Situbondo, Bhirawa – Pemerintah Kabupaten Situbondo, bersama Pemerintah Kabupaten Serang, Banten, menginisiasi program Anyer–Panarukan 3R (Road, Route, Roots) untuk menghidupkan kembali nilai sejarah Jalan Raya Pos sekaligus mengembangkan potensi ekonomi, pariwisata, budaya, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sepanjang jalurnya.
Mendes PDT Yandri Susanto menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, jalur Anyer–Panarukan melintasi ribuan desa dengan karakteristik dan keunggulan yang beragam. Potensi itu dapat menjadi modal untuk mengembangkan ekonomi desa apabila dikelola melalui kolaborasi lintas daerah dan lintas sektor.
“Kemendes akan menjadikan momentum Program Anyer–Panarukan 3R ini untuk menaikkan kelas desa-desa yang ada di jalur Anyer–Panarukan dengan tetap mengedepankan potensi desa masing-masing,” ujar Yandri.
Ia meyakini program ini dapat berkembang menjadi gerakan yang menghubungkan pembangunan ekonomi, kebudayaan, dan infrastruktur. Pemerintah daerah didorong untuk menggali keunggulan masing-masing desa, mulai dari pertanian, kawasan pesisir, desa wisata, hingga produk budaya dan ekonomi kreatif.
“Saya haqqul yaqin program Anyer–Panarukan 3R akan menjadi gerakan ekonomi, gerakan budaya dan infrastruktur serta lainnya,” kata Yandri.
Yandri juga menyampaikan bahwa program tersebut direncanakan menjadi kalender tahunan. Ia berharap jangkauan kegiatan tidak berhenti pada Situbondo dan Serang, tetapi berkembang dengan melibatkan kabupaten/kota serta desa-desa lain di sepanjang jalur bersejarah tersebut. Kemendes PDT, lanjutnya, siap mendukung pengembangan jejaring kerja sama dengan berbagai mitra.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan, inisiatif Anyer–Panarukan 3R berangkat dari pentingnya menghubungkan warisan sejarah dengan kebutuhan masyarakat masa kini. Jalan Raya Pos bukan hanya bagian dari perjalanan sejarah Indonesia, tetapi juga jalur aktivitas ekonomi yang menjadi tumpuan kehidupan banyak warga.
“Tidak hanya sebagai Anyer–Panarukan sebagai eksistensi sejarah, tapi bagaimana masa depan itu juga dijaga. Jalan Anyer–Panarukan itu tumbuh dengan UMKM. Banyak pedagang, kehidupan ekonomi bisnis tumbuh di sana,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan koridor Anyer–Panarukan perlu memperhatikan perubahan pola perjalanan dan persaingan dengan keberadaan Tol Trans Jawa. Jalur lama tetap memiliki peran penting bagi masyarakat, perdagangan, distribusi produk, dan aktivitas ekonomi lokal.
Karena itu, Rio menekankan perlunya upaya bersama untuk menyiapkan daya tarik dan peluang usaha di sepanjang jalur tersebut. Pengembangan destinasi wisata, pusat kuliner, produk UMKM, serta potensi sejarah dan budaya diharapkan dapat memperkuat manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Meskipun sudah ada tol sekarang, tapi saya yakin banyak pengguna jalan yang, apalagi Situbondo itu orang mau ke Bali pasti lewat jalan Anyer–Panarukan. Jadi, kita siapkan, tumbuh kembangnya ekonomi bisnis di sepanjang jalan itu,” jelasnya.
Bagi Situbondo, Panarukan menjadi salah satu simpul penting dalam narasi Jalan Raya Pos. Melalui program ini, Situbondo ingin memperkenalkan kekayaan sejarah dan potensi daerahnya sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, agar wilayah yang selama ini dikenal sebagai jalur lintasan juga berkembang menjadi tujuan wisata, budaya, dan ekonomi. [awi.kt]






