Kota Batu, Bhirawa – Melalui Batu Agrokreatif, Pemkot Batu mempersiapkan langkah menuju UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027 di bidang gastronomi. Strategi ini diharapkan memperkuat posisi Kota Batu sebagai kota wisata dan agropolitan sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas.
Saat ini Pemerintah Kota Batu tengah memperkuat pengembangan ekonomi kreatif melalui konsep Batu Agrokreatif yang mengintegrasikan pertanian, gastronomi, pariwisata, dan budaya. Konsep ini dibuat untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal serta memperluas pasar UMKM.
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto mengatakan bahwa strategi ini telah ia paparkan dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Indonesia Creative Cities Network (ICCN) 2026 di Jakarta, beberapa waktu lalu.
“Batu Agrokreatif mengusung konsep, From Mountain Agriculture to Global Gastronomy. Dalam hal ini Kota Batu menempatkan potensi pertanian dan hortikultura sebagai fondasi pengembangan gastronomi,” ujar Heli, Rabu (28/10/2026).
Ia menjelaskan bahwa komoditas lokal tidak hanya dipasarkan sebagai hasil pertanian. Tetapi juga dikembangkan menjadi produk kuliner, pengalaman wisata, dan karya kreatif yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Saat ini tercatat Kota Batu memiliki 17 subsektor ekonomi kreatif. Dalam subsektor ini bidang kuliner sebagai salah satu kekuatan utama. Kemudian didukung seni pertunjukan, kriya, fashion, dan subsektor lainnya.

“Pengembangan potensi tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, serta jejaring kreatif untuk membuka peluang inovasi dan memperluas akses pasar,” jelas Heli.
Hal ini dilakukan sebagai upaya memperkuat melalui pengembangan desa kreatif dan desa wisata. Kemudian ditambah fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI), dan penyelenggaraan festival berbasis potensi lokal. Dan tak ketinggalan pemanfaatan ruang publik dan aset daerah sebagai ruang kolaborasi dan aktivitas ekonomi kreatif.
Catatan pada tahun 2025, sebanyak 24 desa wisata yang ada Kota Batu telah dikunjungi sekitar 9,7 juta wisatawan. Dengan data ini semakin membuat Kota Batu memiliki peluang besar dalam mengembangkan pengalaman gastronomi berbasis pertanian dan budaya.
Pemkot Batu tidak hanya ingin menonjolkan wisata buatan, tetapi juga terus mendorong perkembangan green tourism. Adapaun terkait gastronomi, Pemkot menekankan pada penguatan ekosistemnya. [nas.kt]




