Jember, Bhirawa – Ada tradisi yang bertahan karena terus diselenggarakan. Namun ada pula tradisi yang bertahan karena telah hidup di hati masyarakat. Gerak Jalan Tanggul–Jember Tradisional atau TAJEMTRA menjadi salah satunya.
Jejak Tajemtra telah dimulai sejak 1977. Dari generasi ke generasi, masyarakat menempuh perjalanan panjang dari Tanggul menuju Jember. Hampir setengah abad berlalu, rute itu tetap menjadi saksi ribuan bahkan puluhan ribu langkah masyarakat yang datang dengan satu semangat: berjalan bersama hingga garis akhir.
Tajemtra bukan sekadar lomba berjalan kaki. Di balik perjalanan sekitar 30 kilometer itu tersimpan cerita tentang ketahanan, disiplin, persaudaraan, gotong royong, dan kebanggaan sebagai masyarakat Jember.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jember, Regar Jeane, S.STP., M.Si., mengatakan kekuatan utama Tajemtra justru terletak pada kemampuannya mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu perjalanan.
“Sejak 1977 sampai hari ini, generasinya berganti tetapi semangat Tajemtra tetap sama. Di sepanjang perjalanan tidak ada sekat. Pelajar, masyarakat umum, komunitas, ASN, pekerja, tua maupun muda berjalan di jalur yang sama dan menuju garis finis yang sama. Inilah salah satu wajah kebersamaan masyarakat Jember,” ujar Regar.
Menurutnya, perjalanan Tanggul–Jember juga memiliki filosofi yang kuat. Untuk mencapai garis finis, peserta tidak cukup hanya mengandalkan kecepatan. Mereka membutuhkan ketahanan, konsistensi, kekompakan dan kemampuan saling menguatkan.
“Tajemtra mengajarkan kita satu hal sederhana: perjalanan panjang akan terasa lebih ringan ketika ditempuh bersama. Ada yang lelah, ada yang menyemangati. Ada yang tertinggal, ada yang menunggu. Semangat seperti inilah yang harus terus kita jaga dalam membangun Jember,” katanya.
Dalam perjalanannya, Tajemtra juga tumbuh menjadi pesta rakyat. Masyarakat tidak hanya menjadi peserta, tetapi turut menjadi bagian dari kemeriahan di sepanjang rute. Dukungan warga, aktivitas UMKM, kreativitas peserta, yel-yel, kostum hingga berbagai hiburan menjadikan Tajemtra mempunyai karakter yang berbeda dari kegiatan olahraga pada umumnya.
Tradisi tersebut bahkan terus menunjukkan daya hidupnya. Pada Tajemtra 2026, jumlah peserta tercatat mencapai 25.613 orang, menjadi angka tertinggi dalam catatan pelaksanaan sejak 2015. Mereka akan menempuh lintasan sekitar 29,4 kilometer, mulai dari Alun-Alun Tanggul hingga Alun-Alun Jember.
Bagi Pemerintah Kabupaten Jember, besarnya antusiasme tersebut menunjukkan bahwa Tajemtra bukan peninggalan masa lalu yang hanya perlu dikenang. Tajemtra adalah warisan hidup yang terus tumbuh mengikuti zaman.
Karena itu, pelestarian Tajemtra ke depan tidak hanya diarahkan agar penyelenggaraannya semakin besar, tetapi juga semakin memberikan dampak bagi masyarakat. Mulai dari menggerakkan ekonomi sepanjang jalur, memberi ruang kepada UMKM dan pelaku kreatif, memperkenalkan potensi daerah hingga memperkuat citra Jember sebagai daerah yang memiliki tradisi besar dan khas.
“Tradisi tidak cukup hanya dipertahankan. Tradisi harus diwariskan kepada generasi berikutnya, dibuat semakin menarik dan memberikan manfaat yang semakin luas. Kita ingin anak-anak muda Jember suatu saat bisa bercerita bahwa mereka pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang Tajemtra,” tutur Regar.
Tajemtra 2026 akan kembali digelar pada Sabtu, 5 September 2026. Ribuan masyarakat akan memulai perjalanan dari Alun-Alun Tanggul menuju Alun-Alun Jember.
Dan seperti yang telah dilakukan generasi-generasi Jember sejak 1977, perjalanan itu kembali membawa pesan yang sama:
boleh berbeda langkah, boleh berbeda kecepatan, tetapi Jember bergerak menuju tujuan yang sama.
Tajemtra bukan sekadar 30 kilometer perjalanan. Tajemtra adalah puluhan tahun kebersamaan yang terus berjalan. (geh.kt)

