27.2 C
Sidoarjo
Sunday, August 2, 2026
spot_img

Aries Agung Paewai Pemimpin Bertangan Dingin di Catatan Quattrick Juara Umum LKS Dikmen 2026


Dindik Jatim, Bhirawa – Empat kali berturut-turut menjadi juara umum bukanlah prestasi yang lahir secara kebetulan. Di balik dominasi Jawa Timur dalam ajang Lomba Kompetensi Siswa Pendidikan Menengah (LKS Dikmen) Tingkat Nasional, terdapat proses panjang, strategi pembinaan yang terukur, serta kolaborasi kuat antara pemerintah daerah, sekolah, guru pembimbing, tenaga ahli, dan dunia industri.

Tahun 2026 kembali menjadi saksi ketangguhan kontingen Jawa Timur. Provinsi ini berhasil mempertahankan gelar juara umum setelah membukukan 30 medali, terdiri atas 18 medali emas, tujuh medali perak, dan lima medali perunggu.

Raihan tersebut menempatkan Jawa Timur di atas DKI Jakarta yang berada di posisi kedua dan Jawa Tengah di posisi ketiga. Prestasi ini sekaligus mengukuhkan Jawa Timur mencetak quattrick atau empat kali berturut-turut menjadi juara umum LKS tingkat nasional sejak 2023.

Keberhasilan tersebut menjadi semakin istimewa karena diraih dalam tempat dan format penyelenggaraan yang berbeda-beda. Pada 2023, Jawa Timur menjadi juara umum saat LKS Nasional diselenggarakan di Surabaya, Jawa Timur. Gelar tersebut kemudian dipertahankan pada 2024 di Provinsi Lampung.

Pada 2025, Jawa Timur kembali menjadi yang terbaik ketika kompetisi berlangsung di sejumlah lokasi di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Tahun 2026, di tengah perubahan format kompetisi menjadi hibrida dengan pelaksanaan di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, Jawa Timur kembali berdiri di podium tertinggi.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengatakan konsistensi tersebut menunjukkan bahwa kemenangan Jawa Timur bukan semata-mata karena faktor tuan rumah maupun keberuntungan, tetapi merupakan hasil pembinaan yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

Sejak dipercaya memimpin Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Aries menempatkan peningkatan kualitas pendidikan vokasi sebagai salah satu prioritas.

Baginya, LKS bukan sekadar perlombaan untuk memperebutkan medali. Ajang tersebut merupakan barometer mutu pendidikan vokasi sekaligus sarana untuk mengukur kesiapan murid SMK dalam menghadapi standar dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja.

Berita Terkait :  Penyampaian Nota Penjelasan DPRD Kota Madiun Atas 3 Raperda, Inisiatif DPRD Tahap I Tahun 2026

“Target kita jelas, yaitu memberikan hasil terbaik di tingkat nasional. Kompetitor kita juga sangat kuat, terutama Jawa Tengah dan DKI Jakarta yang setiap tahun selalu kita perhitungkan. Karena itu, seluruh persiapan harus dilakukan secara matang, terukur, dan terus dievaluasi,” ujar Aries di Surabaya, Minggu (2/8).

Seleksi Ketat hingga Training Center
Strategi pembinaan dimulai melalui seleksi berjenjang untuk menjaring murid terbaik dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur. Peserta yang lolos di tingkat provinsi tidak langsung diberangkatkan ke kompetisi nasional.

Mereka terlebih dahulu menjalani pemusatan latihan atau training center secara intensif selama satu hingga tiga bulan. Durasi dan pola pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik masing-masing bidang lomba.

Pelatihan dilaksanakan di sekolah, lembaga pelatihan, maupun fasilitas milik dunia usaha dan dunia industri. Kemampuan peserta terus diasah, mulai dari ketelitian, kecepatan, penguasaan alat, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, hingga penyelesaian pekerjaan sesuai standar kompetisi dan standar industri.

Dinas Pendidikan Jawa Timur juga melakukan pemetaan kekuatan setiap bidang lomba. Hasil kompetisi tahun sebelumnya dianalisis untuk mengetahui keunggulan yang perlu dipertahankan serta kekurangan yang harus segera diperbaiki.

“Kita tidak hanya melihat berapa medali yang diperoleh, tetapi mengevaluasi setiap bidang lomba. Kita pelajari bagian mana yang sudah kuat, apa yang masih menjadi kelemahan peserta, serta bagaimana perkembangan kompetitor dari provinsi lain,” jelasnya.

Libatkan Industri dan Mantan Juara WorldSkills
Persiapan menuju tingkat nasional bahkan telah dilakukan sejak penyelenggaraan seleksi tingkat Provinsi Jawa Timur. Dinas Pendidikan menghadirkan tenaga ahli dari industri, praktisi profesional, serta mantan juara dan peserta WorldSkills untuk memberikan penilaian dengan standar tinggi.

Soal dan materi simulasi dirancang mendekati kondisi kompetisi nasional. Peserta juga dihadapkan pada mystery box, yakni tantangan yang baru diketahui ketika perlombaan berlangsung.

Berita Terkait :  Pemkot Malang Gempur Peredaran Rokok Ilegal dan Gencarkan Edukasi pada Masyarakat

Metode tersebut diterapkan agar peserta tidak hanya terampil mengerjakan soal yang sudah dipelajari, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi saat menghadapi situasi dan persoalan baru.

“Soal-soal yang kita siapkan harus mendekati standar nasional, termasuk adanya mystery box. Tenaga ahli dari industri dan mantan juara WorldSkills juga menerapkan standar yang tinggi. Dari proses itulah kita dapat menentukan peserta terbaik yang benar-benar siap mewakili Jawa Timur,” kata Aries.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan kebutuhan industri berlangsung sangat cepat. Karena itu, peserta tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan teknis, tetapi juga harus mempunyai kreativitas, daya analisis, kemampuan berkomunikasi, dan keterampilan menyelesaikan masalah dalam waktu terbatas.

Kemampuan Teknis Harus Diikuti Mental Juara
Selain kemampuan teknis, penguatan mental bertanding menjadi bagian penting dalam pembinaan kontingen Jawa Timur. Tekanan di arena kompetisi nasional kerap menjadi pembeda antara peserta yang memiliki kemampuan dengan peserta yang mampu mengubah kemampuan tersebut menjadi prestasi.

Selama pemusatan latihan, para peserta dibiasakan menghadapi simulasi perlombaan dengan batas waktu, standar penilaian, tekanan, dan suasana yang mendekati kompetisi sesungguhnya.

Kedisiplinan, kepercayaan diri, kemampuan mengendalikan emosi, serta kesiapan menerima hasil evaluasi terus ditanamkan kepada seluruh peserta.

“Peserta harus memiliki keterampilan sekaligus mental juara. Kemampuan teknis yang tinggi harus diikuti ketenangan, keberanian mengambil keputusan, disiplin, dan kepercayaan diri ketika berada di arena lomba,” tegas Aries.

Dinas Pendidikan Jawa Timur bersama Bidang Pembinaan Pendidikan SMK, MKKS SMK, kepala sekolah, guru pembimbing, mentor, dan pendamping juga melakukan pemantauan secara berkala. Setiap perkembangan peserta dicatat dan dievaluasi agar kekurangan yang muncul dapat segera diperbaiki sebelum kompetisi nasional.

Pendampingan tidak berhenti ketika peserta diberangkatkan. Selama perlombaan berlangsung, tim pendamping terus memastikan kebutuhan teknis, kesehatan, kesiapan mental, dan konsentrasi setiap peserta tetap terjaga.

Berita Terkait :  Disdikbud Jombang Gelar Bimtek Penjaminan Mutu Pendidikan Pengawas SD

Apresiasi sebagai Pemantik Prestasi
Motivasi peserta juga dibangun melalui pemberian apresiasi. Menurut Aries, penghargaan bukan semata-mata hadiah, melainkan bentuk pengakuan terhadap kerja keras murid, guru pembimbing, mentor, sekolah, dan seluruh pihak yang telah membawa nama baik Jawa Timur.

Apresiasi tersebut diharapkan menjadi pemantik agar para juara tidak berhenti setelah meraih medali nasional, tetapi terus mengembangkan kompetensinya menuju ajang ASEAN Skills, WorldSkills Asia, hingga WorldSkills Competition.

“Medali nasional bukan titik akhir. Anak-anak yang sudah menunjukkan kemampuan terbaik harus terus dibina agar mempunyai kesempatan membawa nama Indonesia di kompetisi tingkat regional dan internasional,” ungkapnya.

Aries menegaskan, keberhasilan mencetak empat gelar juara umum secara berturut-turut bukanlah prestasi satu orang maupun satu institusi. Capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif Gubernur Jawa Timur, Dinas Pendidikan, cabang dinas, sekolah, kepala sekolah, guru produktif, pembimbing, mentor, industri, orang tua, serta perjuangan para murid.

“Quattrick ini menjadi bukti bahwa kompetensi murid dan guru produktif SMK Jawa Timur patut diperhitungkan. Namun, keberhasilan ini bukan alasan untuk cepat berpuas diri,” katanya.

Menurut Aries, tantangan pendidikan vokasi ke depan semakin kompleks seiring dengan perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial, otomasi, ekonomi digital, serta perubahan kebutuhan dunia kerja.

Karena itu, pembinaan kompetensi tidak boleh hanya diarahkan untuk memenangkan perlombaan, tetapi harus berdampak terhadap peningkatan mutu pembelajaran dan kesiapan seluruh lulusan SMK Jawa Timur.

“Prestasi ini bukan akhir, melainkan energi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan vokasi. Target besarnya adalah melahirkan sumber daya manusia Jawa Timur yang kompeten, berkarakter, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global,” pungkas Aries.

Keberhasilan Jawa Timur dalam mencetak Quattrick tak lepas dari tangan dingin Aries Agung Paewai sebagai penggerak kolaborasi dan pembangunan sistem. Capaian ini sekaligus menjadi bukti bahwa sinergitas antara pendidikan vokasi dan DUDI harus terus dirawat dan ditingkatkan. [ina]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!