27 C
Sidoarjo
Thursday, September 3, 2026
spot_img

Gen Z dan Humanisasi

Oleh :
Nurul Yaqin
Guru SMPIT Annur Cikarang Timur Bekasi. Alumnus Pascasarjana Unsika Karawang.

Saat ini usia produktif mengalami transisi peran antargenerasi -generasi boomers (1946-1964) digantikan oleh generasi Z atau Gen Z (1997-2012). Dan Gen Z mendominasi jumlah penduduk Indonesia saat ini. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 oleh BPS per 5 Mei 2026 jumlah Gen Z telah mencapai 24,93 persen. Kisaran 71,8 juta jiwa dari populasi penduduk Indonesia.

Gen Z lahir dari rahim teknologi yang sejak awal telah mengenal dunia digital sehingga menciptakan bonding yang berbeda dari generasi sebelumnya. Bonding ini kemudian melahirkan karakter-karakter unik di tengah mobilitas hidup yang semakin rumit.

Bagi mereka, kecanggihan digital bukan lagi sekadar alat bantu, akan tetapi menjadi rumah hidup. Relasi antara Gen Z dengan dunia digital menciptakan dunia baru untuk melampiaskan segala bentuk ekspresi. Bahagia, emosi, suka, dan duka kerap menghiasi caption di beranda media sosial.

Gen Z menghadapi realita hidup tanpa sekat. Dari bangun tidur mereka telah dibayang-bayangi bunyi notifikasi, kerja di depan layar nyaris tanpa henti, dan konten media sosial yang menjadi bestie menyebabkan mereka terjebak pada kecemasan menjelang tidur di malam hari.

Tidak hanya itu, tekanan (pressing) dunia kerja yang merupakan warisan generasi milenial seperti lembur tanpa batas, target perusahaan yang berlebihan, relasi kuasa yang saklek antara atasan dan bawahan, kompetensi kerja yang kurang sehat, dan ketidakpastian karier telah memantik generasi Z untuk melawan. Melawan bukan berarti pasang badan dan berkoar-koar, tapi dalam bentuk algoritma kritis massal yang bergerak dalam diam.

Berita Terkait :  Bupati Situbondo dan Sekda Minta Kades/Lurah Jaga Netralitas Pilkada 2024

Stigma
Kenyataan di atas memunculkan stigma sepihak yang melekat pada diri Gen Z. Diantaranya, pertama, klaim manja dan pemalas. Mereka dianggap sebagai generasi yang tidak memiliki etos kerja tinggi dan cenderung enggan bekerja keras. Kedua, mudah menyerah. Mereka dianggap generasi yang gampang stres dan mudah mengundurkan diri dari dunia kerja yang penuh dengan tekanan.

Ketiga, candu gawai dan minim empati sosial. Mereka juga dianggap sebagai generasi yang memiliki ketergantungan besar terhadap dunia digital dan kurang berinteraksi secara langsung. Dan keempat, menuntut serba instan. Mereka pun diklaim sebagai generasi yang tidak sabaran dan menginginkan hasil besar tanpa proses panjang.

Benarkah semua stigma di atas? Atau hanya bias yang dibawa oleh generasi sebelumnya yang belum terbiasa dengan karakter generasi Z? Atau sekadar gengsi kaum tua untuk mengerdilkan kaum muda dengan dalih lebih tahu untuk memperlebar sekat relasi kuasa?

Realita
Mari kita telaah bersama. Di balik klaim sepihak tentang malas dan enggan bekerja keras, sebetulnya Gen Z hanya ingin mengajarkan kita bahwa mereka bukan tipikal manusia gila kerja (born out). Mereka berupaya mengutamakan keseimbangan antara hidup dan pekerjaan (work-life balance) demi produktivitas hidup jangka panjang.

Stigma Gen Z yang dikenal mudah menyerah pun tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Tuntutan kerja yang intens dan kadang tak manusiawi membuat Gen Z balik badan mencari pekerjaan yang lebih realistis dan masuk akal. Maka meme sarkas di media sosial “Kalau gaji kita 3 juta terus kerja kita seolah-olah digaji 15 juta, maka Tuhan akan memberikan balasan lain, tifus misalnya” itu relate dengan paradigma mereka.

Berita Terkait :  Bupati Mojokerto Sampaikan Pendapat Atas Empat Raperda Inisiatif DPRD

Selanjutnya, generalisasi bahwa Gen Z kecanduan gadget merupakan klaim yang tak bijak. Secara kasat mata interaksi intens antara Gen Z dengan gadget memang tidak elok, tapi di lain sisi hidup saat ini tak bisa lepas dari gawai sebagai support system produktivitas, kreativitas, dan kesehatan mental di era digital.

Kemudian, menganggap Gen Z adalah generasi yang serba instan adalah bentuk salah kaprah yang terlalu jauh. Sebenarnya, mereka hanya ingin lebih mengedepankan kerja cerdas (smart work) dari pada kerja keras (hard work) agar hidup lebih efektif dan bermakna. Terbukti, Gen Z lebih sat-set dalam pengoperasian komputer dan administrasi dari pada generasi sebelumnya.

Humanisasi
Dari fakta di atas sebenarnya Gen Z ingin mengajak kita semua agar kembali pada jati diri manusia seutuhnya yang tak hanya bekerja tapi perlu untuk jeda (humanisasi). Dalam kajian ilmu sosial dan pendidikan humanisasi dipahami sebagai usaha agar manusia tidak hanya diperlakukan sebagai objek, alat, angka statistik atau sekadar komponen ekonomi, melainkan sebagai pribadi yang utuh. Paulo Freire mendefinisikan humanisasi sebagai proses pembebasan manusia sehingga ia dapat menjadi subjek yang sadar, kritis, dan mampu menentukan arah kehidupannya sendiri.

Gen Z hanya ingin mencolek bahu kita sembari berkata “Yuk, healing agar tidak pusing!” dan “Yuk, ngopi biar tidak depresi!”. Hal ini senada dengan yang pernah diucapkan oleh Mahatma Gandhi “There is more to life than increasing it’s speed”, hidup bukan hanya tentang terus meningkatkan kecepatan. Oleh karena itu, generasi pendahulu tidak usah denial bahwa apa yang dibutuhkan Gen Z juga dibutuhkan oleh mereka. Sehingga tak ada lagi generasi tua yang merasa lebih baik, sedangkan Gen Z diklaim lebih buruk. Karena ini bukan hanya tentang generasi, tapi tentang kebutuhan lahiriah dan batiniah manusia sebagai makhluk yang hakiki.

Berita Terkait :  Berpotensi Disalahgunakan, Pemkot Mojokerto Tata Ulang Bekas Sumur Bor Air Hangat

————- *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!