala Bidang Pembangunan & Peningkatan Jalan dan Jembatan, Ahmad Faathir Wicaksono, mengonfirmasi status perencanaan dan kendala teknis di lapangan. Menurutnya, proyek saat ini masih berada pada tahap perencanaan yang berurutan.
“Nah, kita kan di tahun ini kan sudah tahap 2 ya mas ya. Sekarang masuk di tahap 3 masuk pada PAPBD 2026. Nah, kita upayakan selesai,” cetus dia saat dikonfirmasi Bhirawa, Selasa (25/8/2026).
Anggaran dan skema pelaksanaan juga sudah dimasukkan ke dalam PAPBD, meski pelaksanaannya bergantung pada alokasi akhir. “Jadi masuk juga di dalam list PAPBD kita, Puspa Agro itu nanti tergantung anggaran,” jelas Faathir.
Kendala terbesar proyek ini bukan sekadar anggaran, melainkan kondisi tanah di lokasi yang didominasi lahan rawa. Karakter tanah tersebut memaksa tim teknis menyiapkan perlakuan konstruksi khusus yang berbeda dari pelebaran atau perbaikan jalan biasa.
“Tantangan kita kalau dituntut seperti itu, disana itu kan kita bangun jalan baru. Apa namanya lokasinya, tanahnya, dan lain-lain itu kayak ada rawa, ada macem-macem lah. Kita intinya buat rasa jalan baru,” kata Faathir.
Untuk menjamin kestabilan dan umur jalan, metode pemadatan konvensional dinilai kurang memadai. Tim bekerja dengan solusi pondasi dalam seperti penggunaan spoon pile dan teknologi penguatan tanah lain.
“Jadi tantangannya lebih tinggi. Kayak tanah rawa itu perlakuannya khusus secara nggak langsung kita pakai felke, pakai spoon pile, kayak bangunan atas yang panjang gitu. Jadi akan berbeda sama kayak jalan-jalan kita existing yang tinggal pelebaran, dengan beton, dan lain-lain,” ujar Faathir.
Ia menambahkan bahwa pemilihan metode tergantung kondisi lapangan, bila metode PVD (prefabricated vertical drain) dapat diterapkan, itu akan mempercepat konsolidasi tanah. Namun bila tidak, penggunaan struktur pondasi panjang menjadi solusi yang aman meski memakan waktu lebih lama.
“Kalau mereka pakai PVD itu masuk. Jadi tanahnya dikuatkan. Kalau kita menguatkan tanah kan nggak bisa cepat kan, jadi kita pakai panjang. Ada penurunan tanah. Oh nanti ketika ini ya kalau yang di sini penurunan tanah nggak masalah, soalnya kita pakai panjang spoon pile. Ya mungkin cukup ya mas ya,” kata dia menutup.
Pembangunan akses ini dipandang strategis untuk meningkatkan aksesibilitas pasar dan mendorong kegiatan perekonomian lokal. Meski menghadapi tantangan teknis dan ketergantungan anggaran PAPBD, pihak dinas optimistis pekerjaan bisa dituntaskan sesuai target dengan kombinasi teknik konstruksi yang tepat dan penganggaran yang mendukung.
Proyek ini akan menjadi salah satu ukuran keberhasilan pengelolaan infrastruktur daerah di tahun berjalan, bukan hanya mengejar konektivitas, tetapi juga memastikan solusi teknik yang menjamin keberlanjutan jalan di lahan subur dan rawan penurunan. [aya.kt]



