Surabaya, Bhirawa – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya terus mendorong peningkatan kualitas akademik melalui pengembangan karya inovasi mahasiswa. Karya yang dihasilkan dari riset maupun tugas akhir mahasiswa diarahkan tidak berhenti pada penyelesaian studi, tetapi dapat dikembangkan hingga tahap hilirisasi dan komersialisasi.
Rektor Untag Surabaya Harjo Seputro mengatakan, pemilihan karya inovasi menjadi salah satu upaya kampus untuk meningkatkan kualitas akademik sekaligus memotivasi mahasiswa menghasilkan karya ilmiah yang menarik dan memiliki manfaat lebih luas.
“Ini salah satu upaya bagi kami untuk meningkatkan kualitas akademik. Dengan pemilihan karya inovasi yang menarik, banyak mahasiswa akan termotivasi untuk membuat karya ilmiah semenarik mungkin,” ujar Harjo, Rabu (12/8).
Ia menjelaskan, karya-karya inovasi tersebut berasal dari berbagai program studi dan fakultas. Sebagian di antaranya merupakan hasil riset yang dikembangkan dari tugas akhir mahasiswa serta tergabung dalam kelompok riset dengan mengacu pada roadmap penelitian fakultas.
Menurut Harjo, proses pengembangan tidak berhenti pada penelitian. Untag Surabaya melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) memiliki pusat yang berperan dalam pengembangan dan hilirisasi hasil riset mahasiswa maupun dosen. “Hilirisasinya bisa dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat atau komersialisasi. Kita juga mengurus hak kekayaan intelektualnya hingga menuju komersialisasi,” katanya.
Harjo mengatakan, proses pengurusan hak cipta maupun hak kekayaan intelektual (HAKI) terhadap karya mahasiswa terus didorong. Namun, untuk karya pada periode wisuda saat ini, pihaknya masih melakukan pendataan sehingga belum seluruh data karya yang akan diproses HAKI diterima.
“Untuk periode wisuda saat ini belum mendata. Jadi proses untuk hak cipta dan HAKI kita belum menerima datanya. Tapi proses pengembangan ke depan, proses HAKI akan terus dilakukan,” jelasnya.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, Untag Surabaya telah menyiapkan anggaran penelitian internal sekitar Rp2,5 miliar. Anggaran tersebut disalurkan melalui sejumlah skema, mulai dari penelitian dasar, pengembangan, hingga komersialisasi.
“Setelah dosen dan mahasiswa mencapai skema itu, akan berkompetisi di luar. Skema ini untuk meningkatkan daya saing,” ungkap Harjo.
Selain penelitian, pengembangan inovasi juga dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat dengan melibatkan berbagai pihak. Kolaborasi tersebut mencakup perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah, hingga dunia industri.
Kampus juga menyediakan pendanaan untuk skema pelatihan dan pembinaan mahasiswa bersama dosen. Melalui skema tersebut, pengembangan riset diharapkan dapat dimulai sejak penyusunan roadmap hingga menghasilkan produk yang siap dihilirkan.
Harjo mengakui, hasil riset Untag Surabaya yang telah memasuki tahap komersialisasi masih terbatas, terutama pada industri skala kecil. Kendati demikian, kampus terus mendorong agar semakin banyak hasil penelitian mahasiswa dan dosen yang dapat dimanfaatkan masyarakat maupun dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. “Hasil riset yang dikomersialisasi masih terbatas di industri kecil. Tapi terus kami coba,” pungkasnya. [ina.wwn]


