Pemkot Mojokerto, Bhirawa. – Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menegaskan bahwa penanggulangan tuberkulosis (TBC) merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Hal tersebut disampaikan Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota Mojokerto, saat menghadiri Rapat Koordinasi Atasi Tuberkulosis dan Penyakit Menular Lainnya (RADIASI PEMULA) di Kelurahan Purwotengah, Kecamatan Kranggan, Rabu (12/8).
Ning Ita mengatakan, penanganan, pencegahan, dan penanggulangan TBC tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah maupun tenaga kesehatan. Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi masyarakat, institusi pendidikan, organisasi profesi, dunia usaha, media massa, hingga berbagai mitra pembangunan.
Penegasan tersebut sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Menurutnya, kepedulian dan keterlibatan seluruh pihak menjadi kunci untuk melindungi masyarakat dari ancaman penyakit menular tersebut.
“Penanganan, pencegahan, dan penanggulangan TBC menjadi tanggung jawab kita bersama. Kita harus memiliki kepedulian untuk menyelamatkan masyarakat Kota Mojokerto dan masyarakat Indonesia agar terbebas dari TBC,” tutur Ning Ita.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memahami kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar TBC. Selain perokok aktif, perhatian juga perlu diberikan kepada perokok pasif serta masyarakat dengan penyakit penyerta, seperti diabetes, HIV, dan hipertensi.
Menurut Ning Ita, pemahaman mengenai kelompok berisiko penting agar masyarakat dapat melakukan langkah pencegahan sejak dini, mulai dari menjaga kesehatan diri hingga melindungi anggota keluarga.
“Setelah kita mengenali mana saja yang menjadi potensi terpapar TBC, kita harus paham bagaimana mencegahnya. Minimal kita bisa menjaga diri sendiri dan keluarga agar terhindar dari penyakit ini,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Ning Ita menekankan pentingnya skrining dan pelacakan kontak erat atau tracing untuk menemukan kasus TBC sedini mungkin. Langkah tersebut dinilai menjadi salah satu kunci dalam memutus mata rantai penularan di tengah masyarakat.
“Kita harus melakukan skrining dan tracing supaya kasus bisa menemukan penderitanya, berbeda dengan penyakit tidak menular yang cukup dengan pemeriksaan kesehatan,” jelasnya.
Melalui pelaksanaan RADIASI PEMULA, Pemerintah Kota Mojokerto terus memperkuat sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader, RT/RW, dan masyarakat dalam menemukan kasus sekaligus mencegah penularan TBC.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat, mempercepat penemuan kasus, serta memperkuat upaya Kota Mojokerto dalam mencapai eliminasi tuberkulosis.(oky.hel)


