Bagai plesetan (olok-olok), so far, so bad, pada jelang dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Di tengah badai perekonomian global dan nasional, terjadi kemerosotan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Sedangkan SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting), merilis persepsi publik yang negatif terhadap kepemimpinan Prabowo Subianto. “Gong-nya,”CELIOS memapar hasil survei, bahwa 75% masyarakat Indonesia merasa tertekan mental (stress) akibat arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Survey Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama Tim “Kabinet Bayangan,” juga memapar 67% responden merasa stress dengan perilaku Prabowo. Survey dilakukan dengan responden 1.142 orang, dilakukan secara daring (online).Secarakeseluruhan kinerja Prabowo memperoleh nilai 4,6 (dari nilai tertinggi 10). Sedangkan kalangan ahli (sebanyak 129 responden) memberi nilai 2,8. Lebih ironis, untuk Wapres Gibran memperoleh nilai lebih minimalis dari kalangan ahli (cuma 2,2). Kalau terjadi di sekolah pasti tidak lulus.
Kinerja dengan “rapor sangat merah” untuk pasangan Praboro-Gibran selama dua tahun memimpin pemerintahan Indonesia. SMRC merilis hasil survei pada kanal YouTube, tentang persepsi positif publik telah menurun drastis. Kini kepercayaan bahwa “Indonesia bergerak ke arah yang benar,” tersisa 47,7%. Padahal pada awal pemerintahan, Oktober 2024, angka pengharapan mencapai 83%. Namun hanya dalam dua tahun,pengharapan terkikis sebesar 35%.
Menurut Profesor Saiful Mujani, menunjukkan penurunan pengharapan paling dramatik selama 25 tahun. Walau sebenarnya, responden yang tegas menilai “Indonesia bergerak ke arah yang salah,”hanya sebanyak 34,3%. Sebelumnya, SMRCjuga merilis kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto merosot tajam 30,1%. Kini pada level “pas-pasan” (51,1%). Padahal dalam survei yang lain pada Pebruari 2026 masih pada level 79,9%.
Survei kepuasan publik, mencerminkan dukungan real-time rakyat terhadap Presiden. Bisa naik manakala pemerintah dianggap menenteramkan rakyat. Tetapi juga bisa merosot manakala mengabaikan kepentingan publik. Misalnya menaikkan harga bahan pangan, tarif listrik, dan BBM. Hasil survei SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting) “rapor merah” pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, berada pada beberapa aspek (ekonomi, politik, dan hukum).
Terutama tingkat kepuasan pada kinerja Perekonomian, sangat jeblok.Yang menilai perekonomian sudah cukup baik dan sangat baik, hanya sebesar 15,7%. Yang meng-anggap perekonomian berjalan buruk dan sangat buruk mencapai 49,4%. Mendekati angka 50%! Meliputi 11,5% pendapat publik menilai sangat buruk.
Serta 37,9% menilai Perekonomian dalam kondisi buruk. Sedangkan kinerja bidang Politik juga dinilai buruk. Karena hanya sebesar 13,5% yang menyatakan per-politik-an berjalan baik (11,8%) sampai sangat baik (1,7%). Penilaian kinerja Politik buruk (31,7%) dan sangat buruk (11,1%). Total gabungan yang me-negasi-kan Politik Indonesia mencapai 42,8%. Yang memberi penilaian sedang-sedang saja 33,6%. “Rapor merah”yang lain juga diberikan kepada kinerja penegakan hukum. Yang memberi nilai positif penegakan hukum sebesar 26,4%. Jauh di bawah yang menilai buruk (37,6%).
Tetapi masa pemerintahan dua tahun, bukan waktu tepat menilai keseluruhan kinerja pemerintahan. Masih terdapat tiga tahun lagi. Serta nampak upaya Presiden Prabowo Subianto, memperbaiki kinerja. Termasuk dengan me-reshuffle kabinet, 8 kali!Terutama pada posisi strategis, Menteri Keuangandua kali ganti. Menko Polkam diganti tiga kali. Serta KSP juga diganti tiga kali.
Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, memerlukan berbagai “pandangan beda” setelah mayoritas parpol masuk dalam koalisi super gemuk. Maka hasil survei CELIOS, dan SMRC, wajib dipandang sebagai counterpart. sama-sama mencintai Indonesia. Anti-kritik tidak sesuai dengan asas demokrasi.
——— 000 ———




