Oleh :
Wempi Roberto Goa
Pustakawan Disperpusip Jawa Timur
Di bulan September ini, tepatnya di tanggal 14 yang lalu Perpustakaan di Indonesia memperingati hari kunjung perpustakaan (HKP). Momen yang diperingati setiap tahun oleh kawanan perpustakaan di Indonesia ini menjadi penting bagi kemajuan bangsa. Peringatan yang diharapkan dapat meningkatkan kunjungan masyarakat ke perpustakaan merupakan langkah dasar bahwa perpustakaan merupakan rumah pembelajaran sepanjang hayat bagi semua orang “tak terkecuali”. Dalam sejarahnya, hari kunjung perpustakaan dimunculkan pada tahun 1995 di masa pemerintahan Presiden Kedua RI, Soeharto. Momen tersebut ditekankan akan pentingnya kesadaran berliterasi bagi generasi anak bangsa.
Momen tersebut menjadi pengingat betapa pentingnya peran perpustakaan di tengah kehidupan masyarakat serta memperkuat peradaban dan pengetahuan bangsa. Termasuk dalam menumbuh kembangkan minat baca masyarakat yang maju dan sejahtera. Lebih dari pada itu, peringatan hari kunjung perpustakaan yang dibarengi dengan bulan gemar membaca ini dibuat untuk memotivasi masyarakat agar lebih sering datang dan memanfaatkan fasilitas perpustakaan dimanapun berada. Namun yang menjadi pertanyaan, seberapa besar masyarakat ingin dan antusias memanfaatkan perpustakaan dalam memenuhi dirinya dalam berliterasi. Kedua, apakah amanat tersebut terus diperjuangkan dan tergapai maksimal oleh semua pihak.
Pertanyaan tersebut menjadi tantangan generasi saat ini dan mendatang, bagaimana perpustakaan menjadi jembatan penghubung tercapainya kecerdasan dan kesejahteraan bagi anak bangsa. Apalagi di tahun 2045, Indonesia menjemput generasi emas yang digadang-gadang sebagai masa keemasan dalam kemajuan secara holistik karena bonus demografi sebagai poin unggulan di depan mata.
Mirisnya, perpustakaan dianggap tak seberapa penting dan bahkan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Lembaga yang ngurusi literasi dan kegiatannya itu semestinya dipandang sama dengan lembaga lain. Tidak hanya perpustakaan yang dibangun pemerintah saja. Perpustakaan lain yang diwujudkan di setiap sekolah dasar hingga perguruan tinggi, lembaga pemerintah sekelas organisasi pemerintah daerah serta di tengah-tengah masyarakat seperti tempat baca masyarakat memperlihatkan betapa pentingnya peran perpustakaan dalam merangsang masyarakat untuk berliterasi. Mengapa demikian, karena melalui berdirinya perpustakaan dimanapun berada memberikan wadah bagi siapapun untuk memahami berbagai hal, termasuk dalam membangun intelektual dan berbagai pengetahuan.
Meski perjuangannya terbilang tak mudah membalikkan telapak tangan dan berjalan tertatih-tatih, namun semangat untuk menggemakan suara “gong” berkunjung ke perpustakaan menjadi pertanda betapa pentingnya literasi bagi setiap insan di Indonesia. Apalagi persoalan kesadaran membaca saat ini masih jauh panggang dari api. Melihat dari indeks pembangunan literasi masyarakat (IPLM) secara nasional menurut data BPS 2025 diperkuat dengan Peraturan Perpusnas No. 7 Tahun 2025 (formulasi metodologi baru) menyebutkan bahwa tatarannya pada kategori rendah dengan nilai 40,06.
Nilai tersebut mencakup data satu tahun terakhir dari 1 Oktober 2024 hingga 30 September 2025. Instrumen penilaiannya pun disederhanakan menjadi dua dimensi utama yakni kepatuhan (koleksi dan SDM) serta kinerja (layanan, pemanfaatan, budaya literasi, dan pengelolaan). Melihat kondisi tersebut, setidaknya momen peringatan hari kunjung perpustakaan yang sudah diperingati selama 31 kali dari masa ke masa itu menjadi perenungan bersama. Bagaimana peran perpustakaan berdiri menjadi motor penggerak bergemanya literasi di tengah-tengah masyarakat.
Jika pemerintah saat ini tengah berjuang membangun generasi anak bangsa melalui program makan bergizi gratis (MBG), setidaknya dibarengi dengan asupan literasi yang seimbang. Hal itu tak ubahnya semboyan latin yang berbunyi Mens Sana in Corpore Sano. Dimana di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Maknanya cukup jelas. Ketika terbangunnya tubuh yang sehat maka asupan literasi yang tepat dapat terbangunnya jiwa yang kuat. Sehingga, sumber daya manusia yang diharapkan dapat berseiring terbangun dan berdiri kokoh nyata dan maksimal.
Mengutip Drs. Hartono SS, MHum dalam bukunya berjudul “Kompetensi Pustakawan Profesional” menyebutkan bahwa derasnya arus globalisasi dan era informasi disertai kondisi bangsa yang sedang mengalami krisis multidimensi merupakan tantangan dalam pelaksanaan pembangunan bangsa. Perkembangan informasi yang sedemikian pesat mengakibatkan tugas lembaga yang bergerak dalam bidang informasi dan perpustakaan menjadi semakin berat. Untuk menghadapi tantangan tersebut, perpustakaan harus lebih efektif dan efisien dalam memanfaatkan sumber dana dan sumber daya manusianya.
Ditambah lagi, visi bangsa Indonesia Emas 2045 yang menuntut kesiapan sumber daya manusia yang unggul, kreatif, dan adaptif dalam menghadapi pesatnya kemajuan teknologi digital menjadi acuan bagaiama perpustakaan berperan penting dalam membentuk karakter dan keterampilan abad ke-21. Salah satu contohnya yakni berkembangnya teknologi implan chips yang dikembangkan oleh salah satu startup ternama di dunia menampakkan betapa kemajuan ini semakin canggih bagaimana teknologi brain computer interface (BCI) berkembang pesat di depan mata. Manusia diajak untuk berlari dan melompat ke era yang mungkin tak bisa terbendung lagi. Bahkan tak dipungkiri lagi, manusia “dipaksa” mengikuti dan diwajibkan untuk mengekor tren tersebut.
Bagaimana dengan perpustakaan sendiri. Di peringatan hari kunjung perpustakaan yang sudah berjalan 31 tahun ini apakah bisa menjadi pemahaman bersama menyikapi kemajuan teknologi yang berkembang pesat untuk memberikan layanan maksimal kepada masyarakat dengan memerankan teknologi sebagai tool pekerjaannya. Dengan demikian, penguatan literasi digital sejak sekolah dasar merupakan langkah strategis dalam mempersiapkan generasi yang cerdas, kritis, dan berdaya saing, sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dan Visi Indonesia Emas 2045.
Sehingga, berkaca pada kutipan Drs. Hartono SS, MHum di atas menjadi tantangan bagi para pustakawan yang bergelut di dunia perpustakaan dan informasi dalam memikirkan peran perpustakaan kedepan yang penuh dinamika teknologi serba canggih. Apalagi roh perpustakaan yang bisa dikata sebagai ibunya peradaban menjadi episentrum untuk membangkitkan pembangunan segalanya. Meski tak mau dibilang pesimistis, kawanan perpustakaan masih perlu berbenah. Apalagi di peringatan hari kunjung perpustakaan tahun ini memiliki pekerjaan rumah yang besar dengan tuntutan zaman yang serba cepat. Tidak hanya sekedar bagaimana cara jitu meningkatkan kegemaran membaca dan menanamkan kebiasaan datang ke perpustakaan sejak dini saja, tetapi mendorong masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas dan sumber informasi yang disediakan oleh perpustakaan dengan memanfaatkan teknologi di seluruh wilayah Indonesia dapat berseiring. Termasuk menjadi wadah positif bagi gerakan aktivis intelektual dalam mencerdaskan generasi bangsa. Harapannya, ada kebijakan nasional yang fundamental dalam memperhatikan berdirinya perpustakaan di desa-desa hingga pelosok wilayah. Ini menjadi kunci penting dalam membangun literasi di tengah-tengah masyarakat.
Jauh lebih penting lagi bahwa pekerjaan rumah yang perlu mendapatkan headline bersama yakni tingginya minat dan kunjungan masyarakat atas perpustakaan membutuhkan variasi koleksi, aksesibilitas informasi, dan penguatan dalam penghimpunan berbagai koleksi yang disiapkan. Apalagi literasi menjadi pintu jendela semua pengetahuan bagi setiap insani di muka bumi ini dalam berpikir, berintelektual, bermasyarakat dan berpengetahuan tinggi untuk mengisi, menggapai dan memperjuangkan kemajuan isi planet dan masa depannya. Sehingga, dalam menapaki Indonesia Emas 2045 yang ditancapkan oleh pemerintah perlu fondasi penting untuk diwujud nyatakan, termasuk aspek literasi.
Menyoroti semangat nasionalisme melalui literasi kebangsaan dengan memupuk rasa cinta tanah air, rela berkorban, menghargai keragaman bagi bangsa Indonesia, berharap agar para kawanan perpustakaan tetap berkarya, terus bersemangat, disiplin, berkreasi, berinovasi, serta tetap melaksanakan tugas dan kewajibannya untuk mencintai pekerjaan dan melayani sepenuh hati. Selamat hari kunjung perpustakaan. Semoga salam literasi untuk kesejahteraan terus bergema sampai kapanpun.
————- *** ————–


