Rangkaian acara pembukaan Munas VI ORSHID di Hotel Yusro, Jombang, Jumat malam (18/09). arif yulianto/bhirawa.
Jombang, Bhirawa. – Organisasi Shiddiqiyyah (ORSHID) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI di Hotel Yusro, Jombang, selama tiga hari, mulai 18 September 2026 hingga 20 September 2026.
Munas ini diikuti sekitar 500 peserta yang terdiri dari perwakilan 15 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), 110 Dewan Pimpinan Daerah (DPD), serta perwakilan dari Malaysia.
Tema yang diusung pada Munas Ke-VI ORSHID adalah ‘Kebangkitan Tasawuf Untuk Indonesia Raya’ dan dibuka oleh Dewan Pemelihara ORSHID, Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtaba Mu’thi.
Turut hadir pada acara pembukaan Munas, Wakil Bupati Jombang, Kemenag Jombang, sejumlah pejabat, tokoh masyarakat, serta perwakilan organisasi di lingkungan Shiddiqiyyah.
Antusiasme peserta terlihat dalam lima sidang komisi yang membahas usulan bidang AD/ART dan Pendidikan, Bidang Kemakmuran, Bidang Organisasi dan Pelestarian, Bidang Hubungan Antar Organisasi, serta Bidang Program Khusus dan Media Informasi.
Pada Munas VI kali ini, terdapat tiga topik baru yang masuk dalam usulan Sidang Komisi, yakni Bidang Pendidikan, Keprotokoleran dan Media Informasi, serta Adopsi Digital.
Ketiga isu itu menjadi penanda bahwa ORSHID berkomitmen menjawab tantangan zaman melalui transformasi organisasi yang adaptif.
Pada Munas VI, peserta akan mendengar Laporan Pertanggungjawaban Ketua Umum DPP ORSHID periode 2021–2026, Joko Herwanto, S.Sos.
Sesi ini menjadi sorotan karena sejumlah capaian program kerja akan dilaporkan secara tuntas.
Salah satu capaian unggulan yakni, pertumbuhan anggota Koperasi Khozanah Shiddiqiyyah (KKS) yang telah mencapai 13.500 orang.
Dengan menggunakan sistem ta’awanu (tolong-menolong) tanpa jaminan, KKS dinilai telah membantu kemandirian ekonomi warga Shiddiqiyyah dan masyarakat umum.
Selain itu, produk KKS yang menarik perhatian adalah Pinjaman Pelajar untuk pembiayaan pendidikan. Termasuk pemberian santunan sebesar Rp7 juta untuk seluruh anggota yang meninggal dunia.
Sebelum Munas VI berakhir, agenda yang tak kalah dinanti yakni pemilihan Ketua Umum baru ORSHID periode 2026–2031.
Sejumlah nama telah dijaring dari tiap DPD dan DPW, dengan aturan setiap wilayah hanya dapat mengusulkan tiga nama calon kandidat.
“Proses penjaringan calon Ketua Umum akan diserahkan kepada panitia MUNAS yang kemudian tiga nama tertinggi akan dimusyawarahkan dan ditetapkan sebagai Ketua Umum Baru DPP ORSHID,” kata Joko Herwanto.
Joko Herwanto menyampaikan, Munas tidak hanya membahas program kerja, namun juga menentukan arah organisasi Shiddiqiyyah 2026–2031.
Kaderisasi menjadi agenda penting yang harus dipastikan untuk menjaga keberlangsungan organisasi dalam menjawab tantangan zaman.
Joko Herwanto menambahkan, kapasitas dan integritas kader terbaik ORSHID telah dipersiapkan untuk meneruskan gerak langkah perjuangan organisasi, yakni memfaktakan manunggalnya kesadaran beragama dan berbangsa bernegara sebagai wujud cinta tanah air Indonesia.
Inovasi dan perubahan konstruktif dalam organisasi Shiddiqiyyah akan menjadi bahasan dan keputusan Munas VI.

Terkait mekanisme pemilihan, Joko Herwanto menegaskan, sistem pemilihan ketua umum mengedepankan musyawarah mufakat dengan tetap memberikan penghormatan terhadap aspirasi dan hak suara peserta Munas, baik di tingkat pusat, wilayah, maupun daerah.
“Usulan calon nama Ketua Umum dari peserta Munas VI akan ditabulasi hingga terpilih nama calon suara terbanyak yang selanjutnya kandidat ini bermusyawarah didampingi oleh tiga Dewan Penasehat ORSHID dan ketua Sidang MUNAS VI hingga diputuskan secara musyawarah ketua umum baru,” beber Joko Herwanto.
Dikatakannya, proses tersebut adalah wujud kedewasaan berorganisasi melalui musyawarah, bukan voting atau suara terbanyak sehingga tidak menimbulkan potensi konflik dan perpecahan dalam tubuh organisasi.
“Ketua umum bukan posisi yang diperebutkan dengan segala cara, namun sebuah amanah yang harus dilakukan dengan rasa ikhlas dan tanggung jawab,” pungkas Joko Herwanto.
Untuk diketahui, Organisasi Shiddiqiyyah yang didirikan pada tahun 2001 hingga saat ini telah menggelar Munas di berbagai tempat. Seperti Yogyakarta, Magelang, Bali, dan Jombang. Munas VI di Jombang menjadi momentum penting dalam menentukan arah perjuangan organisasi lima tahun ke depan.(rif.hel)


