Jombang, Bhirawa – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 tahun 2026 yang akan dilaksanakan pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang dan untuk ikut meramaikan suksesnya muktamar, Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU) mengelar acara bedah buku dan talkshow di Aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 jombang di Tambakberas, Jombang, Sabtu (8/8/2026) bertema; ‘Khittah NU, Kyai, dan Pesantren : Merawat dan Moderasi, Menjega NKRI’ karya Prof. Dr. Drs. HM. Zainuddin, BA., M.A, Rektor UIN Malang Periode 2021 – 2025.
Pemantik acara, Prof. Nur Ali, menyampaikan bahwa, Khittah NU bukan sekedar sebagai dokumen politik kebangsaan tahun 1984 di Situbondo, tetapi harus dijadikan sebagai kompas, dasar, dan arah berpikir serta landasan etik dan moral warga Nahdiyin termasuk para peserta Muktamar NU ke-35 di bumi pendiri dan penggerak NU, yakni KH Wahab Chasbullah.
Sedangkan kiai sebagai pengawal NU dan pesantren sebagai laboratoriumnya akan bertransformasi dengan kebutuhan masyarakat global. Penulis buku yang juga MAN 3 Jombang ini menulis ke mana arah NU di era global, bagaimana peran kiai yang menurut penulis saat ini sudah mulai dan banyak terjadi pergeseran peran kiai di tengah masyarakat.
Pada bagian lain juga mencatat bagaimana seharusnya pesantren, serta bagaimana NU, kiai dan pesantren merawat tradisi dan moderasi dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sejumlah catatan kritis dan analisa dalam buku mantan aktifitas Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini juga banyak memberikan tawaran solusi atas sejumlah analisa yang terjadi di tengah kalangan masyarakat, pesantren dan NU.
“Maka perlu dirumuskan hal-hal yang menyangkut NU ke depan, yaitu bagaimana mempersiapkan pemimpin NU pada muktamar mendatang, dan bagaimana merancang program 5 tahunan ke depan (road map),” kata Prof Zainuddin.
Ditempat yang sama, H Fathul Huda yang merupakan Bupati Tuban dua periode (2011-2021) di Bumi Wali yang juga sebagai salah satu narasumber dan juga alumni Madrasah Muallimin Mualimat (MMA) Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang lebih banyak mengajak kembali meneladani kiprah KH Wahab Chasbullah atau bah Wahab untuk menjawab tantangan NU dan pesantren ke depan.
“Al-Mar’u Ma’a Man Ahabba (seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai), dan apa yang dilakukan Mbah Wahab itu sudah komplit, baik kecerdasan beliau, enerjik dan pemberani mengambil sikap, itu yang harus kita copy paste sebagai santri,” kata H Fathul Huda.
Salah satu putri KH Wahab Chasbullah, Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, MA yang hadir juga merasa prihatin dengan kondisi PBNU saat ini. Disampaikan bahwa warga NU haus akan kepemimpinan yang teduh, Ngayomi dan diteladani.
“Kepemimpinan PBNU harus mencontoh kepemimpinan Kiai Hasyim, Kiai Wahab dan Kiai Bisri,” pesan Nyai Hj. Hizbiyah Rochim.
Untuk diketahui bersama, bahwa bedah buku dan talkshow yang melibatkan putra-putri Mbah Wahab ini diinisiasi oleh para alumni yang sudah menjadi pengasuh pondok pesantren, guru besar, akademisi, dan praktisi untuk ikut mensukseskan Muktamar NU ke-35 di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas.
Ikut hadir pada acara tersebut, Ketua Umum Yayasan Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, KH. Abdur Rozaq Sholeh, Ketua Majlis Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Dr. KH. Hasib Wahab Hasbullah, Kepala MAN 3 Jombang H. Sutrisno, S.Pd., M.E., M.Pd, juga Ketua Panitia Prof. Dr. Hj. Evi Fatimatur Rusydiyah, M.Ag. dan pemantik bedah buku Prof. Dr. Drs. H. Nur Ali., M.Pd yang juga Ketua Ikatan Alumni MAN 3 Jombang dan Ketua Senat UIN Malang. Sementara untuk penutup dan doa dipimpin oleh KH. Moh. Syifa’ Malik, M.Pd.I, yang merupakan Sekretaris Yayasan UNWAHA jombang. [rif.kt]


